Jumat, 27 Desember 2013

MANUSIA TAHU AKAN KETAHUANNYA

MANUSIA TAHU AKAN KETAHUANNYA

Seberapa dalam kamu mengenal dirimu? Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu. Kenal disini bukan hanya sebatas mengenal “saya tahu nama saya Adi, saya lahir pada tanggal sekian, alamat saya disana, ibu saya si anu dan pekerjaannya anu, ayah saya si anu dan pekerjaannya anu”. Kalau hanya itu yang kamu kenal dari dirimu, berarti dirimu hanyalah sebatas curriculum vitae.
Pasti kamu pernah mendengar 4 sifat manusia, mungkin sebagian dari kita lupa bahkan tidak menyadarinya. Jangan khawatir! Masih belum terlambat...
1.      Manusia yang tidak tahu dalam ketidaktahuannya
2.      Manusia yang tahu akan ketidaktahuannya
3.      Manusia yang tidak tahu dalam ketahuannya
4.      Manusia yang tahu akan ketahuannya

Disini saya akan mencoba untuk menjelaskan tipe manusia yang ke empat yaitu Manusia Tahu Akan Ketahuannya
Jika kamu sudah mengenal dirimu, maka kamu akan masuk kategori manusia yang keempat. Manusia yang tahu bahwa dirinya tahu. Orang ini tidak akan menyia-nyiakan ketahuannya dengan hal-hal yang hanya membuat kontroversi, dengan ketahuannya dia akan membuat hal yang justru akan membuat persatuan. Karena dia tidak akan bertindak dengan hal yang tidak diketahuinya. Orang ini termasuk orang yang sangat berhati-hati. Maka beruntunglah kamu yang menjadi orang keempat ini.orang yang tahu dan dia menyadari bahwa dirinya tahu. Inilah orang alim, bertanyalah kepadanya. Kesadarannya diwujudkan dengan mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Inilah orang yang terpuji. Dia hanya akan menjelaskan sepanjang dimana yang dia tahu. Dia akan mengakui, bahkan menyingkapkan dimana letak ketidaktahuannya. Dia tidak merasa terintimidasi dengan apa yang dia tidak tahu. Tapi tidak berhienti di situ. Dia akan mencari pengetahuan itu demi pengetahuan itu sendiri. Mencari bukan untuk citra,seperti anak sekolah yang tidak tahu untuk apa dia sekolah hanya sekadar mendapat nilai bagus saja. Dan bukan juga menggali pengetahuan untuk unggul dari teman. Dia sadar, belajar untuk hanya unggul dari teman hanyalah akan memupuk kesombongan. Kesombongan itu sendiri akan mencelakakan, akan menghempaskan dan membinasakan yang memeliharanya. Di sinilah dampak negative kompetisi. Pribadi yang picik, merupakan kulminasi ekstrim kompetisi.
Orang yang tahu dimana tahunya dan dimana tidak tahunya, itulah seorang terpelajar. Dan terpelajar bukan hanya soal pengetahuan saja. Tetapi juga menyangkut moralitas, dan mumpuni – penguasaan terhadap suatu bidang keilmuan tanpa terjebak spesialisai.
Sepantasnya kita mengaca diri, termasuk tipe manakah kita? Yang jelas, selagi kita masih mau belajar, maka terhitung sebagai orang yang terpuji.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.