Tampilkan postingan dengan label Laporan Genetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Genetika. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

LAPORAN\LAPORAN GENETIKA (Peranan Gen Yang Dipengaruhi Seks)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jenis kelamin (seks) kita merupakan salah satu karakteristik fenotipe kita yang lebih nyata. Meskipun perbedaan anatomis dan fisiologis antara pria dan wanita banyak. Dasar komponen seksnya sedikit lebih sederhana pada manusia dan manusia lain seperti pada lalat buah. Ada dua varietas kromosom seks yang dilambangkan simbol X dan Y.
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya. Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Misalnya pada manusia sistem yang digunakan yaitu X-Y. Akan dihasilkan betina normal jika kromosom seksnya XX dan dihasilkan jantan normal jika kromosom seksnya XY. Umumnya, penentuan sifat terpaut seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y.
Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin, tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. keadaan yang demikian disebut dengan  sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhi jenis kelamin.
Berdasarkan hal tersebut, maka praktikum ini dilakukan. Dalam percobaan ini kita akan mempelajari lebih jauh tentang adanya sifat yang terpaut dengan kromosom seks.

B.     Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah menentukan genotipe diri sendiri berdasarkan ukuran jari telunjuk.
                                                                                                                                                                     

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Genetika merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi pada organisme maupun suborganisme. Adapula dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu gen. Terdapat sifat keturunan yang ditentukan oleh gen yang terdapat Dalam autosom. Seperti halnya pada saat mempelajari menurunnya warna bunga pada tanaman atau sifat albino pada manusia, keturunan F1 maupun F2 tidak pernah disebut-sebut jenis kelaminnya. Selain itu pada manusia, sifat-sifat yang menurun dikenal dengan istilah hereditas. Biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki jantan atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif, pengaruh dominan itu akan menampakkan diri dalam fenotipe. Beberapa contoh dari gen yang dominansinya dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah kepala botak dan jari telunjuk[1].
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya. Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang menggunakan sistem X-0 (22 + X Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-W (76 + ZZ Jantan; 76 + ZW Betina), dan pada lebah sistem haplo-diploid (haploid Jantan, diploid Betina). Sedangkan pada manusia, sistem yang digunakan adalah X-Y. Betina normal akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan jantan normal jika kromosom seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara anatomi baru akan mulai terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena sebelum waktu itu, bentuk gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah menjadi ovarium atau testis, terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio tersebut elain untuk menentukan jenis kelamin, kromosom seks pada manusia juga memiliki banyak gen, khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya sama dengan pewarisan yang lain. Namun perlu dicatat, bahwa alel terpaut seks dari seorang ayah akan diwariskan kepada seluruh anak perempuannya, tetapi anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun dari alel tersebut. Berbeda sekali dengan seorang ibu yang bisa mewariskan alel terpaut seksnya kepada anak laki-laki dan perempuannya. Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y[2].
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya. Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Misalnya pada manusia sistem yang digunakan yaitu X-Y. Akan dihasilkan betina normal jika kromosom seksnya XX  dan dihasilkan jantan normal jika kromosom seksnya XY. Umumnya, penentuan sifat terpaut seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y[3].
Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin, tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. keadaan yang demikian disebut dengan  sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhi jenis kelamin[4].
Semua jenis keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka ditentukan oleh gen yang terdapat pada autosom. Selain gen-gen dikenal pula gen-gen yang demikian ini disebut gen-gen terangkai kelamin. Peristiwa dinamakan rangkai kelamin atau dalam inggrisnya disebut Sex Lingkange. Biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki atau jantan maupun perempuan atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotif. Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kanan kiri pada suatu alas yang terdapat suatu garis mendatar sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka kita dapat ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang atau apakah lebih pendek dari jari manis. Pada kebanyakan orang jari telunjuk tidak akan mencapai garis tersebut yang mengidentifikasi bahwa suatu individu-individu mungkin mempunyai kandungan gen absolute yang sama ketidakaktifan kromosom menciptakan sub populasi dengan membedakan kandungan gen aktif[5].




[1]Campbell, Biologi (Jakarta: Erlangga, 2002), h.97.
[2]Shykill, Gen Yang Dipengaruhi OLeh Jenis Kelamin, http:www//Shykill.blogspot.com. gen-yang-dipengaruhi-oleh-jenis-kelamin.html (24 Desember 2009).

[3]Suryo, Genetika Strata 1, (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2008), h. 204.
[4]Ibid.

[5]Kimball, John. Biologi (Jakarta: Erlangga, 1983), h. 213.
                                                                                                                                                       

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari/tanggal                : Kamis, 17 Desember 2009
Waktu                         : 15.00 – 17.00 Wita
Tempat                        : Laboratorium Biologi lantai III Gedung B
                                      Fakultas Sains dan Teknologi
                                      Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                                      Samata, Gowa.

B.     Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kertas, pulpen dan penggaris.


C.    Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah :
1.      Membuat sebuah garis horisontal yang jelas pada suatu halaman buku sendiri.
2.      Meletakkan tangan kanan atau tangan kiri di atas kertas tersebut.
3.      Membubuhkan tanda dimana jejak ujung jari telunjuk dengan menggunakan pensil atau pulpen.
4.      Mencatat hasil pengamatan.
                                                                                                                                                         

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. Biologi. Jakarta: Erlangga. 2007.
Shykill. Gen Yang Dipengaruhi Oleh Jenis Kelamin. http:www//Shykill.blogspot. com.gen-yang-dipengaruhi-oleg-jenis-kelamin.html (24 Desember 2009).

Kimball, W. John. Biologi Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. 2005.
Suryo. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 2008.




Laporan Genetika (pemeliharaan lalat buah)




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera, (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental (walaupun banyak jenis lalat-lalat buah lainnya) dan merupakan organisme model yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan. Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berbiak (hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya), mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati[1].
Lalat buah (Drosophila melanogaster) baru akan kawin setelah berumur 8 jam. Dengan demikian, hewan betina sudah dapat bertelur keesokan harinya. Seekor Drosophila melanogaster  betina sanggup menghasilkan sekitar 50-75 butir telur sehari atau sekitar 400-500 telur dalam 10 hari. Telur tersebut berwarna putih susu, berbentuk bulat panjang berukuran sekitar 0,5 mm[2].


B.     Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui siklus hidup lalat buah (Drosophila melanogaster).









[1]Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_berbentuk_serangga (02 Desember 2009).
[2]Wildan Yatim, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito. h. 31.
                                                                                                                                                        

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera, (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental (walaupun banyak jenis lalat-lalat buah lainnya) dan merupakan organisme model yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan. Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berbiak (hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya), mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati[1].
Ciri umum lainnya dari Dhrosophila melanogaster, antara lain :
1.    memiliki mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwarna merah
2.    memiliki warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang
3.    berukuran kecil antara 3-5 mm (jantan dan betina memiliki ukuran yang berbeda)
4.    Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
5.    Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
Drosophila melanogaster merupakan salah satu hewan yang sering digunakan sebagai model percobaan genetika sejak tahun 1910an. Dhrosophila melanogaster berasal dari filum Arthropoda, kelas Insekta, dan Ordo Diptera. Spesies ini di Indonesia dikenal sebagai lalat buah yaitu jenis lalat yang dapat ditemui di sekitar buah-buahan yang mulai membusuk. Selain itu, Drosophila melanogaster termasuk dalam sub-ordo Cyclophorpha, pengelompokkan lalat yang pada pupanya terdapat kulit instar 3, dan termasuk dalam seri Acaliptra (imago menetas dan keluar dari bagian interior pupanya). Jenis Drosophila melanogaster yang terdapat di Indonesia kira-kira ada 600 jenis dan di Pulau Jawa terdapat 120 jenis yang berasal dari class Dhrosopilidae. Drosophila melanogaster yang sering ditemukan di Indonesia dan Asia adalah Drosophila melanogaster ananasae, kikawai, malerkotliana, repleta, hypocausta, dan imigran[2].
Lalat Buah (Drosophila melanogaster) mungkin bagi kebanyakan orang merupakan hewan yang mengganggu dan menjijikan apalagi hewan ini sering kali menjadi musuh bagi para penjual buah-buahan maupun penjual minuman “jus”. Kehadirannya akan membuat para pembeli enggan membeli buah atau jus bila tempat menyimpan buah-buahan ataupun sisa buah yang busuk atau kulit buah yang dibuang di tempat sampah banyak dikerumuni oleh lalat ini. Namun siapa sangka, lalat buah di tangan orang biologi terutama bagi orang yang berkecimpung dalam bidang genetika justru lalat buah menjadi “hewan primadona”. Lalat ini memegang peranan yang penting dalam beberapa pengujian genetika, seperti dalam pengujian Hipotesis Mendel[3].
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila sp. ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila sp, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. Setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen[4].
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini.
 
Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa[5].
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut[6].
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior[7].
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago[8].
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa[9].
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa[10].



[1]Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_berbentuk_serangga (02 Desember 2009).
[2]Wildan Yatim, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito. h. 32.
[4]Borror.J.D,Triplehorn, Pengenalan Pengajaran Serangga. 1992. Universitas Gadjah Mada Press:Yogyakarta. h. 56.

[5]Siklus hidup, http://id.wordpress.com/ (02 Desember 2009). 
[6]Siklus hidup, http//zarzen.wordpress.com/2008/09/27/hello-word/ (02 Desember 2009).
[7]Ibid.  
[8]Ibid.  
[9]Ibid.  
[10]Ibid.
                                                                                                                                                       


BAB III
METODE KERJA

A.    Waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari / tanggal            : jum’at  20 november 2009
Pukul                         : 15.00 -16.30 WITA
Tempat                      : Laboratorium Biologi Lantai III Gedung B
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata-Gowa.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah botol kultur yang berisi medium, cawan petri, botol eterasi, kuas kecil, dan bantalan karet.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah lalat buah (Drosophila melanogaser) jantan dan betina, medium kertas.

C.    Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah:
1.    Menyediakan botol kultur yang sudah berisi medium.
2.    Meletakkan botol kultur tersebut di tempat yang banyak terdapat Drosophila melanogaster, misalnya di tempat sampah atau dekat buah-buahan yang ranum.
3.    Apabila jumlah lalat yang masuk hanya sedikit, gunakan kantung plastik, yang agak besar dan tempatkan dengan mulut dibawah pada bak sampah atau buah-buahan ranum yang dihinggapi Drosophila melanogaster, dan ketuklah bak sampah tersebut hingga lalat bertebaran masuk kedalam kantung plastik, baru pindahkan kedalam botol medium. Usahakan agar terdapat sekitar 2 pasang Drosophila melanogaster.
4.    Memberi catatan pada botol tersebut mengenai waktu dan tempat pengumpulan.
5.    Mengamati perubahan yang terjadi pada medium, dan catatlah kapan saudara mulai melihat adanya telur, larva, dari instar hingga terbentuknya imago dengan pengamatan secara periodik sekitar 4-6 jam sekali.
6.    Mencatat apabila dalam biakan terdapat lebih dari satu spesies Drosophila melanogaster.
7.    Membandigkan  hasilnya dengan siklus hidup Drosphila melanogaster.
                                                                                                                                                     

DAFTAR PUSTAKA

Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_ berbentuk_ serangga (02 Desember 2009).


Siklus hidup, http://id.wordpress.com/ (02 Desember 2009). 
Siklus hidup, http//zarzen.wordpress.com/2008/09/27/hello-word/ (02 Desember 2009).

Triana Silvia, Pengaruh Pemberian Berbagai  Konsenterasi  Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva  Drosophila. 2003, Bandung: Jurusan  Biologi. Universitas Padjadjaran.

Triplehorn Borror.J.D, 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Universitas Gadjah Mada Press: Yogyakarta.

Yatim Wildan, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito.




Laporan Genetika (pemeliharaan lalat buah)




BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar belakang
Medium merupakan substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrient) yang dipergunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Dimana mikroba sama dengan organisme pada umumnya yaitu untuk kelangsungan hidupnya membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi dalam metabolisme, dan pergerakan. Yang mana nutrisi tersebut dapat diperoleh dari medium. Umumnya media mengandung air, sumber energi, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen serta unsure kelumit (trace mineral). Media ini dapat pula ditambahkan faktor pertumbuhan berupa asam amino, vitamin, atau nukleosida[1].
Medium pemeliharaan stock Drosophila melanogaster yang mula-mula dipergunakan ialah campuran antara pisang ambon dan tape ketela pohon dengan perbandingan 6 : 1, medium tersebut dipakai selama lebih dari 15 tahun. Pada tahun 1984 mulai digunakan beberapa medium yang dicobakan untuk memelihara jenis-jenis Drosophilla lainnya dan baru pada lima tahun terakhir digunakan resep yang baru. Hal ini disebabkan oleh kualitas pisang dan tape yang tidak pernah seragam, sehingga dianggap perlu untuk memperoleh medium yang lebih padat dan dapat diandalka. resep baru yang dipakai merupakan modifikasi dari resep yang telah ada dan yang disesuaikan untuk kondisi Indonesia[2].
Kelangsungan hidup dan pertumbuhan mikiroorganisme dipengaruhi oleh adanya nutrisi dan faktor lingkungan. Bahan nuttrisi yang tersdia dapat berupa bahan alami dapat pula berupa bahan sintetis. Bahan nutrisi yang digunakan mikrorganisme biasanya berupa senyawa sederhana yang tersedia secara langsung atau berasal dari senyawa yang kompleks yang kemudian dipecah oleh mikrorganisme menjadi senyawa yang sederhana melalui proses enzimatik. Bahan nutrisi ini dapat berupa cairan atau padatan setengah padat (semi solid). Yang kemudian disebut Media[3]
Makhluk hidup di dunia beraneka rupa dan ragam sehingga cara penentuan sifat kelaminnya pun berbeda. Lalat buah (Drosophilla sp) merupakan lalat yang suka sekali mengerumuni buah yang masak, ini banyak digunakan dalam penelitian genetika. oleh karena itu mudah didapat di alam, mudah dipelihara, dan tidak memerlukan tempat yang luas cukup dalam botol saja, mempunyai siklus hidup pendek.
Berdasarkan hal tersebut di atas sehingga praktikum ini dilaksanakan sebagai salah alternatif untuk dapat mengetahui secara langsung cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah yang berfungsi sebagai wadah untuk dapat mengembangbiakkan lalat buah

B.     Tujuan
Adapun tujuan dalam percobaan ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster).

C.     Manfaat
Adapaun manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa mampu membuat medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster) dalam praktikum genetika selanjutnya.


[1]Tim Dosen Mata Kuliah, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum (Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam negeri Alauddin Makassar : Makassar. 2009) h. 10.
[2]Tim dosen   Penuntun Genetika  (Makassar: UIN Fakultas Sains, 2011), h. 1
[3]Zarzen, “Laporan Genetika: Siklus Hidup Drosophila melanogaster”, Blog Zarzen, http://zarzen.wordpress.com/ di akses tanggal 02 Februari 2011.
                                                                                                                                                        


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Genetika (dari bahasa Yunani: genno yang berarti “melahirkan”) merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama “genetika” diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906[1].
Drosophilla melanogaster adalah sejenis serangga bersayap yang masuk kedalam ordo DipteraI (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam istilah atau dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental dan merupakan yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan. Drosophilla melanogaster populer karena sangat mudah berkembangbiak hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya, mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotif yang relatif mudah diamati[2].




Menurut Zarzen, adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya[3],
1.    Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2.    Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
3.    Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
4.    Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
5.    Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
6.    Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
7.    Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
8.    Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.
Drosophilla melanogaster mempunyai proses anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Lalat buah determinan sitoplasmik yang mudah di dalam telur memberi informasi sisional untuk penempatan kedua posisi ini bahkan sebelum fertilisasi. Setelah sterilisasi, informasi dengan benar ada akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen. Drosophilla melanogaster  memiliki warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna itam dibagian belakang. Betina memiliki ukuran panjang sekitar 2,5 m dan yang jantan lebih kecil dibandingkan dengan betina. Bagian tubuh belakang jantan lebih gelap.
 Drosophilla melanogaster yang liar memiliki mata yang berwarna merah. Ciri umum dari Drosophilla melanogaster anatara lain yaitu berukuran kecil, antara 3-5, urat tepi sayap (sesual vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptis dekat dengan tubuhnya, sungut (Arista umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan) Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung, mata berwarna merah. Drosophilla melanogaster merupakan jenis lalat buah yang dapat ditemukan di buah-buahan busuk, dan biasanya digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan[4].
Inti sel tubuh lalat buah hanya memiliki 8 buah kromosom saja. Sehingga mudah sekali diamati dan dihitung. Delapan buah kromosom itu dibedakan atas:
a.       6 buah kromosom (3 pasang) yang pada lalat betina jantan bentuknya sama. Karena kromosom-kromosom disebut autosom (kromosom tubuh), disingkat dengan huruf A.
b.      2 buah kromosom (1 pasang) disebut kromosom kelamin (seks kromosom), sebab bentuknya ada yang berbeda pada lalat jantan dan betina.
c.       Pengamatan kromosom pada lalat buah Drosophilla melanogaster menunjukkan adanya perbedaan untuk kromosom pada lalat buah jantan dan betina. Lalat buah memiliki empat pasang kromosom, biasanya kromosom diberi nomor sesuai dengan pnjang kromosom. Kromosom terpanjang mudah berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangbiakkan setiap dua minggu. Karakteristik ini menjadikan lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik. Keuntungan lain dari lalat buah adalah lalat ini hanya memiliki 4 pasang kromosom, yang dapat dengan mudah dibedakan melalui mikroskop cahaya[5].
Ada beberapa keuntungan dari Lalat buah (Drosophila melanogaster) sehingga banyak dijadikan objek atau bahan percobaan genetik, di antaranya [6],
1.      Lalat buah (Drosophila melanogaster) mudah dipelihara dalam laboratorium karena makanannya sangat sederhana, hanya memerlukan sedikit ruangan dan tubuhnya cukup kuat. Biasanya Lalat buah (Drosophila melanogaster) dikembangbiakan dalam botol medium, mediumnya dapat terdiri dari :



a.         Molase
b.         Agar Molase
c.         Agar Pisang
d.        Campuran antara Pisang dengan tape singkong dengan perbandingan 6:1
Jenis medium yang paling banyak digunakan adalah medium yang terdiri dari campuran antara pisang dengan tape singkong. Jenis medium ini juga biasanya digunakan untuk pemeliharaan.
1.      Pada temperatur kamar (suhu ruangan), Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menyelesaikan siklus hidupnya kurang lebih dalam  12 hari.
2.      Jumlahnya di alam sangat berlimpah dan mudah didapati.
3.      Lalat buah (Drosophila melanogaster) dapat menghasilkan keturunan dalam jumlah yang besar.
Lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki berbagai macam perbedaan sifat keturunan yang dapat dikenali dengan pembesaran lemah. Lalat buah (Drosophila melanogaster) ini memiliki beberapa jenis mutan (individu yang dihasilkan karena adanya mutasi) yang dapat diamati dengan perbesaran yang lemah pula. Perkembangan dari siklus hidupnya mudah di amati, karena terjadi di luar tubuhnya mulai dari telur, larva, pupa hinggá menjadi dewasa (imago)[7].
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut:
a.       Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.

b.      Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina.
c.       Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.
d.      Intensitas Cahaya
Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap[8].
Penelitian dari berbagai organisme menunjukkan bahwa setiap jenis dibedakan oleh sejumlah kelompok gen berpautan. Kelompok ini dinamakan sebagai kelompok pautan. Misalnya pada sebuah kromosom terdapat gen A, B, C, dan D, maka gen-gen tersebut termasuk ke dalam satu kelompok pautan. Lebih lanjut diketahui bahwa jumlah kelompok pautan yang dimiliki pada suatu organisme sesuai dengan jumlah kromosom haploid yang dimilikinya. Jadi pada Drosophila melanogaster yang mempunyai 4 kromosom haploid, mempunyai 4 kelompok pautan. Jagung yang memiliki 10 pasang kromosom memiliki 10 kelompok pautan[9].








[1]Khalifah Mustamin, Buku Daras Genetika (Makassar: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2009), h. 8.
[2]“Buku Peta”, http:www.deptan.go.id/ditlinhorti/buku_peta/bagian_07.html. (02 Februari 2011)
[3]Zarzen, “Laporan Genetika: Siklus Hidup Drosophila melanogaster”, Blog Zarzen, http://zarzen.wordpress.com/ di akses tanggal 02 Februari 2011
[4]Ibid
[5]Suryo, Genetika Strata 1, (Yogyakarta: Ubiversitas Gadjah Mada, 1997), h.164.
[6]Marnala”, Siklus Hidup Lalat Buah, http://www.marnala.co.cc/2009/07/Teknik Dasar Genetika.html (02 Februari 2010).
[7]Ibid
[8]Michael Ashburner, Drosophila genomics, http:www.gen.com.ac.uk/research/ashburner, (02 Februari 2011).
[9] Prwoto dan wiryosoewarto, Genetika dan Evolusi, Cet I (Jakarta: Depdikbud, 1994), h. 61.
                                                                                                                                                     


BAB III
METODE KERJA


A.     Alat dan bahan
1.      Alat
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol kultur, tutup gabus, kuas kecil, gunting, pisau atau catter, blender, Neraca Analitik, kompor gas, dan pengaduk.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah lalat buah  (Drosophila melanogaster), pisang raja 600 gram, Agar-agar 7 gram,  gula merah 150 gram, aquadest,  Tissue dan kertas HVS.

B.     Cara kerja
1.      Menimbang bahan untuk medium  ( pisang raja dan gula merah),  pisang raja 600 gram, dan gula merah 150 gram.
2.      Mencampur gula merah dengan aquadest dan dimasak hingga mendidih.
3.      Sementara itu pisang yang ranum diblender hingga lumat betul.
4.      Mencampur pisang yang sudah diblender ke dalam air, agar-agar dan gula yang sedang mendidih dan mengaduk sampai rata di atas api yang kecil dan mendiamkannya sekitar 15 menit, sehingga pisang ikut menjadi matang.
5.      Membiarkan adonan mendidih sekitar 15 menit.
6.      Melarutkan ragi roti tersebut dalam air dan mencampurkan pola ke dalam adonan yang suhunya sudah mulai menurun sekitar 40°C.
7.      Menuangkan dengan segar sekitar 40 ml/40 gr adonan yang masih panas dalam botol biakan yang sudah steril terlebih dahulu.
8.      Memasukkan kertas saring untuk menyerap kelebihan cairan dalam botol medium.
9.      Menyiapkan botol untuk dipergunakan apabila medium sudah dingin.



C.     Waktu dan tempat
 Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari / tanggal       : Selasa/01 Februari 2010
Pukul                   : 13.00 WITA
Tempat                : Laboratorium Biologi Dasar Lantai I
                               Fakultas Sains dan Teknologi
                               Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar,
                               Samata-Gowa.


                                                                                                                                                     


DAFTAR PUSTAKA



Anonim. “Teknik-pembiakan-massal-hama-lalat-buah”. http://atoms4planthealth. blogspot.com (Wikipedia), diakses tanggal 02 Februari 2011.

Marnala”, Siklus Hidup Lalat Buah, http://www.marnala.co.cc/2009/07/Teknik Dasar Genetika.html (02 Februari 2010).

Michael Ashburner, “Drosophila genomics”. http: www.gen.com.ac.uk/research/ ashburner, (02 Februari 2011).

Mustamin, Khalifah. Buku Daras Genetika Makassar: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2009.

Prwoto dan wiryosoewarto, Genetika dan Evolusi, Cet I Jakarta: Depdikbud, 1994

Suryo, Genetika Strata 1. Yogyakarta: Ubiversitas Gadjah Mada, 1997.

Tim dosen,  Penuntun Genetika.  Makassar: UIN Fakultas Sains, 2011.

Zarzen, “Laporan Genetika: Siklus Hidup Drosophila melanogaster”, Blog Zarzen, http://zarzen.wordpress.com/ di akses tanggal 02 Februari 2011.





 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.