Tampilkan postingan dengan label Pencemaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencemaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2011

POTENSI PENCEMARAN AIR TANAH OLEH PENGGUNAAN PUPUK NITROGEN PADA TANAMAN MELON DI KECAMATAN KEBONARUM KABUPATEN KLATEN


POTENSI PENCEMARAN AIR TANAH OLEH PENGGUNAAN PUPUK NITROGEN PADA TANAMAN MELON DI KECAMATAN KEBONARUM KABUPATEN KLATEN
Abstrak
Penelitian di Kecamatan Kebonarum mempunyai permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah potensi pencemaran air tanah oleh unsur NO3 dari pupuk N terhadap tanaman Melon di daerah penelitian. (2) Bagaimanakah kesesuaian lahan berpotensi akan pencemaran air tanah aktual oleh unsur NO3 dari pupuk N terhadap tanaman melon di daerah penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain : (1) Mengetahui seberapa besar daerah yang akan mengalami pencemaran air tanah oleh unsur NO3 dari penggunaan pupuk N terhadap tanaman Melon d idaerah penelitian, (2) Mengkaji kesesuaian lahan akan potensi pencemaran air tanah aktual terhadap unsur NO3 dari pupuk N terhadap tanaman melon di daerah penelitian Berdasarkan masalah dan tujuan maka penelitian ini mengambil judul “POTENSI PENCEMARAN AIR TANAH OLEH PENGGUNAAN PUPUK N TERHADAP TANAMAN MELON DI KECAMATAN KEBONARUM KABUPATEN KLATEN”. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik penelitian berupa metode pengharkatan atau scoring. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data tingkat imbuhan,intensitas pemupukan , tekstur tanah, dan kedalaman air tanah .Analisis pencemaran air tanah oleh unsur NO3 dimulai dengan memasukkan data-data tersebut kedalam klas-klas yang telah ditentukan nilai interval dan skornya, kemudian dihitung berdasarkan formula yang dibuat oleh Ramolino yang kemudian diwujudkan dalam bentuk nilai indeks potensi polusi NO3 dan peta potensi pencemaran air tanah. Kedua peta kemudian ditumpang susunkan Adapun sampel populasi adalah besarnya area tanaman melon yang mengalami pencemaran air tanah oleh pupuk N pada tiap satuan lahan di wilayah penelitian. Dampak penggunaan pupuk N yang berlebihan terhadap tanaman melon akan mengalami pencemaran air tanah .Hal ini dapat kita lihat pada tanaman melon yang mengalami masa pertumbuhan relative panjang. Daun hijau gelap dan tidak berbuah. Pada manusia akan mengalami diare campur darah, gangguan mental, dan methe-globinaema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pencemaran air tanah oleh unsur NO3 dari penggunaan pupuk N didaerah penelitian ada dua klas yaitu klas rendah dan klas tinggi.Kelas potensi rendah ditunjukkan dengan nilai indeks 98,5-101,5 dan kelas potensi tinggi ditunjukkan dengan nilai indeks 111,9-118,5. Peta tingkat imbuhan,peta tekstur tanah, peta kedalaman air, peta pencemaran actual air tanah oleh penggunaan pupuk N yang mempunyai skala 1 ; 50.000 kemudian di tumpang susun (overlay) antara model potensi pencemaran air tanah dengan pencemaran air tanah aktual hanya sesuai pada kelas potensi pencemaran rendah, sedangkan pada kelas potensi pencemaran tinggi tidak sesuai. Hal ini karena faktor tekstur tanah yang halus atau lempung sehingga menghambat laju perkolasi air tanah.

Selasa, 27 Desember 2011

“ PENCEMARAN AIR “



PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya tiap penerapan pengoperasian suatu penemuan baru, tiap inovasi tidak selalu disambut dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Ada dua kejadian yang dianggap mengganggu stabilitas lingkungan yaitu perusakan dan pencemaran (Dwidjoseputro, 1991).
Perusakan lingkungan adalah perbuatan manusia yang sadar atau tidak sadar , langsung atau tidak langsung mengakibatkan rusaknya suatu lingkungan. Pencemaran lingkungan yaitu masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam suatu lingkungan dan atau berubahnya tata lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam yang mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (dwidjoseputro,1991).
Sungai Bade letaknya di Jl. Raya Bawen Km. 32 Desa Harjosari kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Sungai Bade merupakan sungai yang mengalir melalui tempat pemukiman penduduk, dan daerah perindustrian. Sungai Bade merupakan badan air penerima hasil olahan dari Pabrik Tekstil PT. APAC INTI CORPORA (AIC), terletak di sekitar pemukiman penduduk sehingga dikhawatirkan air buangan hasil olahan limbah dapat membahayakan manusia.
PT. APAC INTI CORPORA (AIC) merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang produksi benang tenun dan tekstil terkemuka di Indonesia. Dalam produksinya PT AIC menggunakan bahan dasar sintetik dan kimia,
1
2
terutama untuk pewarnaan. Kemajuan industri tekstil PT. AIC selain menghasilkan tekstil dalam operasinya, juga mengeluarkan limbah cair yang berpengaruh terhadap ekosistem perairan yang berada di sekitar industri tersebut. Hal ini terjadi karena PT. AIC memiliki lokasi industri di sekitar sungai, untuk memudahkan pembuangan limbah secara langsung. Dari data tersebut jelas bahwa air buangan industri tekstil berpotensi sebagai bahan pencemar, apabila air buangan langsung dibuang ke sungai tanpa di olah terlebih dahulu.
Air limbah yang dibuang begitu saja ke lingkungan menyebabkan pencemaran, antara lain menyebabkan polusi sumber-sumber air seperti sungai, danau, sumber mata air, dan sumur. Limbah cair mendapat perhatian yang lebih serius dibandingkan bentuk limbah yang lain karena limbah cair dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dalam bentuk pencemaran fisik, pencemaran kimia, pencemaran biologis dan pencemaran radioaktif.
Limbah tekstil merupakan limbah cair dominan yang dihasilkan industri tekstil karena terjadi proses pemberian warna (dyeing) yang di samping memerlukan bahan kimia juga memerlukan air sebagai media pelarut.
Limbah air yang bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam proses produksinya. Di samping itu ada pula bahan baku yang mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air tersebut harus dibuang.
Lingkungan yang tercemar akan mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup disekitarnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kegiatan industri, air yang telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh
3
langsung dibuang ke lingkungan, tetapi air limbah industri harus mengalami proses pengolahan sehingga dapat digunakan lagi atau dibuang ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran. Proses pengolahan air limbah industri adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri yang berwawasan lingkungan.
Kualitas air yang baik sangat mendukung kehidupan organisme air. Mikroorganisme air seperti plankton selain sebagai indikator pencemaran suatu perairan juga mempunyai peranan penting dalam lingkungan aquatik yaitu sebagai dasar piramida makanan bagi organisme lain yang hidup di perairan. Plankton merupakan makanan alami bagi organisme perairan seperti bentik dan ikan (Sachlan, 1982). Plankton dan ikan membentuk rantai penghubung yang penting antara produsen dan konsumen. Ikan dan organisme air lainnya akan hidup dengan baik bila kondisi perairan mendukung. Sebagai bioindikator dari limbah ini adalah adanya organisme biologi yaitu ikan lele, bawal, braskap, tanaman air, cacing, algae, dan bakteri.
Di sekitar pabrik pada umumya sungai digunakan untuk tempat pembuangan limbah, tanpa instalasi pengolahan limbah terlebih dahulu, selain itu kadang para penduduk membuang sampahnya langsung ke sungai. Limbah dari industri tekstil yang dibuang ke sungai sudah mengalami proses pengolahan limbah terlebih dahulu. Dengan pengolahan tersebut limbah tekstil yang dibuang ke sungai di duga dapat mengurangi bahan pencemar.
Pengoperasian unit pengolahan limbah memegang peranan yang penting. Pengoperasian yang kurang benar akan menyebabkan limbah yang terproses masih memiliki nilai parameter diatas ambang batas yang ditentukan.
4
Pengoperasian yang tidak sistematis dan tidak berpedoman, akan cenderung menyebabkan ketidakefisien yang pada akhirnya akan menyebabkan biaya pengolahan yang tinggi.
Indikator bahwa air telah tercemar adalah adanya perubahan air yang dapat diamati, yaitu adanya perubahan suhu air, adanya perubahan pH, adanya perubahan warna, bau, rasa serta timbulnya endapan (Suriawiria, 1996). Menurut Odum (1993), pencemaran air merupakan suatu peristiwa penambahan suatu zat tertentu yang berasal dari limbah proses industri dan domestik yang dapat mengolah kualitas alami dari air tersebut yang juga akan mengganggu kehidupan hidrobiota sungai. Menurut Undang-Undang RI No.4 Tahun 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup Bab 1, pasal 1 pencemaran lingkungan adalah masuknya makhluk hidup, zat, energi dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pemeriksaan perairan yang menerima buangan air limbah, merupakan suatu keharusan. Hal ini berguna untuk mengevaluasi masalah kesehatan yang mungkin timbul misalnya bahan beracun ke dalam baku mutu air (Surna, 1993).
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang dapat dikaji dalam penelitian ini adalah, bagaimanakah kualitas air sungai Bade di tinjau dari parameter fisika, kimia dan biologi,
5
C. Penegasan Istilah
Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman. Mengenai kajian yang akan diteliti, maka akan dijelaskan batasan-batasan istilah sebagai berikut :
1. Pengolahan air limbah, merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengolah limbah hasil produksi dengan tahap-tahap tertentu, yaitu secara fisika, kimia, dan biologi, dalam suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
2. Kualitas Air, merupakan tingkat pencemaran yang mempengaruhi kelayakan air. Kualitas air menggambarkan komposisi air yang dipengaruhi oleh proses alami dan aktivitas budaya manusia, ditunjukkan dalam bentuk pengukuran kuantitatif dan berhubungan dengan penggunaan air.
3. PT. APAC INTI CORPORA, merupakan suatu industri yang bergerak dibidang produksi benang tenun dan tekstil.
4. Sungai Bade, merupakan suatu badan air penerima limbah dari industri tekstil PT. APAC INTI CORPORA. Terletak di Jl. Jaya Bawen km. 32 desa Harjosari semarang.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1. mengetahui kualitas air sungai Bade yang merupakan buangan limbah industri tekstil dari PT. APAC INTI CORPORA
2. Mengetahui apakah air buangan dari limbah Industri Tekstil PT. APAC INTI CORPORA telah sesuai dengan standar baku mutu lingkungan untuk industri tekstil.
6
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. sebagai dasar pertimbangan langkah-langkah dan kebijaksanaan selanjutnya yang harus ditempuh untuk pengolahan air limbah sesuai baku mutu air limbah
2. memberikan informasi tambahan kepada instansi terkait dan masyarakat sekitar tentang kualitas air sungai hasil pengolahan limbah.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Kualitas Air
Kualitas air memegang peranan penting dalam kehidupan baik organisme air maupun manusia. Kualitas air juga mempengaruhi seluruh komunitas perairan seperti bakteri, tanaman air, ikan, zooplankton dan sebagainya.
Kualitas air menurut Sumarwoto (1984) ditentukan oleh banyak faktor, yaitu zat telarut, zat yang tersuspensi dan makhluk hidup khususnya jasat renik di dalam air, maka dapat dikatakan bahwa kualitas air adalah tingkat pencemaran akibat proses alami dan aktivitas budaya manusia yang mempengaruhi kelayakan air ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologis.
Kualitas limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari jumlah kandungan bahan pencemar di dalam limbah. Kandungan pencemar di dalam limbah terdiri dari berbagai parameter. Semakin kecil jumlah parameter dan semakin kecil konsentrasinya, hal ini menunjukkan semakin kecil peluang untuk terjadinya pencemaran lingkungan (Kristanto, 2002).
Menurut Kristanto (2002) beberapa kemungkinan yang akan terjadi akibat masuknya limbah ke dalam lingkungan :
7
8
- lingkungan tidak mendapatkan pengaruh yang berarti. Hal ini disebabkan karena volume limbah kecil, parameter pencemar yang terdapat dalam limbah sedikit dengan konsentrasi yang kecil.
- Ada pengaruh perubahan, tetapi tidak mengakibatkan pencemaran
- Memberikan perubahan dan menimbulkan pencemaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah :
a. Volume limbah
b. Kandungan bahan pencemar
c. Frekuensi pembuangan limbah (Kristanto, 2002).
a. Kualitas Fisika – Kimia
Menurut Hardisubroto (1989) beberapa petunjuk yang digunakan untuk menjelaskan adanya pencemaran dan parameter kualitas air adalah :
1. Temperatur
Temperatur sangat penting bagi kondisi lingkungan air, disamping pengaruh langsung pada proses biologi. Temperatur mempunyai pengaruh adanya lapisan air di suatu perairan lapisan atas (epilimnion) lebih panas dari lapisan bawah (hipolimnion). Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan transisi (termokline).
2. Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen terlarut mempunyai faktor kritis yang lain dari lingkungan air, karena temperatur turun, tingkat kekeruhan oksigen tinggi. Keterlarutan oksigen di air tawar lebih tinggi daripada air asin, karena sumber oksigen terlarut dekat permukaan, konsentrasi oksigen akan turun dengan makin dalamnya air. Pada temperatur kamar, jumlah oksigen terlarut dalam air
9
adalah 8 mg/l. pada air yang terkena pencemaran, produksi oksigen melalui fotosintesis dan oksigen terlarut dari udara dapat mengenyangkan air dengan oksigen. Adanya materi pencemar dapat mengurangi jumlah oksigen dalam air.
Tabel 1. Hubungan DO dengan Kualitas Air
Kualitas air
% kekenyangan
mg/l
Baik
90 – 100
13,5 – 15
Sedikit tercemar
75 – 90
11,25 – 13,5
Tercemar sedang
50 – 75
7,5 – 11,25
Sangat tercemar
< 50
< 7,5
(Sumber : Hadisubroto, 1989).
Keterangan :
Kenaikan temperatur dari 10 0 C akan menurunkan sejumlah 50 % oksigen (Hadisubroto, 1989).
3. Biological Oxygen Demand (BOD)
BOD menyatakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik dalam air. BOD yang rendah menunjukkan sedikit pencemaran, kira-kira 5 mg/l uji BOD mengukur tendensi elemen yang menggunakan oksigen. BOD mengukur kandungan oksigen total dan kemampuan sistem untuk menurunkan oksigen.
4. Chemical Oxygen Demand (COD)
Chemical Oxygen Demand merupakan ukuran yang baik, karena memberikan petunjuk tentang jumlah materi yang terdegradasi oleh makhluk hidup dan materi yang bersifat racun atau toksik.
10
5. Kekeruhan, warna, dan bau
Kekeruhan pada dasarnya disebabkan oleh adanya zat-zat koloid yaitu zat yang terapung, serta terurai secara halus, jasad-jasad renik atau benda lain yang tidak mengendap segera. Warna air berkaitan erat dengan zat-zat koloid yang tersuspensi di dalamnya. Masalah warna dan bau dapat dilacak dari bermacam-macam zat pencemar, misalnya zat kimia pembersih maupun zat kimia terlarut mengandung bau.
6. Petunjuk biologis spesies
Komposisi spesies dan keanekaragaman mungkin penting sebagai petunjuk adanya pengaruh zat pencemar. Bakteri, plankton, fungi, dan protozoa air adalah organ yang paling cocok untuk digunakan dalam mempertimbangkan situasi air. Keadaan biologis air diperiksa dengan parameter jumlah bakteri E. coli atau Coliform. Parameter ini dipilih oleh karena diantara organisme yang telah dipelajari, E. coli hampir memenuhi semua persyaratan sebagai organisme indikator yang ideal mengenai polusi air. Bakteri Coliform tidak membahayakan manusia, namun adanya bakteri ini menunjukkan adanya kontaminasi zat pencemar dan menyebabkan organisme terkena penyakit.
7. Derajat Keasaman (pH)
Adanya CO2 dan asam organik yang menjadikan pH air antara 4 - 6. Umumnya air yang tidak tercemar mempunyai pH 6 – 7, dalam kriteria air golongan B pH yang dianjurkan adalah 5 – 9.
11
Kualitas suatu perairan ditentukan oleh faktor lingkungan, baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik yang berupa faktor fisik, kimia dan biologi (Kristanto, 2002).
Pemantauan air sungai terhadap pencemaran dapat melalui berbagai cara pengamatan secara fisik, antara lain tingkat kejernian air, perubahan suhu, rasa dan warna, pengamatan secara kimia, antara lain, berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH, atau pengamatan secara biolois, yaitu pengamatan organisme yang hidup dalam air. Cara ini didasarkan terhadap keadaan lingkungan. Perubahan lingkungan secara fisik atau kimia akan berpengaruh terhadap organisme perairan tesebut.
b. Kualitas Biologi
Penentuan kualitas biologi ditentukan oleh kehadiran mikroorganisme terlarut dalam air seperti kandungan bakteri, algae, cacing, serta plankton. penentuan kualitas mikroorganisme dilatarbelakangi dasar pemikiran bahwa air tersebut tidak akan membahayakan kesehatan. Dalam konteks ini maka penentuan kualitas biologi air didasarkan pada analisis kehadiran mikroorganisme indikator pencemaran (Kusnadi, 2003).
Menurut Sunu (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air yaitu :
1. Sumber air
Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber seperti air hujan, air permukaan, air tanah, air laut dan sebagainya.
12
2. Komponen nutrien dalam air
Secara alamiah air mengandung mineral-mineral yang cukup untuk kehidupan mikroorganisme yang dibutuhkan oleh spesies mikroorganisme tertentu.
3. Komponen beracun
Terdapat di dalam air akan mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air. Sebagai contoh asam-asam organik dan anorganik, khlorin dapat membunuh mikroorganisme dan kehidupan lainnya di dalam air.
4. Organisme air
Adanya organisme di dalam air dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme air, seperti protozoa dan plankton dapat membunuh bakteri.
5. Faktor fisik
Faktor fisik seperti suhu, pH, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik, aerasi, dan penetrasi sinar matahari dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme yang terapat di dalam air.
2. Limbah Industri Tesktil
Industri tekstil merupakan suatu industri yang bergerak dibidang garmen dengan mengolah kapas atau serat sintetik menjadi kain melalui tahapan proses : Spinning (Pemintalan) dan Weaving (Penenunan).
Limbah industri tekstil tergolong limbah cair dari proses pewarnaan yang merupakan senyawa kimia sintetis, mempunyai kekuatan pencemar yang
13
kuat. Bahan pewarna tersebut telah terbukti mampu mencemari lingkungan. Zat warna tekstil merupakan semua zat warna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serat tekstil dan mudah dihilangkan warna (kromofor) dan gugus yang dapat mengadakan ikatan dengan serat tekstil (auksokrom) (Winarni dan Oriyati, 1980).
Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa organik tidak jenuh, kromofor dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor dan pengikat antara warna dengan serat (Hadi Risnandar dan Yulianto Kurniawan, 1998).
14
Skema proses produksi tekstil dan limbah yang dihasilkan (Nemerow, 1978)
Serat : kapas, rayon, poliester
Pemintalan
Pertenunan
Kain
Penghilangan kanji
Pemasakan
Pengelantangan
Mercerizing
Pencelupan
Pencapan
Karakteristik Limbah :
- BOD dan COD tinggi
- pH netral,
- Total Solid tinggi
Karakteristik Limbah :
- BOD dan COD tinggi
- pH tinggi
- Total Solid tinggi
- Suhu tinggi
Karakteristik Limbah :
- BOD dan COD tinggi
- pH tinggi
- Total Solid tinggi
Karakteristik Limbah :
- BOD dan COD rendah
- pH tinggi
- Total Solid rendah
Karakteristik Limbah :
- BOD dan COD tinggi
- pH berkisar antara netral - alkalis
- Total Solid tinggi
15
Melalui banyaknya proses yang dilakukan maka limbah yang dihasilkan pun berbeda. Hasil dari proses pewarnaannya tergantung pada pewarna yang digunakan misalnya zat warna indigo ( C12 H10 N12 O12 ) dan sulfur. Limbah – limbah itu dialirkan ke kolam-kolam pengendapan dan selanjutnya dialirkan ke sungai. Agar air limbah tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap lingkungan perairan maka diperlukan suatu teknik pengolahan yang diarahkan agar kriteria yang ditetapkan dalam baku mutu air limbah industri dapat terpenuhi. Baku mutu merupakan spesifikasi dari jumlah bahan pencemar yang perbolehkan dibuang ke lingkungan dan ini merupakan langkah penting dalam usaha mengendalikan pencemaran dan melestarikan lingkungan (Suratno, 1998).
3. Pengolahan Limbah Cair
Air limbah mungkin terdiri dari satu atau lebih parameter pencemar yang melampaui ambang yang telah ditetapkan. Kemungkinan di dalamnya terdapat minyak, lemak, bahan anorganik seperti besi, aluminium, nikel, plum-bum, barium, fenol, dan lain-lain, sehingga dalam pengolahannya dibutuhkan kombinasi dari beberapa metode dan peralatan (Kristanto, 2002).
Menurut Kristanto (2002) pengolahan limbah air dapat dibedakan menjadi (1) pengolahan menurut tingkat perlakuan, (2) pengolahan menurut karakteristik limbah.
16
Berdasarkan karakteristik limbah, proses pengolahan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu proses fisik, kimia, dan biologi. Proses ini tidak dapat berjalan secara sendiri-sendiri, tetapi kadang-kadang harus dilaksanakan secara kombinatif. Pemisahan proses menurut karakteristik limbah sebenarnya untuk memudahkan pengidentifikasian peralatan.
a. Proses Fisik
Perlakuan terhadap air limbah dengan cara fisika, yaitu proses pengolahan secara mekanis dengan atau tanpa penambahan bahan kimia. Proses-proses tersebut di antaranya adalah : penyaringan, penghancuran, perataan air, penggumpalan, sedimentasi, pengapungan, Filtrasi,
b. Proses Kimia
Proses secara kimia menggunakan bahan kimia untuk mengurangi konsentrasi zat pencemar di dalam limbah. Kegiatan yang termasuk dalam proses kimia di antaranya adalah pengendapan, klorinasi, oksidasi dan reduksi, netralisasi, ion exchanger dan desinfektansia.
c. Proses Biologi
Proses pengolahan limbah secara biologi adalah memanfaatkan mikroorganisme (ganggang, bakteri, protozoa) untuk mengurangi senyawa organik dalam air limbah menjadi senyawa yang sederhana dan dengan demikian mudah mengambilnya.
Proses ini dilakukan jika proses fisika atau kimia atau gabungan kedua proses tersebut tidak memuaskan. Proses biologi membutuhkan zat organik sehingga kadar oksigen semakin lama semakin sedikit. Pada proses kimia zat
17
tersebut diendapkan dengan menambahkan bahan koagulan dan kemudian endapannya diambil. Pengoperasian proses biologis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu operasi tanpa udara dan operasi dengan udara.
Digunakannya mikroorganisme untuk menguraikan atau mengubah senyawa organik, maka dibutuhkan suatu kondisi lingkungan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan harus memenuhi persyaratan hidup, misalnya penyebaran, suhu, pH air limbah dan sebagainya. Adanya perubahan dalam lingkungan hidupnya akan mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Ada golongan mikroorganisme tertentu yang rentan terhadap perubahan komponen lingkungan, dan ada pula yang dapat dengan cepat melakukan adaptasi dengan kondisi yang baru. Oleh karena itu kondisi lingkungan amat penting artinya dalam pengendalian kegiatan mikroorganisme dalam air limbah.
4. Baku Mutu Air Limbah Industri
Sehubungan dengan fungsi baku mutu lingkungan maka dalam hal menentukan apakah telah terjadi pecemaran dari kegiatan industri atau pabrik dipergunakan dua buah sistem baku mutu lingkungan yaitu :
a. Effluent Standard merupakan kadar maksimum limbah yang diperbolehkan untuk dibuang ke lingkungan.
b. Stream standard merupakan batas kadar limbah untuk sumberdaya tertentu, seperti sungai, waduk, dan danau. Kadar yang ditetapkan ini didasarkan pada kemampuan sumberdaya beserta sifat peruntukannya (Darsono, 1995).
18
Baku mutu limbah cair adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dibuang dari sumber pencemaran ke dalam air pada sumber air, sehingga tidak menyebabkan dilampauinya baku mutu air (Darsono, 1995).
Baku mutu air limbah (effluent standard) dipergunakan untuk perencanaan, perizinan, dan pengawasan mutu air limbah dari perbagai sektor. Untuk melindungi sumber air sesuai dengan peruntukannya maka perlu ditetapkan baku mutu limbah cair dengan berpedoman kepada alternatif mutu limbah cair yang telah ditetapkan dalam keputusan Menteri Negara Kependudukan dan lingkungan Hidup No. KEP - 51/ MENLH/ 10/ 1995.
Baku mutu limbah yang telah ditetapkan Gubernur dimaksudkan untuk melindungi peruntukan air di daerahnya, dengan demikian dalam setiap kegiatan yang menghasilkan limbah cair dan yang membuang limbah cair tersebut ke dalam air pada sumber air limbah cair harus memenuhi persyaratan
1. Mutu limbah cair yang dibuang ke dalam air pada sumber air tidak boleh melampaui baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan, dan
2. tidak mengakibatkan turunnya kualitas air pada sumber air penerima limbah (Darsono, 1995).
Hal tersebut mengharuskan agar setiap pembuangan limbah cair ke dalam air pada sumber air, mencantumkan kuantitas dan kualitas limbah (Darsono, 1995).
19
B. Hipotesa
Berdasarkan uraian pada tinjauan pustaka di atas, maka hipotesa dalam penelitian ini, adalah Pengolahan limbah tekstil PT. APAC INTI CORPORA berpengaruh terhadap kualitas air di sungai Bade, dan hasil olahan limbah belum sesuai dengan standar baku mutu limbah industri tekstil menurut SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-51/ MENLH/ 10/ 1995.
20
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sungai Bade, merupakan badan air penerima limbah industri tekstil. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2005 – bulan Desember 2005 pada waktu pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB.
B. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah air yang diambil secara representatip, dengan menentukan 3 titik sebagai stasiun yang mewakili parameter kualitas air limbah. Pengambilan sampel dengan menggunakan botol sampel yang telah disterilkan. Sampel air diambil sebanyak 100 ml air untuk setiap stasiun.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Fisika, meliputi Temperatur, bau, warna
2. Variabel Kimia, meliputi pH, BOD, COD.
3. Variabel Biologi, meliputi organisme air, yaitu phytoplankton dan zooplankton, tanaman air, dan ikan.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
pH meter, BOD meter, Gelas ukur, pipet volume, pipet tetes, Labu Erlenmeyer, Botol sampel, Titrasi, cawan Goch dengan kapasitas 25 ml,
20
21
cawan Sedgwick-rafter, sepasang refluks, beker gelas, sendok, termometer, Mikroskop, spektrometer, alat sentrifuge, kertas label., Buku panduan Identifikasi.
2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah :
Air limbah outlet di ambil dari sungai, air suling / aquadest, Formalin 40%,
E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan purpossive random sampling. Dilakukan dengan menentukan 3 titik sebagai stasiun yang akan diambil sampel airnya, yaitu stasiun I Tepat pada Outlet WWT PT APAC INTI CORPORA, Stasiun II setelah Outlet WWT sebelum jembatan sungai Bade, Stasiun III setelah jembatan sungai Bade.
1. Tahap Persiapan
a. Survei lapangan untuk mengamati dan menentukan lokasi pengambilan sampel serta membagi dan menentukan titik sebagai stasiun.
b. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Mengambil air dengan botol sampel, kemudian diberi kertas label.
b. Mengukur parameter fisik, meliputi temperatur, warna dan bau
c. Mengukur parameter kimia, meliputi pH, BOD, COD
d. Mengukur parameter Biologi, meliputi organisme air, yaitu phytoplankton, zooplankton, tanaman air, dan ikan.
e. Sampel yang diambil kemudian di analisis di laboratorium dan dicatat dalam tabel pengamatan.
22
F. Metode Analisis Data
Hasil pengamatan dan pengukuran di laboratorium selama pengamatan, di masukkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil Penelitian Parameter Biologi Kualitas Air di Sungai Bade
Stasiun
No.
Parameter
Satuan
I
II
III
1.
2.
3.
4.
Jml. Plankton
Jenis Plankton
Cyanophyta
Clorophyta
Euglenophyta
Crysophyta
Ikan
Tanaman air
Jml spesies/ liter
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Tabel 3. Hasil Pengukuran Faktor Abiotik di Sungai Bade Bawen
Stasiun
No.
Parameter
Satuan
I
II
III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Suhu
pH
BOD
COD
Warna
Bau
0C
-
ppm
ppm
PtCo
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Setelah didapatkan hasil dari penelitian kemudian dikonsultasikan dengan standar baku mutu air limbah cair seperti yang terdapat pada SK Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. KEP-51/ MENLH/ 10/ 1995, apakah air limbah yang dibuang ke sungai tersebut sudah memenuhi standar baku mutu lingkungan untuk limbah industri.
23
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air dari sungai Bade, yang merupakan buangan dari limbah industri tekstil, ditinjau dari aspek fisik, kimia dan biologi. Contoh air diambil dari badan air sungai Bade dengan 3 lokasi atau stasiun, yaitu stasiun I tepat pada outlet WWT (Waste Water Treatment ) PT. APAC INTI CORPORA (AIC), stasiun II setelah Outlet sebelum jembatan dan stasiun III setelah jembatan.
Hasil pengukuran parameter kualitas air di sungai Bade tersaji pada tabel berikut ini :
Tabel 4. Hasil Pengukuran Parameter Biologi di Sungai Bade pada Bulan Oktober 2005 – Desember 2005.
Pengambilan Sampel
Oktober 2005
November 2005
Desember 2005
No.
Parameter
Satuan
I
II
III
I
II
III
I
II
III
1.
2.
3.
4.
Jml plankton
Jenis Plankton
Cyanophyta
Clorophyta
Euglenophyta
Crysophyta
Ikan
Tanaman air
Jml spesies/ liter
13
+
+
+
+
+
-
13
+
+
+
+
+
+
12
+
+
+
+
-
-
11
+
+
+
+
+
+
15
+
+
+
+
+
+
13
+
+
+
+
+
-
13
+
+
+
+
+
-
23
+
+
+
+
+
-
16
+
+
+
+
-
-
Keterangan :
Stasiun I : Tepat Outlet dari WWT PT. AIC
Stasiun II : Sungai setelah Outlet sebelum jembatan sungai Bade
Stasiun III : Sungai setelah jembatan sungai Bade
+ : Terdapat
_ : Tidak Terdapat
23
24
Faktor-faktor Fisik – Kimia Perairan pada Sungai Bade
Sesuai dengan tujuan penelitian, dilakukan pengukuran terhadap parameter fisik dan kimia yaitu temperatur, pH, BOD, COD, warna, dan bau. Kisaran hasil pengukuran parameter – parameter tersaji pada tabel berikut ini.
Tabel 5. Hasil Pengukuran Parameter Fisika - Kimia selama Pengamatan pada Bulan Oktober 2005 – Desember 2005.
Pengambilan Sampel
Oktober
November
Desember
No.
Parameter
Satuan
I
II
III
I
II
III
I
II
III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Suhu
Warna
Bau
pH
COD
BOD
0C
PtCo
-
-
ppm
ppm
32.0
174
tidak
7.68
81
10
32.0
105
bau
7.42
80
10
31
120
bau
7.42
78
6
30
143
tidak
7.80
77
10
28
118
tidak
7.70
73
8.2
28
125
tidak
7. 64
67
5.9
31.9
111
tidak
7.57
85
7.5
31
325
tidak
7.57
81
10.3
28
100.5
tidak
7.55
51
11
Keterangan :
Stasiun I : Tepat Outlet dari WWT PT. AIC
Stasiun II : Sungai setelah Outlet sebelum jembatan sungai Bade
Stasiun III : Sungai setelah jembatan sungai Bade
25
B. PEMBAHASAN
Salah satu sumber air utama manusia adalah air sungai. Selain untuk kegiatan organisme hidup sehari-hari, bagi manusia sungai juga merupakan suatu habitat bagi organisme akuatik dan bagian dari ekosistem air. Seiring dengan meningkatnya pembangunan dan pemukiman, perairan sungai meningkat dan menjadi tempat pembuangan limbah domestik, serta industri dan sebagian yang menyebabkan terjadinya pencemaran sungai.
Perubahan kualitas dan kuantitas air dapat terbentuk karena adanya buangan bahan organik dan anorganik kedalam air, yang dapat larut dalam air maupun yang tidak dan terjadinya perubahan dalam kekuatan aliran dan siklus tata air di alam. Potensi kualitas air limbah haruslah didasarkan pada gambaran yang jelas mengenai berbagai sifat kualitas dan kuantitas air dan perubahan dalam salah skala mikro perlu didasarkan pada sifat-sifat tersebut.
1. Faktor-faktor Fisika – Kimia Perairan pada Sungai Bade
Suhu, merupakan salah satu faktor penting, karena perubahan suhu dapat mempengaruhi berbagai laju reaksi kimia, baik dalam tubuh organisme maupun pada lingkungan. Suhu yang baik untuk kehidupan organisme air adalah 250–300C. Berdasarkan hasil pengukuran suhu yang telah dilakukan tingkatan suhu pada setiap bulan terdapat perbedaan. Pada bulan Oktober 2005 suhu air berkisar antara 32,00 – 33 0C, dengan rata - rata 32,3 0C. Bulan November 2005 suhu air berkisar antara 280 – 30 0C dengan rata – rata 28,6 0C. Bulan Desember 2005 suhu air berkisar antara 280 – 31,9 0C dengan rata – rata 30,30 C. Suhu udara berkisar antara 240 C – 26 0 C dengan rata-rata 24, 830 C. Adanya perbedaan suhu
26
udara dengan suhu air dapat diduga bahwa suhu udara dipengaruhi oleh sinar matahari dan suhu air selain dipengaruhi sinar matahari juga dipengaruhi oleh tanah disekitarnya. Berdasarkan data tersebut diatas dapat diketahui bahwa suhu air tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2005 dengan rata-rata 32,3 0 C, hal ini dimungkinkan karena bulan Oktober mempunyai curah hujan rendah daripada bulan November dan bulan Desember, yang memiliki curah hujan tinggi, akibatnya suhu udara tinggi. Stasiun I mempunyai suhu lebih tinggi dari pada stasiun II dan Stasiun III, hal ini terjadi karena stasiun I merupakan muara yang pertama kali menerima air hasil olahan limbah, sehingga suhunya lebih tinggi. Pada stasiun II dan III karena letaknya jauh dari outlet limbah dan kondisinya ternaung oleh tumbuhan dengan intensitas cahaya yang masuk rendah maka suhunya lebih rendah, dari data yang diperoleh suhu air di perairan sungai Bade masih berada dibawah ambang batas baku mutu limbah cair sehingga organisme yang ada pada sungai dapat hidup. Kenaikan suhu dapat menyebabkan oksigen terlarut dalam air rendah dan meningkatkan efek toksisitas suatu logam. Suhu air limbah harus dimonitor karena (i) kecepatan dan penyelenggaraan reaksi kimia tergantung pada suhu air limbah, (ii) kehidupan bakteri dalam air limbah tergantung pada suhu. Pencemaran aerobik, dan nitrifikasi terhenti kalau suhu di atas 50 0C, bakteri yang memproduksi methan berhenti sama sekali. (iii) zat asam semakin berkurang pada suhu tinggi, padahal zat asam ini diperlukan untuk proses oksidasi zat organik yang ada. (iv) ikan dan binatang lain, mati pada suhu yang relatif tinggi. Suhu air relatif sama pada ketiga stasiun yang diteliti dapat disebabkan karena sifat air sendiri. Air mendapatkan panas dari suhu udara
27
(radiasi matahari), dari badan air dimana air berada, juga dapat dari bahan-bahan pencemar yang dapat meningkatkan suhu. Suhu perairan relatif stabil dalam artian fluktuasi perubahan rendah jika dibandingkan dengan suhu udara yang relatif lebih mudah berubah. Hal ini berkaitan dengan sifat molekul air yang lebih mampat daripada udara, sehingga suhu air pada 3 stasiun yang diamati relatif sama karena kondisi lingkungannya hampir sama.
BOD (Biologycal Oxygen Demand), menyatakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik dalam air. Pengukuran BOD pada air sungai Bade berkisar antara 6 – 10 ppm pada bulan Oktober 2005 dengan rata-rata 8,6 ppm. Bulan November 2005 BOD berkisar antara 5,9 – 10 ppm dengan rata – rata 8,03 ppm. Bulan Desember 2005 berkisar antara 7,3 – 11 ppm dengan rata-rata 9,6 ppm. Nilai BOD dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya bahan makanan yang berguna, campuran organisme, tidak adanya bahan-bahan baracun, reaksi pH yang menguntungkan , dan suhu yang tetap merupakan faktor-faktor penting (Mahida, 1984). Nilai BOD dapat dikaitkan dengan cukup tingginya oksigen terlarut pada tempat yang sama. Meskipun terjadi penggunaan oksigen oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi, nilai BOD tetap rendah Hal ini diduga disebabkan karena suplai oksigen dari sungai berjalan dengan baik.
COD (Chemical Oxygen Demand), merupakan ukuran yang baik, karena memberikan petunjuk tentang jumlah materi yang terdegradasi oleh makhluk hidup dan materi yang bersifat racun atau toksik. Pengukuran COD pada air sungai berkisar antara 78 – 81 ppm dengan rata-rata 79,6 ppm pada bulan Oktober 2005. Pada bulan November 2005 COD berkisar antara 67 – 77 ppm, dengan rata
28
– rata 72,3 ppm. Pada bulan Desember 2005 COD berkisar antara 51 – 85 ppm dengan rata – rata 72,3 ppm. Oksigen terlarut merupakan parameter penting untuk mengetahui kualitas suatu perairan dan mengukur pencemaran air yang terjadi, karena tanpa oksigen terlarut, maka tidak akan ada kehidupan diperairan. Kelarutan oksigen disini mendeteksi syarat minimal dari badan air yang diperbolehkan, diduga ada beberapa hal yang mempengaruhinya, misalnya dengan adanya sinar matahari maka suhu akan meningkat, adanya suhu yang tinggi maka oksigen bebas akan sulit terlarut dalam air. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mahida (1984) bahwa oksigen biologis meninggi bersamaan dengan meningkatnya suhu dan sebagaimana kebutuhan akan oksigen bertambah secara bersamaan.
pH (Potensial of Hydrogen), umumnya air yang tidak tercemar mempunyai pH 6 – 7. Hasil pengukuran pH yang telah dilakukan adalah 7,51 pada bulan Oktober 2005, pada bulan November 7,71 dan pada bulan Desember 2005 adalah 7,56. pH pada air sungai ini sesuai dengan syarat kualitas air dari badan air yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup No.-51/ MENLH/ 10/ 1995 yang mempunyai syarat pH minimal 6,0 dan syarat pH maksimal 9,0. dengan kondisi pH seperti ini ternyata mendukung pertumbuhan plankton. Nilai yang relatif sama dan memenuhi persyaratan pada pengukuran pH di 3 stasiun yang diteliti ini, dapat disebabkan karena air yang keluar dari outlet limbah diduga mempunyai karakteristik kimia penyebab nilai pH yang sama. Pada stasiun tersebut diperkirakan tidak mengandung logam – logam berat dan proporsi karbon dioksida ,yang masih baik. Selain itu pH juga merupakan suatu
29
faktor yang harus dipertimbangkan mengingat bahwa konsentrasi ion H di dalam air akan berpengaruh terhadap aktifitas pengolahan yang akan dilakukan, misalnya dalam melakukan koagulasi kimia, dan desinfeksi. Kalau air limbah memiliki pH diluar batasan yang telah ditentukan, maka biota dan bakteri yang berguna untuk menguraikan zat organik mati, sehingga kualitas air limbah akan menurun. Air yang terlalu asam akan bersifat korosif terhadap benda-benda dari logam, sehingga kurang baik untuk keperluan rumah tangga, industri dan pertanian. Bahkan keadaan ini akan menganggu kehidupan jasad renik yang ada dalam air tersebut. Sebaliknya air yang memiliki pH diatas pH normal akan bersifat basa, ini juga akan menggangu kehidupan organisme air.
Warna, warna air berkaitan erat dengan zat-zat koloid yang tersuspensi di dalamnya. Hasil pengukuran warna yang dilakukan pada ketiga stasiun adalah 133 PtCo pada bulan Oktober 2005, 128,6 PtCo pada bulan Novembr 2005 dan 178,8 PtCo pada bulan Desember 2005. Warna merupakan salah satu parameter penting dalam air limbah industri tekstil. Warna air limbah tekstil berasal dari proses pewarnaan yang menggunakan beberapa senyawa kimia. Penurunan warna dari air limbah tekstil ini disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme yang membentuk zat warna yang terdapat dalam air limbah. Warna air dapat disebabkan oleh zat – zat terlarut dari bahan organik. pengaruhnya umumnya tidak berbahaya (Sugiharto, 1987). Air limbah yang masih “segar” biasanya berwarna coklat- abu-abu. Tetapi sejalan dengan berlangsungnya suasana anaerobik, maka warnanya menjadi lebih gelap, dan terakhir air limbah disebut septik dengan warna hitam legam. Seringkali air limbah industri membawa warna
30
bermacam-macam. Bisa jadi warna tersebut terjadi oleh reaksi antara sulfida yang dibentuk pada kondisi anaerobik dengan logam yang ada didalam air limbah tersebut. Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan.
Bau, hasil pengukuran parameter bau adalah kebanyakan pada setiap stasiun selama penelitian adalah tidak berbau, walaupun pada bulan Oktober 2005 keadaan sungai berbau. Bau yang tercium adalah gas hasil pembusukan zat organik oleh bakteri anaerobik. Selain itu, ada mikroorganisme lain yang bisa merubah sulfat menjadi sulfit, dan menghasilkan gas hydrogen sulfide yang baunya seperti telur busuk. Bau yang lainnya disebabkan senyawa kimia tertentu atau senyawa yang menghasilkan bau selama berlangsungnya proses pengolahan air limbah. Pengaruh bau terhadap manusia disekitarnya tidak hanya terbatas pada efek psikologis saja, tetapi bisa menurunkan nafsu makan dan minum, menyebabkan nafas sesak, mual dan muntah. Kenaikan suhu air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut rendah akan menimbulkan bau tidak sedap akibatnya terjadi degradasi anaerobik yang mungkin terjadi (Suriwiria, 1996). Bau dan rasa dalam air juga dapat menunjukkan kemungkinan adanya organisme penghasil bau dan rasa yang tidak enak serta adanya senyawa-senyawa asing yang mengganggu kesehatan. Dapat pula menunjukkan kemungkinan timbulnya kondisi anaerobik sebagai hasil kegiatan penguraian kelompok mikroorganisme terhadap senyawa-senyawa organik.
31
2. Plankton Sebagai Indikator Pencemaran Air
Plankton merupakan salah satu indikator adanya pencemaran lingkungan. Menurut Odum (1993) plankton adalah kelompok organisme yang pergerakannya tergantung arus walaupun beberapa menunjukkan gerakan berenang aktif yang membantu mempertahankan posisi vertikal namun secara umum plankton tidak dapat melawan arus. Keberadaan jenis plankton tertentu di perairan bisa menunjukkan bahwa suatu perairan masih bersih atau sudah mengalami pencemaran.
Kehidupan organisme tak terlepas hubungan dengan kondisi lingkungan sekitarnya (Odum, 1993) dan Valiela (1991) mengelompokkan organisme perairan berdasarkan bentuk kehidupan atau kebiasaan hidupnya yaitu : Bentos, Plankton, Peryphyton, Nekton, dan Neuston.
Semua organisme akuatik termasuk plankton akan tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan perairan yang sesuai. Menurut Southwick (1976) organisme perairan sangat dipengaruhi faktor ekologis dan nutrient sehingga perubahan kondisi peraian yang mengakibatkan berubahnya faktor ekologis baik fisik, kimia, dan keadaan nutrient pasti juga mengakibatkan berubahnya kepadatan dan keanekaragaman organisme yang ada didalamnya.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan ditemukan beberapa jenis plankton yang dapat hidup di dalam perairan sungai Bade. Ditemukan beberapa jenis dari ordo Cyanophyta, Clorophyta, Euglenophyta, dan Crysophyta. Dari ketiga stasiun pengamatan, stasiun I sangat miskin plankton, tingkat kelimpahannya rendah. Hal ini terjadi karena stasiun I merupakan daerah aliran
32
sungai yang merupakan buangan langsung dari WWT, sehingga memiliki dampak limbah tekstil secara langsung. Jenis plankton, yaitu Nitzchia, Anabaena, Diatomae dan Oscillatoria yang ditemukan merupakan jenis yang mampu bertahan hidup terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Stasiun II memiliki kelimpahan plankton tinggi. Hal ini terjadi karena kondisi lingkungan cukup mendukung kehidupan mikroorganisme perairan. Nilai BOD dan COD pada stasiun II memiliki nilai di bawah ambang baku mutu sehingga sangat menguntungkan untuk kehidupan plankton. Stasiun III memiliki kelimpahan plankton lebih rendah daripada stasiun II. Hal ini terjadi karena faktor fisik dan kimia kurang mendukung, hal ini terlihat dari jumlah plankton lebih sedikit daripada stasiun I dan II ( lampiran hal. 39, 40, dan 41). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa stasiun III memiliki kualitas yang sedikit tercemar. Stasiun III terletak jauh dari pabrik, dan merupakan komplek perumahan dan tempat pedagang kaki lima, dan lagi penduduk sekitar dan para pedagang kaki lima membuang kotoran atau sampah langsung pada sungai. Akibatnya sungai menjadi tercemar, hal ini ditunjukkan dengan jumlah mikroorganisme yang lebih sedikit.
Dari data pengamatan, jenis Oscillatoria formosa, Anabaena, Nitzchia, Diatomae merupakan jenis yang banyak dijumpai, hal ini menunjukkan adanya kemampuan adaptasi dari spesies tersebut. Jenis ini merupakan jenis yang mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk. Menurut Connell (1995) Oscillatoria merupakan golongan Cyanophyta kelompok α-Mesosaprobik (tercemar) dengan β-Mesosaprobik (tercemar sedikit) yang tahan terhadap pencemaran organik Anabaena dapat menjadi petunjuk kehadiran senyawa fosfat tinggi di dalam badan air. Nitzschia menurut Connell (1995) tergolong anggota α-Mesosaprobik (tercemar). Sedangkan Mikroalga – kersik (Diatomae) lebih
33
cenderung menjadi petunjuk terhadap senyawa kimia yang bersifat toksik di dalam badan air. Sungai Bade merupakan sungai buangan dari limbah pabrik, sehingga dimungkinkan masih mengandung bahan pencemar.
Plankton sebagai salah satu organisme perairan yang menempati kedudukan paling dasar pada rantai makanan dapat digunakan sebagai indikator biologi penentu dan pemantau terjadinya pencemaran perairan. Adanya pencemaran menyebabkan keanekaragaman jenis menurun dan mata rantai makanannya menjadi lebih sederhana. Plankton merupakan makanan alami bagi organisme perairan seperti hewan-hewan bentik, dan ikan (Sachlan, 1982). Plankton dan ikan membentuk rantai penghubung yang penting antara produsen dan konsumen.
Dalam pertumbuhannya Phytoplankton dan Zooplankton membutuhkan beberapa faktor yaitu antara lain cahaya matahari, O2, CO2, garam-garam mineral yang terlarut serta suhu. Sinar matahari dimanfaatkan oleh Phytoplankton dalam proses fotosintesis. Intensitas cahaya yang terlalu kuat akan mengganggu proses fotosintesis, sedangkan pengaruhnya terhadap Zooplankton dapat mengganggu proses metabolisme.
Arus sungai yang tidak terlalu cepat menyebabkan banyaknya endapan limbah di dasar perairan sungai. Hubungan lingkungan dengan organisme-organisme cenderung komplek. Keadaan apapun yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai faktor (Odum, 1993). Plankton tidak dapat memilih tempat karena tidak mempunyai kemampuan bergerak yang berarti, gerakannya ditentukan oleh gerakan air. Menurut Odum (1993), arus amat penting sebagai faktor pembatas, terutama pada habitat air mengalir. Disamping
34
itu , arus sering kali amat menentukan distribus gas yang vital, garam dan organisme kecil. Selain itu aliran air membentuk suatu ekosistem terbuka yang bertautan dengan sistem daratan dan lentik. Kadang-kadang arus air membawa plankton dan detritus dari lingkungan air yang lebih tenang. Kecepatan arus ditentukan oleh kemiringan, kekasaran, kelebaran, dan kedalaman dasar sungai. Arus lemah memperlambat perpindahan air limbah untuk terbawa aliran kearah hilir. Hal ini berakibat banyaknya endapan tertinggal di bagian sungai yang berarus lemah sehingga dasarnya semakin dipenuhi materi limbah (stasiun I). Stasiun III memiliki jumlah plankton yang lebih sedikit daripada Stasiun II. Hanya pada bagian aliran perlahan, plankton dapat berkembangbiak dan menyatu sebagai bagian dari komunitas (Odum, 1993).
Bulan dapat dipandang sebagai variasi musim, didasarkan atas siklus waktu setahun yang tiap-tiap bulan memiliki karakteristik sendiri. Banyaknya curah hujan tiap-tiap bulan juga memberikan gambaran variasi musim. Perbedaan kondisi perairan sungai Bade pada musim kemarau dan musim hujan dimana air yang terkandung di sungai tersebut sangat sedikit. Curah hujan yang tinggi menyebabkan arus air semakin cepat dapat menghanyutkan plankton-plankton yang hidup di sungai, sesuai dengan sifat dasar plankton yang mudah terbawa arus. Perbedaan curah hujan pada tiap bulan mempengaruhi kecepatan arus di perairan sungai Bade. Makin banyak curah hujan maka kecepatan arus makin tinggi dan mengakibatkan jumlah plankton rendah. Air hujan diduga membawa zat hara yang dapat menimbulkan perubahan pada perairan sungai Bade, karena
35
air hujan bukan merupakan air murni. Air sungai umumnya mengandung unsur-unsur hara, baik yang berasal dari alam sendiri maupun dari limbah.
APHA (1976) menerangkan bahwa peranan Phytoplankton yang lain dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa suatu perairan belum terpolusi adalah Melosira islandica, Cyclotella ocelata dan jenis-jenis dari Dinobrion, sedangkan jenis-jenis yang dapat menunjukkan bahwa suatu perairan mengandung polutan adalah Nitzscia palea, Microcystis aeruginosa, Aplmizo menon flos-aquae.
Kualitas air memegang peranan penting dalam perairan. Kualitas air juga mempengaruhi seluruh komunitas perairan seperti bakteri, tanaman air, ikan, Zooplankton, Phytoplankton dan sebagainya ( Zonneveld, 1991).
Pencemaran air sering terjadi, hal ini dikarenakan perairan mempunyai peluang yang paling besar dalam menerima limbah buangan, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri. Dalam hal ini adalah pewarnaan, akibatnya terjadi perubahan ekosistem bagi makhluk hidup yang ada di air tersebut, dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi Industri akan terkena dampak perubahan lingkungan.
Dari hasil pengamatan, baik faktor fisika dan kimia parameter kualitas air menunjukkan bahwa baik faktor fisika maupun kimia pada setiap stasiun mempunyai nilai di bawah baku mutu limbah cair sesuai dengan UU No – 51/ MENLH/ 10/ 1995. Hal ini terbukti bahwa faktor fisika dan kimia mendukung kehidupan organisme di perairan tersebut. Ini artinya bahwa pengolahan limbah yang dilakukan WWT PT. APAC INTI CORPORA telah sesuai dengan tahap-tahap pengolahan sehingga dapat menekan limbah hasil produksi pabrik. Limbah yang dibuang cukup aman bagi lingkungan perairan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan adalah sebagai berikut :
1. Bahwa pengolahan limbah yang dilakukan oleh WWT PT. APAC INTI CORPORA telah sesuai dengan tahap – tahap yang berlaku dan hasil olahan limbah sesuai dengan Baku Mutu Limbah Cair untuk Industri Tekstil SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-51/ MENLH/ 10/ 1995.
2. Ditinjau dari konsentrasi , semua parameter - parameter kualitas air yang diamati di sungai Bade memenuhi syarat Baku Mutu Air Limbah Tekstil sesuai dengan SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-51/ MENLH/ 10/ 1995.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan adalah :
1. Perlunya mempertahankan kualitas air limbah yang dibuang ke lingkungan supaya selalu memenuhi Baku Mutu yang disyaratkan.
2. Perlu dilakukan penelitian yang lebih seksama dengan perlakuan tanaman air sebagai bioindikator pencemaran air limbah.
3. Perlunya kerjasama dengan penduduk sekitar agar menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah di sungai.
36
37
DAFTAR PUSTAKA
APHA. 1976. Standard Methods for The Examination of Water and Wastewater. 14 th Ed. American Pub. Health Ass. Washington
Anonim, 1988. Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Jakarta : Sekretariat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.
, 1995. Himpunan Peraturan di Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL).
Connell, W. Des dan Miller, J. Gregory. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Penerjemah Yanti Koestoer. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Darsono Velentinus. 1995. Pengantar Ilmu Lingkungan. Penerbit Universitas Atma Jaya. Yogyakarta
Dwidjoseputro. D. 1991.Ekologi, Manusia dengan lingkungan. Erlangga PT. Gelora Aksara Pratama. Jakarta
Fuad, C. Artilah. Rahmat, A. 1992. Pengelolaan Kualitas Air Kolam Ikan. Jakarta : Jakarta Press.
Hadi Risnandar dan Yulianto Kurniawan. 1998. Penyerapan Zat Warna Tekstil dengan Menggunakan Jerami Padi. Laporan Penelitian. Semarang : FT Undip
Hadisubroto, T., 1989. Ekologi Dasar. Jakarta. Dep.Dikbud.
Hindarko. S. 2002. Mengolah Air Limbah – Supaya Tidak Mencemari Orang Lain. Penerbit Esha Seri Lingkungan Hidup.
Hutabarat, S dan SM, Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta : Universitas Indonesia. Press.
Nemerow, N.L. 1978. Industrial Water Pollution Origins Characteristics and Treatment Addison. Wesley Publ. Comp. Philippines.
Kristanto Philip. 2002. Ekologi Industri. LPPM. Penerbit ANDI Yogyakarta
Kusnadi, Peristiwati, Sulasmi Ammi, Purwianingsih Widi, Rochintaniawati Dian. 2003. Mikrobiologi. Technical Cooperation Project For Devopment of Science and Methematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia (IMSTEP). JICA. Bandung
37
38
Mahida,U.N. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah. Rajawali. Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Penerjemah Tjahjono Samingan. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Semarang : Universitas Diponegoro. Press.
Sastrawijaya, A.T. 1991. Pencemaran Lingkungan. PT. Rineka Cipta. Surabaya.
Sinung Rahayu. 2003. Produktifitas Plankton Ditinjau dari Kepadatan, Keragaman serta Komposisi dan Frekuensi pada Waktu Pagi, Siang, dan Sore di Kolam Ikan Desa Muncul Kec. Banyubiru. Skripsi. Fak. Biologi UKSW. Salatiga
Sugiharto. 1987. Dasar – dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta.
Southwick, C. H. 1976. Ecology and the Quality of Our Environmental. Second ed. D. Van Nostrand Company.
Sumarwoto, O. 1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta CV. Rajawali.
Sunu Pramudya, 2001. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. Penerbit PT Grasindo. Jakarta : Gramedia.
Suratno, F.G. 1998. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Universitas Gajah Mada Press. Cetakan 8. Yogjakarta.
Suriawiria, U., 1996. Mikroba Air dan Dasar-dasar Pengolahan Bahan Buangan Secara Biologis. Bandung : Alumni
Surna, T. D. dan Harry, H.A., 1993. Penilaian Secara Cepat Sumber - Sumber Pencemaran Air, Tanah, dan Udara. Yogyakarta : UGM Press.
Valiela, I. 1991. Ecology of Water Columns in Fundamental of Aquatic Ecology. Edited by R.S. Barness and K.H. Mann. Second ed. Blackwell Scientific Publications Oxford. UK.
Winarni Chartib dan Oriyati Sunaryo. 1980. Teori Penyempurnaan Tekstil 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung : Rosda Offset
Zonneveld N, Huisman E. A. dan Boon J. H. 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan Nila. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.NCEMARAN AIR “

PARAMETER PENCEMAR UDARA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN


PARAMETER PENCEMAR UDARA
DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen
lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya
dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal.
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat
berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut
merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat
disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari
pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan
manusia.
Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar manusia perlu mendapatkan perhatian yang serius, hal
ini pula menjadi kebijakan Pembangunan Kesehatan Indonesia 2010 dimana program pengendalian pencemaran udara
merupakan salah satu dari sepuluh program unggulan.
Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan
memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi didalam
ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan
penyakit.
Diperkirakan pencemaran udara dan kebisingan akibat kegiatan industri dan kendaraan bermotor akan meningkat 2 kali pada
tahun 2000 dari kondisi tahun 1990 dan 10 kali pada tahun 2020.
Hasil studi yang dilakukan oleh Ditjen PPM & PL, tahun 1999 pada pusat keramaian di 3 kota besar di Indonesia seperti
Jakarta, Yogyakarta dan Semarang menunjukkan gambaran sebagai berikut : kadar debu (SPM) 280 ug/m3, kadar SO2 sebesar
0,76 ppm, dan kadar NOx sebesar 0,50 ppm, dimana angka tersebut telah melebihi nilai ambang batas/standar kualitas udara.
Hasil pemeriksaan kualitas udara disekitar stasiun kereta api dan terminal di kota Yogyakarta pada tahun 1992 menunjukkan
kualitas udara sudah menurun, yaitu kadar debu rata-rata 699 ug/m3, kadar SO2 sebesar 0,03–0,086 ppm, kadar NOx sebesar
0,05 ppm dan kadar Hidro Karbon sebesar 0,35–0,68 ppm.
Kondisi kualitas udara di Jakarta Khususnya kualitas debu sudah cukup memprihatinkan, yaitu di Pulo Gadung rata-rata 155
ug/m3, dan Casablanca rata-rata 680 ug/m3, Tingkat kebisingan pada terminal Tanjung Priok adalah rata-rata 74 dBA dan di
sekitar RSUD Koja 63 dBA.
Disamping kualitas udara ambien, kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) juga merupakan masalah yang perlu
mendapat perhatian karena akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Timbulnya kualitas udara dalam ruangan
umumnya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kurangnya ventilasi udara (52%) adanya sumber kontaminasi di dalam ruangan
(16%) kontaminasi dari luar ruangan (10%), mikroba (5%), bahan material bangunan (4%) , lain-lain (13%).
Sumber pencemaran udara dapat pula berasal dari aktifitas rumah tangga dari dapur yang berupa asap, Menurut beberapa
penelitian pencemaran udara yang bersumber dari dapur telah memberikan kontribusi yang besar terhadap penyakit ISPA.
Dari hasil penelitian pengaruh pencemaran udara terhadap kesehatan yang dilakukan oleh FKM–UI tahun 1987 terhadap
spesimen darah pekerja jalan tol Jagorawi, menunjukkan kadar Timah Hitam adalah 3,92-7,59 ug/dl. Kemudian pada
pengemudi dan petugas polantas diatas 40 ug/dl. Sedangkan kadar timah hitam di udara kota Jakarta berkisar antara 0,2-1,8
ug/m3. Diperkirakan 1 ug/dl timbal di udara sudah dapat menyebabkan tercemarnya darah oleh timbal sekitar 2,5- 5,3 ud/dl.
Selanjutnya akumulasi timbal sebesar 10 ug/dl dalam darah dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak hingga 2,5 poin.
Diperkisakan pada tahun 1999 sebesar 1 juta poin tingkat kecerdasan anak-anak di Jakarta telah hilang.
Hasil penelitian 1998 pada 131 anak sekolah usia 7 tahun di Jakarta dilaporkan terdapat kandungan Timbal dalam darah
sebesar 7,7 ug/dl.
Kejadian kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi berbagai pihak,
khususnya sektor kesehatan. Akibat yang terjadi tidak dapat dihindarkan adalah menurunnya kualitas udara sampai taraf yang
membahayakan kesehatan dan akhirnya menimbulkan dan meningkatkan gangguan penyakit saluran pernafasan seperti ISPA,
asthma dan pneumonia serta penyakit mata. Tercatat di beberapa lokasi debu mencapai 10 kali lebih besar dibanding dengan
baku mutu lingkungan yang ditetapkan, dan masyarakat yang memerlukan pengobatan di berbagai sarana pelayanan
kesehatan meningkat tajam. Penderita ISPA pada daerah bencana asap meningkat sebesar 1,8-3,8 kali lebih besar dari jumlah
penderita ISPA pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.
Pada saat kebakaran hutan tahun yang lalu, kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat sudah pada taraf membahayakan
Kesehatan dimana kadar debu mencapai angka di atas 1.490 ug/m3, dimana batas ambang yang diperkenankan sebesar 230
ug/m3. Kabut asap akibat kebakaran hutan yang telah merambah ke berbagai propinsi, seperti Kalimantan Tengah, Sumatera
Utara dan Riau, bahkan telah berpengaruh sampai wilayah manca negara seperti Malaysia dan Thailand.
Mengingat bahayanya pencemaran udara terhadap kesehatan sebagaimana kasus-kasus tersebut diatas, maka dipandang perlu
bagi petugas kesehatan di daerah untuk mengetahui berbagai parameter pencemar seperti : sifat bahan pencemar, sumber
dan distribusi, dan dampak yang mungkin terjadi juga cara pengendalian, maka diperlukan suatu pedoman atau acuan dalam
rangka meminimalkan terjadi dampak terhadap kesehatan .
Jenis parameter pencemar udara dalam buku pedoman ini didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, yang meliputi : Sulfur dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2),
Oksidan (O3), Hidro karbon (HC), PM 10 , PM 2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam), Dustfall (debu jatuh). Empat parameter yang
lain (Total Fluorides (F), Fluor Indeks, Khlorine & Khlorine dioksida, Sulphat indeks) akan dibahas kemudian karena merupakan
parameter pencemaran udara yang diberlakukan untuk daerah/kawasan industri kimia dasar.
II. RUANG LINGKUP
Buku pedoman ini berisi tentang karakteristik sifat fisika dan kimia, sumber dan distribusi, dampak terhadap kesehatan serta
cara pengendalian bahan pencemar udara.
III. TUJUAN
A. UMUM
Terwujudnya kualitas udara yang memenuhi syarat serhingga dapat memberikan kenyamanan dan kesehatan bagi
masyarakat.
B. KHUSUS
1. Dapat diketahuinya karakteristik dan sumber pencermar udara di lingkungan.
2. Dapat diketahuinya dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh parameter pencemar udara dan dapat mengambil
tindakan pengandalian.
IV. SASARAN
Buku pedoman ini dimaksudkan sebagai pegangan bagi petugas kesehatan dan pihak-pihak lain yang berhubungan
dengan pencemaran udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
BAB II
PARAMETER PENCEMAR UDARA
1. SULFUR DIOKSIDA
A. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur
dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), dan keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida mempunyai karakteristik
bau yang tajam dan tidak mudah terbakar diudara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung Sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi jumlah relatif
masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah
SO3 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx.
Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :
S + O2 < --------- > SO2
2 SO2 + O2 < --------- > 2 SO3
SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika konsentrasi uap air sangat
rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO3 dan uap air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (
H2SO4 ) dengan reaksi sebagai berikut :
SO SO2 + H2O2 ------------ > H2SO4
Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4 Tetapi jumlah H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada
yang dihasilkan dari emisi SO3 hal ini menunjukkan bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme lainnya.
Setelah berada diatmosfir sebagai SO2 akan diubah menjadi SO3 (Kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan
katalitik Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang tersedia,
intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari, Jumlah bahan katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada
malam hari atau kondisi lembab atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air alkalin dan bereaksi pada kecepatan
tertentu untuk membentuk sulfat di dalam droplet.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2.
Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber
alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat
oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak
merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih
tersebar merata. Tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran Sox, misalnya pembakaran
arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SOx yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian
petroleum, industri asam sulfat, industri peleburan baja dan sebagainya.
Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan Sox. Hal ini disebabkan adanya elemen penting alami
dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga ( CUFeS2 dan CU2S ), zink (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS).
Kerbanyakan senyawa logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah
tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehandaki didalam logam dan biasanya lebih mudah untuk
menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin
diproduksi sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada tanaman terjadi pada kadasr sebesar
0,5 ppm.
Pengaruh utama polutan Sox terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi
pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita
yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.
Individu dengan gejala penyakit tersebut sangat sensitif terhadap kontak dengan SO2, meskipun dengan kadar yang relatif
rendah. Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah sebagai berikut :
Konsentrasi ( ppm ) Pengaruh
3 – 5 Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya
8 – 12 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan
20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata
20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan batuk
20 Maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam waktu lama
50 – 100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat ( 30 menit )
400 -500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat
D. PENGENDALIAN
1. PENCEGAHAN
D.1.1 Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
c) Memasang filter pada knalpot
D.1.2 Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
c) Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur rendah.
D.1.3 Bahan Baku
a) Pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur pengamanan.
D.1.4 Manusia
Apabila kadar SO2 dalam udara ambien telah melebihi Baku Mutu (365mg/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran
24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan, dilakukan upaya-upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas diluar rumah.
2. PENANGGULANGAN
1) Memperbaiki alat yang rusak
2) Penggantian saringan/filter
3) Bila terjadi/jatuh korban, maka lakukan :
· Pindahkan korban ke tempat aman/udara bersih.
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
· Kirim segera ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat.
2. CARBON MONOKSIDA
A. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak
sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak
berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai
potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia,
Korban monoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan
badai listrik alam.
Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi,
Jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta Ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan
bermotor yang menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran
batubara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak
90% dari CO diudara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga
para perokok dapat memajan dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya.
Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa
penelitian ditemukan kadar CO yang cukup tinggi didalam kendaraan sedan maupun bus.
Kadar CO diperkotaan cukup bervariasi tergantung dari kepadatan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar
bensin dan umumnya ditemukan kadar maksimum CO yang bersamaan dengan jam-jam sibuk pada pagi dan malam hari.
Selain cuaca, variasi dari kadar CO juga dipengaruhi oleh topografi jalan dan bangunan disekitarnya. Pemajanan CO dari udara
ambien dapat direfleksikan dalam bentuk kadar karboksi-haemoglobin (HbCO) dalam darah yang terbentuk dengan sangat
pelahan karena butuh waktu 4-12 jam untuk tercapainya keseimbangan antara kadar CO diudara dan HbCO dalam darah Oleh
karena itu kadar CO didalam lingkungan, cenderung dinyatakan sebagai kadar rata-rata dalam 8 jam pemajanan Data CO yang
dinyatakan dalam rata-rata setiap 8 jam pengukuran sepajang hari (moving 8 hour average concentration) adalah lebih baik
dibandingkan dari data CO yang dinyatakan dalam rata-rata dari 3 kali pengukuran pada periode waktu 8 jam yang berbeda
dalam sehari. Perhitungan tersebut akan lebih mendekati gambaran dari respons tubuh manusia tyerhadap keracunan CO dari
udara.
Karbon monoksida yang bersumber dari dalam ruang (indoor) terutama berasal dari alat pemanas ruang yang menggunakan
bahan bakar fosil dan tungku masak. Kadar nya akan lebih tinggi bila ruangan tempat alat tersebut bekerja, tidak memadai
ventilasinya. Namun umunnya pemajanan yang berasal dari dalam ruangan kadarnya lebih kecil dibandingkan dari kadar CO
hasil pemajanan asap rokok.
Beberapa Individu juga dapat terpajan oleh CO karena lingkungan kerjanya. Kelompok masyarakat yang paling terpajan oleh
CO termasuk polisi lalu lintas atau tukang pakir, pekerja bengkel mobil, petugas industri logam, industri bahan bakar bensin,
industri gas kimia dan pemadam kebakaran.
Pemajanan Co dari lingkungan kerja seperti yang tersebut diatas perlu mendapat perhatian. Misalnya kadar CO di bengkel
kendaraan bermotor ditemukan mencapai setinggi 600 mg/m3 dan didalam darah para pekerja bengkel tersebut bisa
mengandung HbCO sampai lima kali lebih tinggi dari kadar nomal. Para petugas yang bekerja dijalan raya diketahui
mengandung HbCO dengan kadar 4–7,6% (porokok) dan 1,4–3,8% (bukan perokok) selama sehari bekarja. Sebaliknya kadar
HbCO pada masyarakat umum jarang yang melampaui 1% walaupun studi yang dilakukan di 18 kota besar di Amerika Utara
menunjukan bahwa 45 % dari masyarakat bukan perokok yang terpajan oleh CO udara, di dalam darahnya terkandung HbCO
melampaui 1,5%. Perlu juga diketahui bahwa manusia sendiri dapat memproduksi CO akibat proses metabolismenya yang
normal. Produksi CO didalam tubuh sendiri ini (endogenous) bisa sekitar 0,1+1% dari total HbCO dalam darah.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel
darah merah yang mengakut oksigen keseluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang
200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya
kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat
serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga
dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampat keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang
telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah.
Dampak dari CO bervasiasi tergangtung dari status kesehatan seseorang pada saat terpajan .Pada beberapa orang yang
berbadan gemuk dapat mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya mencapai 40% dalam waktu singkat.
Tetapi seseorang yang menderita sakit jantung atau paru-paru akan menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam darahnya
sebesar 5–10%.
Pengaruh CO kadar tinggi terhadap sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskular telah banyak diketahui. Namun respon dari
masyarakat berbadan sehat terhadap pemajanan CO kadar rendah dan dalam jangka waktu panjang, masih sedikit diketahui.
Misalnya kinerja para petugas jaga, yang harus mempunyai kemampuan untuk mendeteksi adanya perubahan kecil dalam
lingkungannya yang terjadi pada saat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya dan membutuhkan kewaspadaan tinggi dan
terus menerus, dapat terganggu/ terhambat pada kadar HbCO yang berada dibawah 10% dan bahkan sampai 5% (hal ini
secara kasar ekivalen dengan kadar CO di udara masing-masing sebesar 80 dan 35 mg/m3) Pengaruh ini terlalu terlihat pada
perokok, karena kemungkinan sudah terbiasa terpajan dengan kadar yang sama dari asap rokok.
Beberapa studi yang dilakukan terhadap sejumlah sukarelawan berbadan sehat yang melakukan latihan berat (studi untuk
melihat penyerapan oksigen maksimal) menunjukkan bahwa kesadaran hilang pada kadar HbCO 50% dengan latihan yang
lebih ringan, kesadaran hilang pada HbCo 70% selama 5-60 menit. Gangguan tidak dirasakan pada HbCO 33%, tetapi denyut
jantung meningkat cepat dan tidak proporsional. Studi dalam jangka waktu yang lebih panjang terhadap pekerja yang bekerja
selama 4 jam dengan kadar HbCO 5-6% menunjukkan pengaruh yang serupa terhadap denyut jantung, tetapi agak berbeda.
Hasil studi diatas menunjukkan bahwa paling sedikit untuk para bukan perokok, ternyata ada hubungan yang linier antara
HbCO dan menurunnya kapasitas maksimum oksigen.
Walaupun kadar CO yang tinggi dapat menyebabkan perubahan tekanan darah, meningkatkan denyut jantung, ritme jantung
menjadi abnormal gagal jantung, dan kerusakan pembuluh darah periferal, tidak banyak didapatkan data tentang pengaruh
pemajanan CO kadar rendah terhadap sistim kardiovaskular.
Hubungan yang telah diketahui tentang merokok dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner menunjukkan bahwa CO
kemungkinan mempunyai peran dalam memicu timbulnya penyakit tersebut (perokok berat tidak jarang mengandung kadar
HbCO sampai 15 %). Namun tidak cukup bukti yang menyatakan bahwa karbon monoksida menyebabkan penyakit jantung
atau paru-paru, tetapi jelas bahwa CO mampu untuk mengganggu transpor oksigen ke seluruh tubuh yang dapat berakibat
serius pada seseorang yang telah menderita sakit jantung atau paru-paru.
Studi epidemiologi tentang kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dan kadar CO di udara yang dibagi berdasarkan
wilayah, sangat sulit untuk ditafsirkan. Namun dada terasa sakit pada saat melakukan gerakan fisik, terlihat jelas akan timbul
pada pasien yang terpajan CO dengan kadar 60 mg/m3, yang menghasilkan kadar HbCO mendekati 5%. Walaupun wanita
hamil dan janin yang dikandungnya akan menghasilkan CO dari dalam tubuh (endogenous) dengan kadar yang lebih tinggi,
pajanan tambahan dari luar dapat mengurangi fungsi oksigenasi jaringan dan plasental, yang menyebabkan bayi dengan berat
badan rendah. Kondisi seperti ini menjelaskan mengapa wanita merokok melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah dari
normal. Masih ada dua aspek lain dari pengaruh CO terhadap kesehatan yang perlu dicatat. Pertama, tampaknya binatang
percobaan dapat beradaptasi terhadap pemajanan CO karena mampu mentolerir dengan mudah pemajanan akut pada kadar
tinggi, walaupun masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Kedua, dalam kaitannya dengan CO di lingkungan kerja yang
dapat menggangggu pertubuhan janin pada pekerja wanita, adalah kenyataan bahwa paling sedikit satu jenis senyawa
hidrokarbon-halogen yaitu metilen khlorida (dikhlorometan), dapat menyebabkan meningkatnya kadar HbCO karena ada
metobolisme di dalam tubuh setelah absorpsi terjadi.
Karena senyawa diatas termasuk kelompok pelarut (Sollvent) yang banyak digunakan dalam industri untuk menggantikan
karbon tetrakhlorida yang beracun, maka keamanan lingkungan kerja mereka perlu ditinjau lebih lanjut.
D. PENGENDALIAN
1. PENCEGAHAN
D.1.1 Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala.
c) Memasang filter pada knalpot.
D.1.2 Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
c) Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar CO rendah.
D.1.3 Manusia
Apabila kadar CO dalam udara ambien telah melebihi baku mutu ( 10.000 ug/Nm3 udara dengan rata-rata
waktu pengukuran 24 jam ) maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya:
a) Menggunakan alat pelindung diri ( APD ) seperti masker gas.
b) Menutup / menghindari tempat-tempat yang diduga mengandung CO seperti sumur tua , Goa , dll.
E. PENANGGULANGAN
a) Mengatur pertukaran udara didalam ruang seperti mengunakan exhaust-fan.
b) Bila terjadi korban keracunan maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan
· Kirim segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat
3. NITROGEN DIOKSIDA
A. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan
nitrogen dioksida (NO2). Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang paling banyak diketahui
sebagai bahan pencemar udara. Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen
dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam.
Nitrogen monoksida terdapat diudara dalam jumlah lebih besar daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi
antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen
membentuk NO2.
Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen. Pada suhu kamar, hanya sedikit kecendrungan nitrogen dan
oksigen untuk bereaksi satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (diatas 1210°C) keduanya dapat bereaksi membentuk
NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan pencemaran udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan
biasanya mencapai 1210 – 1.765 °C, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan
NO merupakan hasil samping dari proses pembakaran.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen ( NOx ) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang
diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar
secara merata sehingga jumlah nya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah pencemaran NO yang diproduksi oleh
kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat tertentu.
Kadar NOx diudara perkotaan biasanya 10–100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx diudara daerah
perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena
sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh
kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari
pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin.
Kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar mataharia dan aktivitas
kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut :
a) Sebelum matahari terbit, kadar NO dan NO2 tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi dari kadar minimum seharihari.
b) Setelah aktifitas manusia meningkat ( jam 6-8 pagi ) kadar NO meningkat terutama karena meningkatnya aktivitas
lalulintas yaitu kendaraan bermotor. Kadar NO tetinggi pada saat ini dapat mencapai 1-2 ppm.
c) Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar NO2 ( sekunder ) kadar NO2 pada saat ini
dapat mencapai 0,5 ppm.
d) Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar NO sampai 0,1 ppm.
e) Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari ( jam 5-8 malam ) kadar NO meningkat kembali.
f) Energi matahari tidak mengubah NO menjadi NO2 (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi O3 yang terkumpul sepanjang
hari akan bereaksi dengan NO. Akibatnya terjadi kenaikan kadar NO2 dan penurunan kadar O3.
g) Produk akhir dari pencemaran NOx di udara dapat berupa asam nitrat, yang kemudian diendapkan sebagai garamgaram
nitrat didalam air hujan atau debu. Merkanisme utama pembentukan asam nitrat dari NO2 di udara masih
terus dipelajari Salah satu reaksi dibawah ini diduga juga terjadi diudara tetapi diudara tetapi peranannya mungkin
sangat kecil dalam menentukan jumlah asam nitrat di udara.
h) Kemungkinan lain pembentukan HNO3 didalam udara tercemar adalah adanya reaksi dengan ozon pada kadar NO2
maksimum O3 memegang peranan penting dan kemungkinan terjadi tahapan reaksi sebagai berikut :
O3 + NO2 ----à NO3 + O2
NO3 + NO2 -----àN2O5
N2O5 + 2HNO3 ----à 2HNO3
Reaksi tersebut diatas masih terus dibuktikan kebenarannya, tetapi yang penting adalah bahwa proses-proses
diudara mengakibatkan perubahan NOx menjadi HNO3 yang kemudian bereaksi membentuk partikel-partikel.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun
daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Diudara ambien
yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Penelitian terhadap hewan percobaan yang
dipajankan NO dengan dosis yang sangat tinggi, memperlihatkan gejala kelumpuhan sistim syarat dan kekejangan. Penelitian
lain menunjukkan bahwa tikus yang dipajan NO sampai 2500 ppm akan hilang kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika
kemudian diberi udara segar akan sembuh kembali setelah 4–6 menit. Tetapi jika pemajanan NO pada kadar tersebut
berlangsung selama 12 menit, pengaruhnya tidak dapat dihilangkan kembali, dan semua tikus yang diuji akan mati.
NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar
binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar
NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau
kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
D. PENGENDALIAN
D.1. PENCEGAHAN
D.1.1. Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala.
c) Memasang filter pada knalpot.
D.1.2. Sumber Tidak Bergerak
a) Mengganti peralatan yang rusak.
b) Memasang scruber pada cerobong asap.
c) Memodifikasi pada proses pembakaran.
D.1.3. Manusia
Apabila kadar NO2 dalam udara ambien telah melebihi baku mutu ( 150 mg/Nm3 dengan waktu pengukur 24 jam) maka untuk
mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.
D.2. PENANGGULANGAN
a) Mengatur pertukaran udara di dalam ruang, seperti mengunakan exhaust-fan.
b) Bila terjadi korban keracunan, maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasaan buatan.
· Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.
4. OKSIDAN
A. SIFAT FISIK DAN KIMIA
Oksidan (O3) merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai pengoksidasi. Oksidan adalah komponen
atmosfir yang diproduksi oleh proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang membutuhkan sinar matahari mengoksidasi
komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen. Senyawa yang terbentuk merupakan bahan pencemar sekunder
yang diproduksi karena interaksi antara bahan pencemar primer dengan sinar.
Hidrokarbon merupakan komponen yang berperan dalam produksi oksidan fotokimia. Reaksi ini juga melibatkan siklus fotolitik
NO2. Polutan sekunder yang dihasilkan dari reaksi hidrokarbon dalam siklus ini adalah ozon dan peroksiasetilnitrat.
OZON
Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di
alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan lain dengan bahan pencemar udara Ozon sangat berguna untuk melindungi
bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk diudara pada ketinggian 30 km dimana radiasi UV matahari dengan
panjang gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom oksigen tergantung dari jumlah
molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat didaerah
panjang gelombang 240-320 nm. Absorpsi radiasi elektromagnetik oleh ozon didaerah ultraviolet dan inframerah digunakan
dalam metode-metode analitik.
PEROKSIASETILNITRAT
Proses-proses fotokimia menghasilkan jenis-jenis pengoksidasi lain –selain ozon, termasuk peroksiasilinitrat yang mempunyai
struktur sebagai berikut :
O
R – C
0 0 N O 2
R = CH3 : peroksiasetilnitrat ( PAN )
R = C2H5 : peroksipropionilnitrat ( PPN )
R = C6H5 : peroksibenzoilnitrat ( PBzN )
Meskipun untuk setiap jenis peroksiasetilnitrat sudah diberikan perhatian, data monitoring yang tersedia hanya untuk
peroksiasetilnitrat. Peroksiasrtilnitrat mempunyai 2 ciri yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya peroksiasetilnitrat
kadar rendah. Ciri pertama adalah absorpsi di daerah inframerah dan kemampuan dalam menangkap elektron. Ciri kedua
digunakan sebagai dasar metoda pengukuran kadar peroksiasetilnitrat di udara secara khromatografi.
OKSIDAN LAIN
Hidrogen peroksida telah diidentifikasi sebagai oksidan fotokimia yang potensial. Akan tetapi hidrogen peroksida ini merupakan
senyawa yang sangat sulit dideteksi secara spesifik di udara. Oleh arena itu tidak mungkin memperkirakan dengan pasti bahwa
hidrogen peroksida sebagai pencemar fotokimia udara.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Yang dimaksud dengan oksidan fotokimia meliputi Ozon, Nitrogen dioksida, dan peroksiasetilnitrat (PAN) karena lebih dari 90%
total oksidan terdapat dalam bentuk ozon maka hasil monitoring udara ambien dinyatakan sebagai kadar ozon. Karena
pengaruh pencemaran udara jenis oksidan cukup akut dan cepatnya perubahan pola pencemaran selama sehari dan dari suatu
tempat ketempat lain, maka waktu dimana kadar Ozon paling tinggi secara umum ditentukan dalam pemantauan. Mencatat
jumlah perjam per hari, perminggu, per musim atau per tahun selama kadar tertentu dilampaui juga merupakan cara yang
berguna untuk melaporkan sejauh mana Ozon menjadi masalah.
Kadar ozon alami yang berubah-ubah sesuai dengan musim pertahunnya berkisar antara 10–100mg/m3 (0,005–0,05 ppm).
Diwilayah pedesaan kadar ozon dapat menjadi tinggi karena adanya kiriman jarak jauh O3 dari udara yang berasal dari
perkotaan. Didaerah perkotaan yang besar, tingkat ozon atau total oksidan maksimum 1 jam dapat berkisar dari 300–800 mg/
m3 (0,15-0,40 ppm) atau lebih.
5–30% hasil pemantauan di beberapa kota besar didapatkan kadar oksida maksimum 1jam yang melampaui 200 mg/m3 (0,1
ppm).
Peroksiasetilnitrat umumnya terbentuk secara serentak bersama dengan ozon. Pengukuran kadar PAN di udara ambien yang
telah dilakukan relatif sedikit, tetapi dari hasil pengukuran Pb dapat diamati perbandingan antara PAN dengan ozon antara 1:50
dan 1:100, dan variasi kadar kadang-kadang mengikuti ozon.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Oksidan fotokimia masuk kedalam tubuh dan pada kadar subletal dapat mengganggu proses pernafasan normal, selain itu
oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata.
Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang diberi perlakuan kontak dengan ozon, sampai dengan kadar 0,2 ppm
tidak ditemukan pengaruh apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kontak dengan
Ozon pada kadar 1,0–3,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan
koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm selama beberapa waktu akan mengakibatkan
edema pulmonari.
Pada kadar di udara ambien yang normal, peroksiasetilnitrat (PAN) dan Peroksiabenzoilnitrat (PbzN) mungkin menyebabkan
iritasi mata tetapi tidak berbahaya bagi kesehatan. Peroksibenzoilnitrat (PbzN) lebih cepat menyebabkan iritasi mata.
5. HIDROKARBON
A. SIFAT / KARASTERISTIK
Struktur Hidrokarban (HC) terdiri dari elemen hidrogen dan korbon dan sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon
yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin
tinggi jumlah atom karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4
atom karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan
padatan.
HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan
membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal
menjadi debu.
Berdasarkan struktur molekulnya, hidrokarbon dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu hidrokarban alifalik, hidrokarbon
aromatik dan hidrokarbon alisiklis. Molekul hidrokarbon alifalik tidak mengandung cincin atom karbon dan semua atom karbon
tersusun dalam bentuk rantai lurus atau bercabang.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Sebagai bahan pencemar udara, Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian
merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung,
sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan
polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin,
pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan emisi industri sebesar 10 % berupa HC.
Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi. Kondisi mesin yang kurang baik akan menghasilkan HC. Pada
umumnya pada pagi hari kadar HC di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan
kemudian menurun lagi pada malam hari.
Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama proses biologi aktivitas
geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi dan sebagainya Jumlah yang cukup besar juga
berasal dari proses dekomposisi bahan organik pada permukaan tanah, Demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan
dan kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di atmosfir.
C. DAMPAK KESEHATAN
Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic
hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan
menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.
Pengaruh hidrokarbon aromatic pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini.
Jenis Hidrokarbon Konsentrasi ( ppm ) Dampak Kesehatan
Benzene ( C6H6 ) 100 Iritasi membran mukosa
3.000 Lemas setelah ½ - 1 Jam
7.500 Pengaruh sangat berbahaya setelah pemaparan 1 jam
20.000 Kematian setelah pemaparan 5 –10 menit
Toluena ( C7H8 ) 200 Pusing lemah dan berkunang-kunang setelah pemaparan 8 jam
600 Kehilangan koordinasi bola mata terbalik setelah pemaparan 8 jam
D. PENGENDALIAN
1. PENCEGAHAN
D.1.1 Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi secara berkala dan KIR kendaraan.
c) Memasang filter pada knalpot.
D.1.2 Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Memodifikasi pada proses pembakaran.
D.1.3 Manusia
Apabila kadar oksidan dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (235 mg/Nm3 dengan waktu pengukuran 1jam) maka
untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya:
a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.
2. PENANGGULANGAN
a) Mengganti peralatan yang rusak.
b) Mengatur pertukaran udara didalam ruang, seperti menggunakan exhaust-fan.
c) Bila jatuh korban keracunan maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
· Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.
6. KHLORIN
A. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Senyawa khlorine yang mengandung khlor yang dapat mereduksi atau mengkonversi zat inert atau zat kurang aktif dalam air,
yang termasuk senyawa khlorin adalah asam hipokhlorit (HOCL) dan garam hipokhlorit (OCL).
Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan
20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang
dunia ke-1.
B. SUMER DAN DISTRIBUSI
Khlorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk khlorinasi pada proses produksi yang
menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya polivinil khlorida), insektisida (DDT, Lindan, dan aldrin) dan
herbisida (2,4 dikhloropenoksi asetat) selain itu [juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan
sellulosa, industri kertas, pabrik pencucian (tekstill) dan desinfektan untuk air minum dan kolam renang.
Terbentuknya gas khlorin di udara ambien merupakan efek samping dari proses pemutihan (bleaching) dan produksi zat/
senyawa organik yang mengandung khlor. Karena banyaknya penggunaan senyawa khlor di lapangan atau dalam industri
dalam dosis berlebihan seringkali terjadi pelepasan gas khlorin akibat penggunaan yang kurang efektif. Hal ini dapat
menyebabkan terdapatnya gas pencemar khlorin dalam kadar tinggi di udara ambien.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk
dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif
dan menyebabkan iritasi dan peradangan. diudara ambien, gas khlorin dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan
oksigen seperti terlihat dalam reaksi dibawah ini :
CL2 + H2O ---------à HCL + HOCL
8 HOCl ---------à 6 HCl + 2HclO3 + O3
Dengan adanya sinar matahari atau sinar terang maka HOCl yang terbentuk akan terdekomposisi menjadi asam khlorida dan
oksigen.
Selain itu gas khlorin juga dapat mencemari atmosfer. Pada kadar antara 3,0 – 6,0 ppm gas khlorin terasa pedas dan
memerahkan mata. Dan bila terpapar dengan kadar sebesar 14,0 – 21,0 ppm selama 30 –60 menit dapat menyebabkan
penyakit paru-paru ( pulmonari oedema ) dan bisa menyebabkan emphysema dan radang paru-paru.
D. PENGENDALIAN
1. PENCEGAHAN
D.1.1. Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Memodifikasi pada proses pembakaran.
D.1.2. Manusia
Apabila kadar khlorin dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (150 mg/Nm3 dengan waktu pengukuran 24 jam) maka
untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya – upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.
2. PENANGGULANGAN
a) Mengganti peralatan yang rusak.
b) Mengatur pertukaran udara di dalam ruang seperti mengunakan exhaust-fan.
c) Bila terjadi korban keracunan chlorin maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
· Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.
7. PARTIKEL DEBU
A. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa
organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan
maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayang
di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap
kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di
udara. Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan
bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya.
Karena Komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak
istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode
pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake.
Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti
inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal
tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik
<10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan
letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni
atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik.
Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol
kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya
menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.
Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting.
Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara,
seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Inhalasi merupakan satu-satunya rute pajanan yang menjadi perhatian dalam hubungannya dengan dampak terhadap
kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senjawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb)
dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain.
Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran
partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu
yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada umunya ukuran
partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap
di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat
yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih
bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga.
Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat
menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di
udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam
berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif
dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung
di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari makanan atau
air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut mendapat perhatian .
D. PENGENDALIAN
D.1. PENCEGAHAN
a) Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ).
b) Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong.
c) Pembersihan ruangan dengan sistim basah.
d) Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu.
e) Menggunakan masker.
D.2. PENANGGULANGAN
a) Memperbaiki alat yang rusak
8. TIMAH HITAM
A. SIFAT FISIK DAN KIMIA
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada
327,5°C dan titik didih 1.740°C pada tekanan atmosfer. Senyawa Pb-organik seperti Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil merupakan
senyawa yang penting karena banyak digunakan sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya meningkatkan angka
oktan secara ekonomi. PB-tetraetil dan Pb tetrametil berbentuk larutan dengan titik didih masing-masing 110°C dan 200°C.
Karena daya penguapan kedua senyawa tersebut lebih rendah dibandingkan dengan daya penguapan unsur-unsur lain dalam
bensin, maka penguapan bensin akan cenderung memekatkan kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil. Kedua senyawa ini akan
terdekomposisi pada titik didihnya dengan adanya sinar matahari dan senyawa kimia lain diudara seperti senyawa holegen
asam atau oksidator.
B. SUMBER DAN DISTRIBUSI
Pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor merupakan bagian terbesar dari seluruh emisi Pb
ke atmosfer berdasarkan estimasi skitar 80–90% Pb di udara ambien berasal dari pembakaran bensin tidak sama antara satu
tempat dengan tempat lain karena tergantung pada kepadatan kendaraan bermotor dan efisiensi upaya untuk mereduksi
kandungan pb pada bensin.
Penambangan dan peleburan batuan Pb di beberapa wilayah sering menimbulkan masalah pencemaran Tingkat kontaminasi Pb
di udara dan air sekitar wilayah tersebut tergantung pada jumlah Pb yang diemisikan tinggi cerobong pembakaran limbah
tpopgrafi dan kondisi lokal lainnya. Peleburan Pb sekunder, penyulingan dan industri senyawa dan barang-barang yang
mengandung Pb, dan insinerator juga dapat menambah emisi Pb ke lingkungan.
Karena batubara seperti juga mineral lainnya (batuan dan sedimen) pada umumnya mengandung Pb kadar rendah, maka
kegiatan berbagai industri yang terutama menghasilkan besi dan baja peleburan tembaga dan pembakaran batubara, harus
dipandang sebagai sumber yang dapat menambah emisi Pb ke udara. Penggunaan pipa air yang mengandung Pb dirumah
tangga terutama pada daerah yang kesadahan airnya rendah (lunak) dapat menjadi sumber pemajanan Pb pada manusia.
Demikian juga didaerah dengan banyak rumah tua yang masih menggunakan cat yang mengandung Pb dapat menjadi sumber
pemajanan Pb.
C. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Pemajanan Pb dari industri telah banyak tercatat tetapi kemaknaan pemajanan di masyarakatvluas masih kontroversi, Kadar
Pb di alam sangat bervariasi tetapi kandungan dalam tubuh manusia berkisar antara 100–400 mg.
Sumber masukan Pb adalah makanan terutama bagi mereka yang tidak bekerja atau kontak dengan Pb Diperkirakan rata-rata
masukkan Pb melalui makanan adalah 300 ug per hari dengan kisaran antara 100–500 mg perhari. Rata-rata masukkan melalui
air minum adalah 20 mg dengan kisaran antara 10–100 mg. Hanya sebagian asupan (intake) yang diabsorpsi melalui
pencernaan. Pada manusia dewasa absorpsi untuk jangka panjang berkisar antara 5–10% bila asupan tidak berlebihan
kandungan Pb dalam tinja dapat untuk memperkirakan asupan harian karena 90% Pb dikeluarkan dengan cara ini.
Kontribusi Pb di udara terhadap absorpsi oleh tubuh lebih sulit diperkirakan. Distribusi ukuran partikel dan kelarutan pb dalam
partikel juga harus dipertimbangkan biasanya kadar pb di udara sekitar 2 mg/m3 dan dengan asumsi 30% mengendap
disaluran pernapasan dan absorpsi sekitar 14 mg/per hari. Mungkin perhitungan ini bisa dianggap terlalu besar dan partikel Pb
yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor ternyata bergabung dengan filamen karbon dan lebih kecil dari yang diperkirakan
walaupun agregat ini sangat kecil (0,1 mm) jumlah yang tertahan di alveoli mungkin kurang dari 10%. Uji kelarutan
menunjukkan bahwa Pb berada dalam bentuk yang sukar larut.
Hampir semua organ tubuh mengandung Pb dan kira-kira 90% dijumpai di tulang, kandungan dalam darah kurang dari 1%
kandungan dalam darah dipengaruhi oleh asupan yang baru (dalam 24 Jam terakhir) dan Oleh pelepan dari sistem rangka.
Manusia dengan pemajanan rendah mengandung 10–30 mg Pb/100 g darah Manusia yang mendapat pemajanan kadar tinggi
mengandung lebih dari 100 mg/100 g darah kandungan dalam darah sekitar 40 mg Pb/100g dianggap terpajan berat atau
mengabsorpsi Pb cukup tinggi walau tidak terdeteksi tanda-tanda keluhan keracunan.
Terdapat perbedaan tingkat kadar Pb di perkantoran dan pedesaan wanita cenderung mengandung Pb lebih rendah dibanding
pria, dan pada perokok lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.
Gejala klinis keracunan timah hitam pada individu dewasa tidak akan timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah
dibawah 80 mg Pb/100 g darah namun hambatan aktivitas enzim untuk sintesa haemoglobin sudah terjadi pada kandungan Pb
normal (30–40 mg).
Timah Hitam berakumulasi di rambut sehingga dapat dipakai sebagai indikator untuk memperkirakan tingkat pemajanan atau
kandungan Pb dalam tubuh Anak-anak merupakan kelompok risika tinggi Menelan langsung bekas cat yang mengandung Pb
merupakan sumber pemajanan, selain emisi industri dan debu jalan yang berasal dari lalu lintas yang padat Mungkin
keracunan Pb ada juga hubungannya dengan keterbelakangan mental tetapi belum ada bukti yang jelas.
Senyawa Pb organik bersifat neurotoksik dan tidak menyebabkan anemia Hampir semua Pb–tetraetil diubah menjadi Pb
Organik dalam proses pembakaran bahan bakar bermotor dan dilepaskan ke udara.
Pengaruh Pb dalam tubuh belum diketahui benar tetapi perlu waspada terhadap pemajanan jangka panjang Timah Hitam
dalam tulang tidak beracun tetapi pada kondisi tertentu bisa dilepaskan karena infeksi atau proses biokimia dan memberikan
gejala keluhan garam Pb tidak bersifat karsiogenik terhadap manusia.
Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan
protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang
dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan,
konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, Kejang dan gangguan penglihatan.
D. PENGENDALIAN
D.1 PENCEGAHAN
D.1.1 Sumber Tidak Bergerak
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Memodfikasi pada proses pembakaran.
D.1.2 Manusia
Apabila kadar timah hitam dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (2 ug/Nm3 dengan waktu pengukuran 24 jam)
maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri seperti masker.
b) Mengurangi aktifitas diluar rumah.
D.2. PENANGGULANGAN
a) Memperbaiki alat yang rusak
b) Bila terjadi keracunan maka lakukan :
· Pemberian pengobatan.
· Kirim segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.
 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.