Tampilkan postingan dengan label Laporan Ekologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Ekologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

Laporan Ekologi Tumbuhan SEBARAN INTRA POPULASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Interaksi individu-individu dari suatu spesies dengan lingkungan abiotik dan biotik menghasilkan pola-pola agihan atau sebaran tertentu pada habitat yang ditempatinya. Pola tersebut bervariasi, ada yang beragihan acak (random), yaitu individu-individu menyebar ke seluruh ruangan yang ditempatinya. Pola yang lain adalah menyebar pada jarak yang sama atau beragihan teratur (uniform). Selain kedua pola di atas diantara individu-individu tersebut ada yang mengumpul atau mengelompok disebut beragihan mengelompok[1].
Anggota kebanyakan species cenderung menunjukkan distribusi yang mengelompok, hal ini terjadi karena tumbuhan umumnya berkembangbiak dengan alat reproduksi biji pada buah yang cenderung jatuh dekat induknya maupun rimpang  yang menghasilkan anakan vegetataif yang masih dekat dengan induknya. Berhubungan dengan lingkungan mikro, dimana habitat bersifat homogen pada level yang lebih kecil yang terdiri atas banyak mikrositus berbeda sehingga memungkinkan penempatan dan pemantapan suatu species dengan tingkat keberhasilan yang berbeda. Mikrositus yang paling cocok untuk suatu species akan cenderung menjadi lebih padat ditempati oleh species yang sama[2].
Berdasarkan hal tersebut di atas sehingga praktikum ini dilaksanakan sebagai salah satu alternatif untuk dapat mengetahui berbagai jenis pola sebaran populasi dengan cara pengamatan secara langsung dan membandingkannya dengan teori yang telah ada sebelumnya.
B.     TUJUAN
Adapun tujuan pada praktikum ini adalah:
1.      Mahasiswa memahami pola sebaran populasi.
2.      Mahasisawa mampu menyatakan pola sebaran intra populasi.
3.      Mahasiswa dapat membandingkan berbagai cara untuk menentukan pola sebaran populasi.
4.      Mahasiswa mampu menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi pola sebaran populasi.





[1]Sunarto Hardjosuwarno, Dasar-Dasar Ekologi Tubuhan, (Yogyakarta: Fakultas Biolologi Universitas Gadjah Mada 1993), h. 152-153
[2]P Michael, Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995) h.,342
                                                                                                                                                    

BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA

Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organisme yang berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling habitatnya. Sifat-sifat tersebut memungkinkan organisme atau tanaman mampu menggunakan lebih baik unsur-unsur yang tersedia (hara, air, suhu, cahaya juga sifat resistensi terhadap pengganggu/penyakit atau hama). Tamanan dapat mempunyai adaptasi morfologis seperti kekuatan batang atau bentuk tanaman dan adaptasi fisiologis yang menghasilkan ketahanan parasit, kemampuan yang lebih besar dalam mengambil unsur-unsur hara atau tahan terhadap kekeringan. Sebetulnya perbedaan yang jelas tidak ada karena keduanya sama-sama menggambarkan proses fisiologis. Jadi adaptasi dapat dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan lingkunggan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih baik untuk mempertahankan hidupnya dalam relung (nisia, niche) yang diduduki[1].
Ada dua faktor yang mempengaruhi Persebaran Flora dan Fauna di permukaan bumi, yaitu : Faktor Abiotik dan Faktor Biotik Yang termasuk faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian permukaan bumi, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.Faktor Abiotik:
1.      Iklim
Faktor iklim termasuk di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan setiap mahluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin berguna untuk proses penyerbukan. iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda.contohnya : Tanaman di daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. berbeda dengan tanaman yang berada di daerah tundra.
2.      Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah.contohnya: di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah Sabana karena tanahnya yang kurang subur[2].
Interaksi individu-individu dari suatu spesies dengan lingkungan abiotik dan biotik menghasilkan pola-pola agihan atau sebaran tertentu pada habitat yang ditempatinya. Pola tersebut bervariasi, ada yang beragihan acak (random), yaitu individu-individu menyebar ke seluruh ruangan yang ditempatinya. Pola yang lain adalah menyebar pada jarak yang sama atau beragihan teratur (uniform). Selain kedua pola di atas diantara individu-individu tersebut ada yang mengumpul atau mengelompok disebut beragihan mengelompok. Anggota kebanyakan species cenderung menunjukkan distribusi yang mengelompok, hal ini terjadi karena tumbuhan umumnya berekembangbiak dengan alat reproduksi biji pada buah yang cenderung jatuh dekat induknya maupun rimpang  yang menghasilkan anakan vegetataif yang masih dekat dengan induknya. Nisbah variasi dan rata-rata ini beragam, niali 1,0 untuk ppulasi yang beragihan acak lebih kecil  dari satu untuk populasi yang beragihan acak lebih kecil dari satu untuk populasi yang beragihan teratur dan nilai akan lebih besar dari satu untuk populasi yamng beragihan mengelompok[3].




                [1] Anonim, Sebaran Intra Populasi, http://www.wikipedia.com, (10/12/09).
[2] Sukarno, Moh Amin, Biologi, (Balai pustaka: Jakarta, 1995), h. 108.
                [3] Tim Dosen, Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan (Universitas Islam Negeri Alauddin : Makassar, 2009), h. 1.
                                                                                                                                                    

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat melaksanakan praktikum Ekologi tumbuhan ini adalah :
            Hari / tanggal                       :
            Pukul                                    : 08.00 – 10.00 WITA
            Tempat                                 :  Lapangan Kampus II
                                                            Fakultas Sains dan Teknologi
                                                            Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
Adapaun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah plot berukuran 1m x 1m dan tali rapiah, dan meteran.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tanaman rumput-rumputan.
                          

C.    Cara kerja                                                     
Adapun cara kerja yang diterapkan adalah:
  1. Menentukan letak plot, sebanyak 100 plot.
  2. Menghitung  jumlah individu species setiap plot
  3. Menghitung harapan jumlah kuadrat dengan x tumbuhan
           ( e-m) ( m x)  x  100%
                                      X!
  1. Membandingkan chi-kuadrat tabel db.n-1 dengan chikuadrat hitung. N adalah jumlah tumbuhan per plot yang nilai harapannya lebih besar
  2. Mengambil kesimpulan jika chi kuadrat dihitung lebih besar dari pada chi quadrat tabel, berari hipotitits keja diterima yaitu tumbuhan berdistribusi mengelompok dan demikian sebaliknya.
  3. Menggunakan analisis Poison.
                                                                                                                                                    
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Sebaran Intra Populasi.  http://www.wikipedia.com (10/12/09).
Sukarno, Moh Amin. Biologi. Balai pustaka: Jakarta. 1995
Tim Dosen. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Universitas Islam Negeri Alauddin : Makassar. 2009.

Laporan Ekologi Tumbuhan (metode titik)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jika suatu kuadrat direduksi menjadi tanpa dimensi, maka akan menjadi sebuah titik kecil. Berdasarkan hal tersebut terciptalah sebuah metode yang disebut dengan metode titik yang merupakan variasi dari metode kuadrat. Metode titik sangat efektif untuk sampling pada vegetasi yang rendah, rapat, dan membentuk anyaman yang tidak jelas batasnya antara satu dengan yang lainnya.
Rangkaian alat yang lazim digunakan dalam metode ini terbuat dari kawat yang disusun dari frame diberi lobang dengan jarak lobang yang sama. Lobang tersebut merupakan jalan vertikal jarum tegak lurus dengan tanah. Frame diletakkan secara acak pada suatu tegakan. Jarum ditusukkan ke tanah pada tiap lobang, maka tumbuhan yang pertama kali tertusuk oleh jarum tersebut adalah individu yang menjadi sasaran percobaan. Kelemahan metode titik adalah tidak dapatnya densitas untuk diukur, sedangkan frekuensi yang diukur adalah frekuensi cover. Cara ini terbatas pada vegetasi rendah.
Berdasarkan hal tersebut sehingga praktikum ini dilaksanakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui dan menganalisis suatu vegetasi dengan mengguankan metode titik, sekalipun memiliki kekurangan dan membandingkannya dengan teori yang telah ada sebelumnya.
B.     Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk menerapkan metode titik dalam menganalisis suatu vegetasi.


                                                                                                                                                                      

BAB II
 TINJUAN PUSTAKA

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada[1].
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter Jika suatu kuadran direduksi menjadi tanpa dimensi maka akan menjadi sebuah titik kecil. Berdasarkan hal tersebut terciptalah sebuah metode yng disebut sebagai metode titik yang meupakan variasi dari metode kuadrat. Metode titik sangat efektif untuk sampling pada vegetasi yang rendah, rapat dan membentuk anyaman yang tidak jelas batasnya antara satu dengan yang lainnya[2].
Jika suatu kuadrat direduksi menjadi tanpa dimensi, maka akan menjadi sebuah titik kecil. Berdasarkan hal tersebut terciptalah sebuah metode yang disebut dengan metode titik yang merupakan variasi dari metode kuadrat. Metode titik sangat efektif untuk sampling pada vegetasi yang rendah, rapat, dan membentuk anyaman yang tidak jelas batasnya antara satu dengan yang lainnya. Rangkaian alat yang lazim digunakan dalam metode ini terbuat dari kawat yang disusun dari frame diberi lobang dengan jarak lobang yang sama. Lobang tersebut merupakan jalan vertikal jarum tegak lurus dengan tanah. Frame diletakkan secara acak pada suatu tegakan. Jarum ditusukkan ke tanah pada tiap lobang, maka tumbuhan yang pertama kali tertusuk oleh jarum tersebut adalah individu yang menjadi sasaran percobaan. Kelemahan metode titik adalah tidak dapatnya densitas untuk diukur, sedangkan frekuensi yang diukur adalah frekuensi cover. Cara ini terbatas pada vegetasi rendah[3].
Metode Titik Pusat Kuadran (Point Centered Quarteted Method). Berdasarkan hasil penelitian Cottam dan Curtis (1956), metode ini merupakan metode sampling tanpa petak contoh yang paling efisien karena pelaksanaannya di lapangan memerlukan waktu yang lebih sedikit, mudah, dan tidak memerlukan faktor koreksi dalam menduga kerapatan tumbuhan. Tetapi, dalam pelaksanaannya metode ini mempunyai dua macam keterbatasan, yaitu: setiap kuadran harus terdapat paling sedikit satu tumbuhan, dan setiap tumbuhan (seperti halnya pada random pair method) tidak boleh terhitung lebih dari satu kali[4].



Adapun cara  menghitung besarnya nilai kuantitatif vegetasi adalah sebagai berikut:
a.       Metode jalur
Metode ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut kondisi tanah, topografi, misalnyategak lurus garis pantai, memotong sungai, dan menaik atau menurun lereng gunung. Perhitungan besarnya nilai kuantitatif parameter vegetasi sama dengan metode petak tunggal.
b.      Metode garis berpetak
Metode ini dapat dianggap sebagai modifikasi metode petak ganda atau metode jalur, yakni dengan cara melompati satu atau lebih petak-petak dalam jalur sehingga sepanjang garis rintis terdapat petak-petak pada jarak tertentu yang sama. Perhitungan besarnya nilai kuantitatif parameter vegetasi sama dengan metode petak tunggal.
c.       Metode kombinasi antara metode jalur dengan metode garis berpetak
Dalam metode ini risalah pohon dilakukan dengan metode jalur dan permudaan denga metode garis berpetak.
d.      Teknik Sampling Tanpa Petak Contoh
Untuk mengatasi kesulitan praktisi dalam pembuatan kuadrat (petak contoh) di lapangan, maka para ahli di bidang managemen hutan memperkenalkan suatu metode sampling disebut tanpa petak contoh (plotless sampling technique). Metode ini pada dasarnya memanfaatkan pengukuran jarak antara individu tumbuhan atau jarak pohon yang dipilih secara acak terhadap ind-ind tumbuhan yang terdekat dengan sumsi ind tumbuhan menyebar secara acak. Dengan demikian disamping metode ini akan menghemat waktu karena tidak memerlukan pembuatan petak contoh di lapangan, kesalahan sampling dalam proses pembuatan petak contoh dan penentuan apakah ind tumbuhan berada di dalam atau di luar kuadrat dapat dikurangi. Paling sedikit terdapat empat macam metode tanpa petak contoh yang berdasarkan satuan contoh berupa titik yang penempatannya di lapangan bila secara acak atau sistematis[5].




[1]Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. (Malang: JICA. 2001) h. 87.

[2] Ibid
[3]Tim Dosen, Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. (Makassar : Universitas Islam Negeri alauddin. 2009). h. 12.
[4]Sutarno, Pengenalan Pemberdayaan Pohon Hutan. (Bogor: Prosea Indonesia-Prosea Network Office Pusat SDM Kehutanan,1997), h. 57.

[5]Indra, Metode Titik, http://id.wikipedia.org/wiki/titik(18 Februari 2010)
                                                                                                                                                         

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari/ Tanggal              :  Rabu, 10 Februari 2010
Waktu                                     : 11.00 – 13.00 WITA
Tempat                        : Lapangan Kampus II
                                      Universitas Islam Negeri alauddin Makassar
                                      Samata, Gowa.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah point frame, tali rapiah, dan paku.
2.      Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman yang terdapat di lapangan.





C.    Cara Kerja
                  Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah :
1.      Memilih suatu komunitas vegetasi yang digunakan sebagai area pencuplikan .
2.      Membuat garis transek sesuai ketentuan gambar yang terdapat dalam penuntun.
3.      Mencatat jumlah specias yang terkena tusukan. Kemudian mengisi tabel pengamatan.
4.      Menghitung :
a.    Frekuensi mutlak
b.   Frekuensi relative
c.    Dominansi mutlak
d.   Dominansi relative
e.    Nilai penting

                                                                                                                                           
DAFTAR PUSTAKA
Indra, Metode Titik, http://id.wikipedia.org/wiki/titik (18 Februari 2010)

Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.

Sutarno.  2007. Pengenalan Pemberdayaan Pohon Hutan. Bogor: Prosea Indonesia-Prosea Network Office Pusat SDM Kehutanan.

Tim Dosen. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Makassar : Universitas Islam Negeri alauddin. 2009.









Lporan Ekologi Tumbuhan (metode jarak)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
        Metode jarak dapat menentukan 3 permeter frekuansi densitas dan dominansi jumlah individu dalam suatu area dapat ditentukan dengan mengukur jarak antara individu tumbuhan dengantitk sampling. Metode ini telah digunakan dengan tipe tumbuhan yang berbeda terutama pada pohon.
            Ada beberapa cara metode jarak yang dikenal yaitu metode individu  merupakan pengukuran yang dilakukan terhadap jarak antara pohon terdekat dengan titik sampling.  Dimana titik sampling ditentukan secar acak. Metode pasangan acak merupakan pegukuran yang dilakukan terhadap jarak dari ndividu yang terdekat dengan tiik sampling dengan titik pohon lain yang terdekat pada sisi lain oleh adanya garis pembagi yang melalui titik sampling. Faktor koreksi dalam densitas adalah 0,8. Metode tetangga terdekat merupakan titik sampling yang dicari dari pohon yang terdekat. Pengukuran yang dilakukan dari pohon terebut dengan pohon tetangga terdekat. Faktor koreksi dari densits adalah 1.67. meted point centret  qwarter merupakan pengukuran jarak yang dlakukan titik sampling ke pohon terdekat dalam tiap kuadrat.
Berdasarkan hal tersebut di atas sehingga praktikum ini dilaksanakan sebagai salah satu alternative untuk dapat mengetahui dan menganalisis suatu vegetasi dengan menggunakan metode jarak ini.
B.     Tujuan  
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk menerapkan salah satu atau lebih metode jarak dalam menganalisis suatu vegetasi.


                                                                                                                                                                   

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Teknik sampling kuadrat (Quadrat Sampling Technique) merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan: Petak contoh yang dibuat dalam teknik sampling ini bisa berupa petak tunggal atau beberapa petak. Petak tunggal mungkin akan memberikan informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang diteliti bersifat homogen[1].
Adapun petak-petak contoh yang dibuat dapat diletakkan secara random atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling. Bentuk petak contoh yang dibuat tergantung pada bentuk morfologis vegetasi dan efisiensi sampling pola penyebarannya. Misalnya, untuk vegetasi rendah, petak contoh berbentuk lingkaran lebih menguntungkan karena pembuatan petaknya dapat dilakukan secara mudah dengan mengaitkan seutas tali pada titik pusat petak. Selain itu, petak contoh berbentuk lingkaran akan memberikan kesalahan sampling yang lebih kecil daripada bentuk petak lainnya, karena perbandingan panjang tepi dengan luasnya lebih kecil[2].
Tetapi dari segi pola distribusi vegetasi, petak berbentuk lingkaran kurang efisien dibanding bentuk segi empat. Sehubungan dengan efisiensi sampling banyak studi yang dilakukan menunjukkan bahwa petak bentuk segi empat memberikan data komposisi vegetasi yang lebih akurat dibanding petak berbentuk lingkaran, terutama bila sumbu panjang dari petak sejajar dengan arah perubahan keadaan lingkungan atau habitat.
Untuk memudahkan perisalahan vegetasi dan pengukuran parameternya, petak contoh biasanya dibagi-bagi ke dalam kuadrat-kuadrat berukuran lebih kecil. Ukuran kuadrat-kuadrat tersebut disesuaikan dengan bentuk morfologis jenis dan lapisan distribusi vegetasi secara vertikal (stratifikasi). Dalam hal ini Oosting (1956) menyarankan penggunaan kuadrat berukuran 10 x 10 m untuk lapisan pohon, 4 x 4 m untuk lapisan vegetasi berkayu tingkat bawah (undergrowth) sampai tinggi 3 m, dan 1 x 1 m untuk vegetasi bawah/lapisan herba. Tetapi umumnya para peneliti di bidang ekologi hutan membedakan pohon ke dalam beberapa tingkat pertumbuhan, yaitu  semai (permudaan tingkat kecambah sampai setinggi < 1,5 m), pancang (permudaan dengan > 1,5 m sampai pohon muda berdiameter < 10 cm), l tiang (pohon muda berdiameter 10 sampai 20 cm), dan pohon dewasa (diameter > 20 cm)[3].
Metode jarak dapat menentukan 3 parameter, yakni frekuensi densitas dan dominansi. Jumlah individu dalam suatu area dapat ditentukan dengan mengukur jarak antara individu tumbuhan dengan titik sampling. Metode ini telah digunakan dengan tipe tumbuhan yang berbeda terutama pada pohonAda beberapa metode jarak yang dikenal yaitu:
1.       metode individu terdekat  (Nearest Indivvidual Method) adalah pengukuran dilakukan terhadap jarak antara pohon terdekat dengan titik sampling, titik sampling ditentukan secara acak. 
2.      Metode pasangan acak (Random Pairs Method) adalah pengukuran dilakukan terhadap jarak dari individu yang terdekat dengan titik sampling dengan pohon lain yang terdekat pada sisi lain oleh adanya garis pembagi yang melalui titik sampling. Faktor koreksi dalam densitas adalah 0,8. 
3.      Metode tetangga terdekat (Nearest Neighbour Method) adalah dari titik sampling dicari pohon terdekat, pengukuran dilakukan dari pohon tersebut dengan pohon tetangga terdekat. Faktor koreksi densitas adalah 1,67.
4.      Metode Point Centered Quarter adalah pengukuran jarak dilakukan dari titik sampling ke pohon terdekat dalam  tiap kuadrat. Faktor korekasi densitas adalah 1[4].
Untuk memudahkan proses analisis data, sebaiknya dibuat tally sheet yang memuat kerapatan, cover, diameter atau basal area dari setiap jenis dalam setiap kuadrat petak dan dibuat juga tally sheet yang memuat data parameter vegetasi yang diukur keseluruhan untuk semai data kerapatan setiap jenis langsung dicatat karena biasanya diameter individu semai tidak diukur dan untuk vegetasi tingkat bawah seperti rumput, herba dan semak belukar, data kelindungan (coverage) langsung diduga (diukur) pada waktu survey lapangan[5].



[1]Mogea, Gandawidjaja, dan Irawati, Tumbuhan Langka Indonesia ( Bogor: Puslitbang Biologi –  LIPI. 2001) h. 159.
[2]Ibid

[4]Tim Dosen, Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. (Makassar : Universitas Islam Negeri alauddin. 2009). h. 12.

[5]Steenis, van.  The Mountain Flora of Java. (Leiden: E.J. Brill. 1972). H. 78.
                                                                                                                                                                

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari/ Tanggal              :  Rabu, 10 Februari 2010
Waktu                                     : 11.00 – 13.00 WITA
Tempat                        : Lapangan Kampus II Universitas Islam Negeri alauddin Makassar Samata, Gowa.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah patok, tali rapiah, dan alat tulis.
2.      Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman yang terdapat di lapangan.





C.    Cara Kerja
1.      Memilih suatu komunitas vegetasi yang digunakan sebagai area pencuplikan.
2.      Membuat garis transek.
3.      Membuat 5 titik sampling dengan jarak 10 meter.
4.      Mencari tanaman epifit pada kuadrant I, II, III, dan IV yang paling dekat dengan titik sampling.
5.      Mengukur jarak antara tumbuhan inang (epifit menempel), kemudian mencatat species inang, species tumbuhan epifit, ketinggian dari tanah, diameter tumbuhan inang dan jumlah tumbuhan inang.
6.      Menghitung:
1.      Frekuensi, densitas tumbuhan epifit setiap species.
2.      Frekuensi, densitas, dominansi dan nilai penting tumbuhan inang.
                                                                                                                                                          
DAFTAR PUSTAKA

Vegetasi, http://id.wikipedia.org/wiki/vegetasi (7 Februari 2010 ).

Mogea, Gandawidjaja, dan Irawati. Tumbuhan Langka Indonesia. Bogor: Puslitbang Biologi –  LIPI. 2001.

Steenis, van.  The Mountain Flora of Java. Leiden: E.J. Brill. 1972.

Tim Dosen. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Makassar : Universitas Islam Negeri alauddin. 2009.





 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.