Tampilkan postingan dengan label Laporan Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

LAPORAN MIKROBIOLOGI (Sterilisasi)



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Untungnya tersedia berbagai metode lain yang efektif[1].
Cara-cara sterilisasi dan desinfeksi yaitu, pembersihan, sinar matahari, sinar ultraviolet, sinar-x, dan sinar-gamma, pendinginan, dan pemanasan. Macam-macam cara sterilisasi dengan pemanasan yaitu, pemanasan dalam nyala api, pemanasan dengan udara panas (dry heat oven), merendam dalam air mendidih (menggodok), pemansan dengan uap air yang mengalir, dengan uap air yang ditekan, dan cara sterilisasi benda-benda yang tidak tahan suhu tinggi, misalnya pasteurisasi, tyndalisasi, dengan pengeringan, dengan penyaringan (filtrasi), dan dengan menggunakan zat kimia (desinfektan)[2].
B.  Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah untuk mengetahui proses sterilisasi dan mengetahui jenis-jenisnya.


       





                [1] Pengenalan-alat-dan-sterilisasi.html, http://farmasiq.blogspot.com/feeds/com ments.default (04 November 2009).
2 Indan, Mikrobiologi dan Parasitologi, (PT. Citra Aditya Bakti; Bandung. 2003). h. 40.
                                                                                                                                                                          


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Pengetahuan tentang prinsip dasar sterilisasi dan disinfeksi sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan dibidang medis yang bertanggung jawab. Cara sterilisasi dan disinfeksi yang baru banyak diperkenalkan, namun masih tetap digunakan cara-cara dan beberapa bahan seperti digunakan berabad yang lalu[1].
                Dibawah ini beberapa istilah yang banyak dipakai dalam menjelaskan efek daribeberapa bahan kimia dan fisik terhadap mikroorganisme:
1.        Sterilisasi adalah proses untuk mematikan semua bentuk kehidupan mikroorganisme, termasuk spora.
2.        Desinfeksi adalah proses mematikan sebagian dari mikroorganisme patogen.
3.        Bahan Bakterisid adalah bahan yang merusak bakteri.
4.        Bahan Germisid atau Disinfektansia adalah bahan yang dapat mematikan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.
5.        Bahan Bakteristatik adalah bahan yang mencegah terjadinya multiplikasi pertumbuhan bakteri.
6.        Antiseptik adalah bahan yang dipakai untuk mencegah sepsis atau purifikasi dengan membunuh mikroorganisme atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Biasanya bahan ini digunakan untuk dipakai pada jaringan hidup.
7.        Dekontaminasi adalah proses menghilangkan sebagian mikroba dari benda atau kulit untuk menghilangkan kontaminasi[2].
            Pematian mikroorganisme mendasari metode kerja mikrobiologi dan pengawetan bahan makanan. Pembebasan suatu bahan dari mikroorganisme hidup atau stadium istirahatnya disebut sterilisasi. Kalau sesuatu larutan tidak steril atau yang sudah ditanami kuman, tanpa dikehendaki dicemari oleh mikroorganisme, peristiwa ini disebut kontaminasi atau pencemaran[3].
                        Pentingnya penggunaan alat-alat laboratorium yang bersih dapat lebih ditekankan lagi. Semua alat kaca haruslah dalam keadaan bersih. Cara membersihkan tabung reaksi yaitu dengan menggunakan air aquadest setelah itu dikeringkan dengan menggunakan lap halus tetapi cara melapnya hanya bagian luarnya saja[4].
            Steril akan didapatkan melalui sterilisasi, sedang cara sterilisasi yang utama adalah:
1.    Sterilisasi secara fisik, misalnya dengan pemanasan, penggunaan sinar bergelombang pendek seperti sinar X, sinar gamma, sinar ultra violet dan sebagainya.
2.    Sterilisasi secara kimiawi, misalnya dengan penggunaan disenfeksi larutan alkohol, larutan formalin, larutan AMC (campuran asam khlorida dengan garam Hg) dan sebagainya.
3.    Sterilisasi secara mekanik, misalnya dengan menggunakan saringan atau filter[5].
Sterilisasi bisa dilakukan secara kimiawi dan fisik. Berdasarkan mekanisme kerjanya zat anti-mikroba, maka sterilisasi kimiawi bisa diklasifikasikan atas 3 golongan, yaitu:
1.        Golongan zat yang menyebabkan kerusakan membran sel.
2.        Golongan zat yang menyebabkan denaturasi protein.
3.        Golongan zat yang mampu mengubah grup protein dan asam amino yang fungsional[6].
Sterilisasi fisik bisa diklasifikasikan sebagai:
1.        Sterilisasi dengan panas.
2.        Sterilisasi dengan pembekuan.
3.        Sterilisasi dengan radiasi.
4.        Sterilisasi dengan ultrasonik dan vibrasi sonik.
5.        Sterilisasi dengan cara filtrasi[7].
Sterilisasi Secara Kimia, dapat dilakukan dengan cara Sterilisasi Gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat, sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh[8].
Gas yang biasa digunakan adalah etilen oksida dalam bentuk murni atau campuran dengan gas inert lainnya. Gas ini sangat mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Merupakan agen alkilasi yang menyebabkan dekstruksi mikroorganisme termasuk sel-sel spora dan vegetatif. Sterilisasi dilakukan dalam ruang atau chamber sterilisasi[9].
Sterilisasi menghasilkan bahan toksik seperti etilen klorohidrin yang menghasilkan ion klorida dalam bahan-bahan. Digunakan untuk sterilisasi ala-alat medis dan baju-baju medis, bahan-bahan seperti pipet sekali pakai dan cawan petri yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Residu etilen oksida adalah bahan yang toksik yang harus dihilangkan dari bahan-bahan yang disterilkan setelah proses sterilisasi, yang dapat dilakukan dengan mengubah suhu lebih tinggi dari suhu kamar. Juga perlu dilakukan perlindungan terhadap personil dari efek berbahaya gas ini[10].
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban, konsentrasi gas, suhu dan distribusi gas dalam chamber pengsterilan. Penghancuran bakteri tergantung pada adanya kelembaban, gas dan suhu dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas, pada pengemas pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan pengemas[11].
Mekanisme aksi etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap mikroorganisme dengan mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi proses reproduksi. Alkilasi ini barangkali terjadi dengan menghilangkan hidrogen aktif pada gugus sulfhidril, amina, karboksil atau hidroksil dengan suatu radikal hidroksi etil metabolit yang tidak diubah dengan tidak tersedia bagi mikroorganisme sehingga mikroorganisme ini mati tanpa reproduksi[12].
Sterilisasi Secara Fisika, dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemanasan Kering
a. Udara Panas Oven
            Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak, paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas dan banyak alat-alat bedah[13].
            Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam autoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap autoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan[14].
            Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121oC (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untuk alasan ini, autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali[15].
            Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121°C selama 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150°C sampai 170°C selama 1-4 jam[16].
            Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas[17].


b. Minyak dan penangas lain
            Bahan kimia dapat disterilisasi dengan mencelupkannya dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memelihara cat penutup[18].
c. Pemijaran langsung
            Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini[19].
2. Panas lembab
a.  Uap bertekanan
            Stelisisasi dengan menggunakan tekanan uap jenuh dalam sebuah autoklaf. Ini merupakan metode sterilisasi yang biasa digunakan dalam industri farmasi, karena dapat diprediksi dan menghasilkan efek dekstruksi bakteri, dan parameter-parameter sterilisasi seperti waktu dan suhu dapat dengan mudah dikontrol dan monitoring dilakukan sekali dalam satu siklus yang divalidasi[20].
b. Uap panas pada 100oC
            Uap panas pada suhu 100oC dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur[21].
c. Pemanasan dengan bakterisida
            Pemanasan ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap panas pada 100oC. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf[22].
d. Air mendidih
            Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahan-bahan logam[23].

3. Cara Bukan Panas
a. Sinar ultraviolet
            Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm[24].
b. Aksi letal
            Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang[25].
c. Radiasi pengion
            Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan mutlak karena tidak menyebabkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari, mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam[26].





[1] Yusriani Mangarengi Aris, Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi, (Makassar; Universitas Indonesia Timur. 2008). h. 50.
[2] Ibid.
[3] Hans Schlegel, Mikrobiologi Umum Edisi 6 (Gadjah Mada. University Press. 1994). h. 58.
[4] Riandi, Teknik Laboratorium (Jakarta. 2004). h. 40.
[5] Suriawira, Pengantar Mikrobiologi Umum (Angkasa; Bandung. 1983). h. 96.
[6] Yusriani Mangarengi Aris, op.cit. h. 51.
[7] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] sterilisasi/s-kimia.htm, http://www.mypagerank.net/seomonitor-37433.html (04 November 2009).
[12] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Ibid. .
[16] Ibid.
[17] Ibid.

[18] Ibid.
[19] Ibid.

[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Ibid.
[23] Ibid.

[24] sterilisasi-secara-fisika.html, http://www.finderonly.com (04 November 2009).
[25] Ibid.

[26] Ibid.
                                                                                                                                                             

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari / tanggal         : Kamis / 05 november 2009
Pukul                      : 15.30 – 17.00 Wita
Tempat                   : Laboratorium Biologi Gedung B lantai III
                                 Fakultas Sains dan Teknologi
                                 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                                 Samata-gowa.

B. Alat dan bahan
1.      Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah oven, otoklaf, bunsen, cawan Petri, labu Erlenmeyer, kompor gas, batang pengaduk, corong, gelas ukur dan neraca analitik.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan untuk percobaan kali ini adalah kertas, air, kapas, aluminium foil, dan aquadest.

C. Cara Kerja
            Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Menutup labu erlenmeyer dengan menggunakan kapas.
2.    Membungkus cawan petri dan labu erlenmeyer dengan menggunakan kertas.
3.    Memasukkan cawan petri dan labu erlenmeyer ke dalam otoklaf selama 2 jam dan untuk disterilkan pada suhu 1210C
                                                                                                                                                                   


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
No
Jenis
sterilisasi
Alat yang digunakan
Alat yang disterilkan
Suhu
Waktu
1


2
Sterilisasi kering (fisik)


Sterilisasi basah (fisik)
Oven



Otoklaf 
- Labu erlenmeyer
- Cawan petri

- Medium
- Air
160o C – 180o C

160o C - 180o C

160o C - 180o C
160o C - 180o C


7 menit



15-30 menit


B. Pembahasan
            Adapun pembahasan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam otoklaf atau sterilisator uap yang mudah diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit. Karena titik didih air menjadi 121 oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atmosfer pada ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi tersebut seringkali juga dinyatakan sebagai : 1 atm 15 menit. Pada tempat-tempat yang lebih tingginya diperlukan tekanan lebih besar untuk mencapai suhu 121 oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya tekanan, lebih baik menyatakan bahwa keadaan steril dicapai dengan cara mempertahankan suhu 121oC selama 15 menit[1].
            Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum, air suling, peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahan-bahan dari karet[2].
Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah :
a. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang sterilisator.
b. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu kosong harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya.
c.  Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap.
d. Suhu sebagaimana yang terukur oleh thermometer harus mencapai 121 oC dan dipertahankan setinggi itu 15 menit[3].
2. Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak merusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin, minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven[4].
Pada praktikum ini metode sterilsasi  yang dilakukan adalah sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasi kering adalah sterilisasi dengan udara panas dan alat yang digunakan adalah oven (hot air sterilizer). Cara ini umum dilakukan untuk mensterilkan peralatan gelas. Dibandingkan pemanasan basah, pemanasan kering kurang efisien dan membutuhkan suhu yang lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi. Hal ini disebabkan karena tanpa kelembaban maka tidak ada panas laten. Pemanasan kering dapat menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi komponen-komponen di dalam sel. Waktu yang diperlukan untuk sterilisasi kering pada suhu 1600C-1800C dalam waktu 7 menit. Keuntungan dari pemanasan kering adalah tidak adanya uap air yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan. Kemudian metode kedua yang dilakukan adalah sterilisasi basah adalah sterilisasi dengan uap air bertekanan. Alat yang digunakan adalah otoklaf, umumnya material yang disterilkan berupa berupa medium, air dan sebagainya. Sedangkan waktu dan suhu yang di perlukan untuk sterilisasi basah pada suhu 1600-1800C dalam waktu 15-30 menit. Cara pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme terutama karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk enzim-enzim didalam sel[5].




2Ibid.
                3Ibid.

[4] Ibid.
[5]“sterilisasi”http/Blue_spirit.com(07 november 2009).
                                                                                                                                                           

DAFTAR PUSTAKA

Riandi. Teknik Laboratorium. Jakarta: Erlangga. 2004.
Schlegel G. Hans. Mikrobiologi Umum Edisi 6. Yogyakarta: Gadjah Mada, University Press. 1994.

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html,http://www.blogcatalog.com/directory/education_and_training/secondary (04 November 2009). 

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html, http://www.finderonly.com (04 November 2009).

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.blogcatalog.com/directory/education_and_training/secondary (04 November 2009). 

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.mypagerank.net/seomonitor37433.html (04 November 2009).

Suriawira. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa; Bandung. 1983.
Yusriani, dr. Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi. UIT; Makassar. 2008.




LAPORAN MIKROBIOLOGI (Pengenalan alat)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada saat sekarang ini alat merupakan salah satu pendukung dari pada keberhasilan suatu pekerjaan di laboratorium. Sehingga untuk memudahkan dan melancarkan berlangsaungnya prakrikum pengetahuan mengenai penggunaan alat sangat diperlukan[1].
               Mikrobiologi berasal dari kata mikro (kecil atau renik), bio (hidup) dan logos (hidup). Jadi mikrobiologi merupakan bidang ilmu biologi yang mengkaji tentang mikroba yang mencakup bermacam-macam kelompok organisme mikroskopik yang terdapat sebagai sel tunggal maupun kelompok sel seperti bakteri, alga, protozoa dan fungi mikroskopik, bahkan virus[2].
Mikrobiologi merupakan bidang ilmu biologi yang mengkaji tentang mikroba yang mencakup bermacam-macam kelompok organisme mikroskopik yang terdpat sebagai sel tunggal maupun kelompok sel bakteri, alga, protozoa, dan fungi mikroskopik. Dewasa ini kajian mikrobiologi mengalami perkembangan yang pesat. Kajian yang lebih khusus sebagai perkembangan dari ilmu mikrobiologi dapat dikelompokkan berdasarkan tujuannya, misalkan taksonomi, habitat, dan cakupan masalh seta hubungannya dengan disiplin ilmu lain[3]  
            Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui teknik pengenalan, penyiapan dan penggunaan serta fungsi dan prinsip kerja setiap alat laboratorium mikrobiologi.


B.     Tujuan
            Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah untuk mengetahui beberapa contoh alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi.














[1] Hafsah Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum (Fakultas Sains dan Teknologi UIN: Makassar. 2011) h. 1
[2] Hafsah, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum (Fakultas Sains dan Teknologi UIN: Makassar. 2009) h. 1
[3] Ibid


                                                                                                                                                           

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mikrobiologi berasal dari kata mikro (kecil atau renik), bio (hidup) dan logos (ilmu). Jadi mikrobiologi merupakan bidang ilmu biolgi yang mengkaji tentang mikroba yang mencakup bermacam-macam kelompok organisme mikroskopik yang terdapat sebagai sel tunggal maupun kelompok sel seperti bakteri, alga, protozoa dan fungi mikroskopik, bahkan virus meskipun virus tidak termasuk sel sebab materi genetiknya hanya dibungkus oleh protein dan tidak memiliki kemampuan tumbuh secara mandiri[1].
Istilah mikroba (disebut juga mikroorganisme, mikrobia, maupun jazad renik) bukan nama dari suatu kelompok organism seperti hewan  dan tumbuhan, melainkan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan suatu organisme yang mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa menggunakan mikroskop. Secara umum, mikroba merupakan organisme yang sangat sederhana. Umumnya bakteri, protozoa, dan beberapa alga serta fungi mikroskopik merupakan mikroba bersel tunggal. Bahkan mikroba yang multiselluler pun tidak memiliki ukuran sel yang besar[2].
Dalam bidang mikrobiologi ada beberapa teknik-teknik dasar tertentu yang perlu diketahui dan dipahami serta dipelajari oleh mahasiswa termasuk para peneliti dalam bidang mikrobiologi untuk digunakan dalam laboratorium. Teknik-teknik tersebut digunakan dalam memelihara bakteri, mengisolasinya dalam biakan murni (hanya mengandung satyu macam bakteri), mengamatinya dan mengidentifikasi mikroorganisme[3].
Sejak dahulu orang telah menduga bahwa penyakit itu ada penyebabnya. Ada yang mengira bahwa penyakit itu disebabkan kutukan dewa. Karena itu, mereka mengobati dan mencegahnya dengan mantra-mantra dan ajimat. Antara tahun 1000 dan tahun 1400 penyakit pada umumnya dianggap sebagai hukuman atas dosa[4].
Hippocrates menyangka bahwa penyakit malaria disebabkan oleh hawa busuk, karena itu banyak terdapat di daerah rawa-rawa[5].
Tentang mikroba penyebab penyakit ini, Robert Koch, tahun 1884, mengemukakan hokum yang disebut Postulate Koch, yang menyatakan bahwa suatu mikroba dianggap sebagai penyebab suatu penyakit, bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.         Mikroba tersebut harus terdapat pula pada orang lain yang menderita penyakit yang sama dan tidak terdapat pada orang yang sehat.
2.         Mikroba tersebut harus dapat diisolir dari penderita dan dibiakkan secara murni.
3.         Mikroba tersebut harus menimbulkan penyakit yang sama bila ditularkan kepada orang lain yang sehat.
4.         Dari penderita kedua inipun harus dapat diisolir mikroba yang asal secara murnia pula[6].
Di dalam pekerjaan mikrobiologi seringkali kita tidak terlepas dari alat-alat yang berada dalam laboratorium. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang fungsi dan sifat-sifat dari alat yang digunakan. Peralatan yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi hampir sama dengan peralatan-peralatan yang umumnya digunakan di laboratorium kimia yaitu berupa alat-alat gelas antara lain: tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur dan pipet volumetrik, labu ukur (tentukur), labu erlenmeyer, gelas piala, pH meter, gelas arloji, termometer, botol tetes, pembakar spiritus, kaki tiga dengan kawat asbes dan rak tabung[7].
Di samping peralatan gelas tersebut pada laboratorium mikrobiologi masih ada sejumlah alat yang khusus antara lain: otoklaf, oven, mikroskop, jarum ose (inokulasi), jarum preparat, gelas objek, kaca penutup, keranjang kawat untuk sterilisasi, inkubator untuk membiakkan mikroorganisme dengan suhu yang konstan, spektrofotometer untuk mengukur kepekatan suspensi atau larutan. Penangas air untuk mencairkan medium, maknetik stirrer untuk mengaduk dan tabung durham untuk penelitian fermentasi[8].
Di dalam pekerjaan mikrobiologi dibutuhkan alat yang khusus untuk melihat mikroorganisme. Salah satu alat yang sering digunakan adalah mikroskop. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati objek yang berukuran kecil. Mikroskop dalam bahasa Yunani dari micron yaitu kecil dan scopos yaitu tujuan. Jadi, mikroskop adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Daya pembesaran mikroskop menyebabkan kita dapat melihat struktur mikroorganisme yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Pembesaran yang dapat mikroskop adalah sekitar 100 kali sampai 400.000 kali. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop electron[9].
Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC[10].
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70oC[11].
Colony counter berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawankarena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala atau kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di reset[12].
Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 µl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip[13].
Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml[14].
            Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar[15].     
            Pipet tetes (Pasteur Pippete), fungsinya sama dengan pipet ukur, namun volume yang dipindahkan tidak diketahui. Salah satu penerapannya adalah dalam menambahkan HCl atau NaOH saat mengatur pH media, penambahan reagen ada uji biokimia, dan lain-lain[16].
            Centrifuge merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah zat dalam cairan yang diduga dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan kekuatan rotasi. Dengan pemutaran kecepatan tertentu, zat-zat yang tidak terlarut akan mengendap. Satuan yang digunakan pada centrifuge adalah Rpm (Rotation per meter). Perinsip kerja dari alat ini adalah zat yang akan dipisahkan dimasukkan kedalam tabung yang terdapat pada centrifuge, kemudian menutup lubang pada centrifuge agar udara yang masuk tidak mempengaruhi zat yang akan dipisah. Setelah itu tentukan waktu dan rotasi putaran yang diinginkan, dengan memutar tombol Timer dan Rotation[17].





                [1] Hafsah, mikrobiologi umum (Makassar; 2009), h. 1.
[2] Syahruddin, Sartini, dan Natsir, Analisis Mikrobiologi Farmasi (Universitas Hasanuddin; Makassar, 2006). h. 1.

[3] M. Natsir Djide dan Sartini, Mikrobiologi Farmasi Dasar (Universitas Hasanuddin; Makassar, 2006). h. 59.
                [4] Indan Entjang, Mikrobiologi dan Parasitologi (Bandung; 2003), h. 2.
                [5] Ibid.
                [6] Indan Entjang. op.cit.h. 3.
                [7] Pengenalan Alat dan Sterilisasi, http://farmasiq.blogspot.com/feeds/com-ments.default (01 Februari 2010).
                [8] Ibid.
                [9] Ibid.
                [10] Pengenalan Alat-Alat Mikrobiologi, http://validator.w3.org/check/referer (01 Februari 2010            2009).               
[11] Ibid.
[12] Pengenalan Alat Mikrobiologi, http://www.blogger.com/blog-this.  ( 01 Februari 2010).
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Pengenalan Alat dan Mikrobiologi, http://farmasiq-blogspot.com. (01 Februari 2010).
                                                                                                                                                       
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari/Tanggal   : Selasa/01 Februari 2011
Pukul               : 10.00 – 13.00 Wita
Tempat            : Laboratorium Mikrobologi Lantai II
                          Fakultas Sains dan Teknologi
                          Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata, Gowa.

B. Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah mikroskop, Gegep, Labu Erlenmeyer (50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml, dan 1000 ml), Ose bulat dan lurus, Tabung durham, Tabung reaksi, Batang bentuk V, Thermometer, Batang Pengaduk, Rak tabung, Pipet tetes, Spoid, Gelas kimia (250 ml, 500 ml, dan 1000 ml) Bunsen, Cawan petri, Inkubator, Otoklaf, Kompor gas, Kulkas, Refrigerator, Spektrofotometer, Colony counter, Neraca analitik, Oven, Vortex, Sentrifuge, Lamina air flow, Shaker, Inkubator shaker, masker, lateks, aluminium foil, Mickropipet, Water bath, dan Magnetik stires .







C. Cara Kerja
            Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah :
1. Menyiapkan alat-alat dan bahan mikrobiologi
2. Mengamati bagian-bagian dari alat-alat tersebut dan mengetahui fungsinya masing-masing.
3. Menggambar semua alat-alat Laboratorium Mikrobiologi dan menuliskan bagian-bagiannya.
                                                                                                                                                      
B. Pembahasan
            Adapun pembahasan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Labu Erlenmeyer
a.    Prinsip kerja
Prinsip kerja dari labu erlenmeyer ini yaitu dengan menuangkan larutan atau zat kimia secara langsung atau dengan menggunakan corong dengan cara hati-hati.
b.    Fungsi
Labu erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung aquades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dan lain-lain. Labu erlemeyer terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dan sebagainya[1].
2.    Gelas kimia
a.    Prinsip kerja
Prinsip kerja dari gelas kimia ini yaitu dengan menuangkan larutan atau zat kimia secara langsung dengan cara hati-hati.
b.    Fungsi
Gelas kimia merupakan alat yang tahan terhadap panas dan memiliki banyak fungsi, dapat digunakan sebagai tempat larutan atau zat cair, dapat pula digunakan untuk preparasi media, dan lain-lain, selain itu juga dapat digunakan untuk mengukur volume. Ukuran gelas ini bermacam-macam mulai dari 50 ml sampai 1000 ml. Pada prinsip kerjanya yaitu dengan menuangkan larutan atau zat kimia secara langsung dengan hati-hati[2].
3.    Gelas ukur
a.    Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan menuangkan larutan atau zat kimia secara dengan berhati-hati.
b.    Fungsi
Gelas ukur berfungsi untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung larutan[3].
4. Batang gelas bengkok
a. Prinsip kerja
Prinsip kerja batang gelas bengkok ini yaitu dengan cara mengaduk larutan atau zat kimia secara langsung.



a.    Fungsi
Fungsi dari batang gelas bengkok ini yaitu untuk mengaduk bahan kimia atau menghomogengkan medium yang akan dibuat[4].
5.    Corong
a.    Prinsip kerja
Prinsip kerja pada alat ini yaitu larutan langsung dituangkan ke dalam mulut corong, dimana sebelumnya ujung corong telah dimasukkan ke dalam mulut tabung.
b.    Fungsi
Corong berfungsi untuk memasukkan suatu larutan ke dalam suatu tempat yang mempunyai mulut yang kecil.
6. Cawan Petri
a. Prinsip kerja
                 Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Prinsip kerjanya yaitu medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup.
b. Fungsi
Cawan petri berfungsi sebagai tempat pertumbuhan mikroba secara kuantitatif dan sebagai tempat pengujian sampel.
                       
7. Ose
a. Prinsip kerja
                 Prinsip kerjanya yaitu sebelum alat ini digunakan, terlebih dahulu disterilkan dengan memanaskan ujungnya sampai berpijar, kemudian membiarkan ujung ose dingin sebelum digunakan untuk mencegah matinya bakteri.
b. Fungsi
Ose berfungsi untuk Menginokulasi kultur mikrobia khususnya mikrobia aerob dengan metode streak juga untuk mengambil dan menggores MO, terdiri dari ose lurus untuk menanam MO dan ose bulat untuk menggores MO yang biasanya berbentuk zig-zag.       
8. Gegep
a. Prinsip kerja
                 Prinsip kerja Ose ialah dengan cara memegang bagian pegangan gegep, kemudian menjepit tabung reaksi yang ingin dipanaskan.
b.    Fungsi
Gegep berfungsi untuk menjepit tabung reaksi yang ingin dipanaskan.
9. Spoit
a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memasukkan jarum spoit ke dalam suatu larutan, kemudian menarik keluar bagian pendorong dari spoit.

b.    Fungsi 
Spoid berfungsi untuk mengambil larutan, zat hasil pengukuran, atau zat yang mau diuji. Alat ini dapat disterilisasikan dengan menggunakan otoklaf (uap air bertekanan) dimana sebelum disterilisai dibungkus terlebih dahulu.
10. Pipet tetes.
a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan menekan bagian karet dari pipet tetes ini, kemudian bagian ujungnya dimasukkan ke dalam larutan dan melepaskan karet tersebut.
b.    Fungsi
Pipet tetes berfungsi untuk untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui.
11. Tabung durham
a. Prinsip kerja
                 Prinsip kerjanya yaitu tabung durham dicuci, kemudian diisi dengan medium yang terdapat pada tabung reaksi dengan menggunakan pipet yang ujungnya kecil.
b. Fungsi
Alat ini berfungsi untuk menampung atau menjebak gas yang terbentuk akibat metabolisme pada bakteri yang diujikan.


12. Bunsen
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan membakar bagian atas atau sumbu dari bunsen.
     b. Fungsi
   Alat ini berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen dan juga mempunyai fungsi lain, yakni mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium.  
13. Sikat tabung
     a. Prinsip kerja
                     Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memasukkan secara langsung sikat ini ke dalam tabung, kemudian memutar-mutarnya agar tabung reaksi benar-benar besih.
b.    Fungsi
Sikat tabung ini berfungsi untuk membersihkan bagian dalam dari tabung reaksi.
14. Thermometer
a. Prinsip kerja
                     Prinsip kerja alat ini ialah dengan memasukkan ujung termometer ke dalam larutan yang ingin diukur suhunya dengan memegang tali agar tidak tercampur dengan suhu kamar.

b. Fungsi
                     Fungsi alat ini digunakan untuk mengukur suhu.         
15. Rak tabung
a. Prinsip kerja
       Prinsip kerjanya yaitu dengan memasukkan tabung reaksi ke dalam lubang rak tabung.
b.    Fungsi
Rak tabung ini berfungsi untuk menyimpan tabung-tabung reaksi baik yang digunakan pada saat praktikum ataupun yang tidak digunakan.
16. Labu ukur
     a. Prinsip kerja
                     Prinsip kerjanya yaitu dengan memasukkan medium atau larutan ke dalam labu ukur sesuai yang diinginkan.  
b. Fungsi
                     Fungsi alat ini sama dengan gelas ukur namun bentuknya yang berbeda, pada labu ukur memiliki tutup dan lehernya agak panjang dan memiliki badan yang besar.                            
17. Tabung reaksi
a. Prinsip kerja
Prinsip kerjanya yaitu pada waktu memanaskan media yang ada didalam tabung reaksi, tabung reaksi harus berada dalam keadaan miring diatas nyala api dan mulut tabung jangan sekali-kali menghadap pada diri kita atau orang lain. Tabung reaksi yang disterilkan didalam autoklaf harus ditutup dengan kapas dan aluminium foil.
b. Fungsi
Tabung reaksi ini berfungsi untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba.
18. Sentrifuge
     a. Prinsip kerja
   Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memutar tabung reaksi, dimana ukuran tabung reaksi yang digunakan harus sama. Pemakaian alat ini membutuhkan pengalaman, sebab apabila memutarnya terlalu cepat atau terlalu pelan, maka akan mengakibatkan kecelakaan dalam bekerja, begitupun peletakan tabung harus dalam keadaan seimbang.
     b. Fungsi
                     Alat ini berfungsi sebagai pemisah zat dalam cairan yang diduga dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan kekuatan rotasi.
19. Neraca analitik
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan meletakkan bahan sehingga akan tertera secara langsung pada layar berat bahan tersebut.
     b. Fungsi
                     Nearaca analitik ini berfungsi untuk menimbang bahan kimia.

20. Oven
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja dari alat ini yaitu terlebih dahulu memeriksa tegangan yang diperlukan untuk beroperasinya oven, biasanya 110 atau 220 volt. Kemudian menekan saklar power indikator lampu menyala, setelah itu mengatur suhu dalam ruangan yang diinginkan dengan cara memutar pengatur suhu, begitu pula dengan waktunya.
     b. Fungsi
                     Oven berfungsi untuk mensterilkan alat- alat gelas yang tahan terhadap panas.
21. Kulkas      
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memasukkan medium secara langsung kedalamnya, kemudian mengatur suhunya sesuai dengan ketentuan.
     b. Fungsi
                     Alat ini berfungsi sebagai pendingin dan sebagai tempat untuk mengawetkan mikroba.
22. Inkubator
     a. Prinsip kerja
   Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memasukkan atau menyimpan biakan murni mikroorganisme, kemudian mengatur suhunya, biasanya hanya dapat diatur diatas suhuh tertentu.
     b. Fungsi
                     Fungsi inkubator adalah untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol.
23. Kompor gas
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memanaskan otoklaf atau oven diatas kompor gas.
     b. Fungsi
          Kompor gas berfungsi sebagai alat untuk memanaskan medium.
24. Enkas
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu pada saat sebelum memasukkan media, alat ini harus disterilkan terlebih dahulu.
     b. Fungsi
                     Alat ini memiliki fungsi untuk mensterilisasikan alat-alat bersekala dengan menggunakan uap air panas.
25. Otoklaf
a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memasukkan medium yang ingin disterilkan, selanjutnya penutup otoklaf dipasang dan sekrup dikencangkan. Keran pengatur tempat keluar uap air dibiarkan tetap terbuka hingga semua udara terdesak keluar. Apabila sterilisasi telah selesai otoklaf dibiarkan tekanan turun hingga nol. Kran uap air dibuka secara perlahan. Jangan membuka kran uap untuk nmempercepat turunnya tekanan, tunggu sampai tekanan menunjukkan angka nol.
b. Fungsi
26. Vortex
     a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan meletakkan tabung reaksi di atas wadah penyimpanan lalu dihomogenkan.
b.      Fungsi
           Fungsi dari vortex untuk menghomogenkan larutan atau medium  khusus pada tabung reaksi.
27. Sepktofotometer
     a. Prinsip kerja
                     Prinsip kerja alat ini adalah membiaskan cahaya kedalam kupet yang berisi sampel (zat), sebagian sinar akan ada yang diteruskan dan sebagian lagi akan diserap. Saat pemasangan kupet ke dalam sepektometri tidak boleh menggunakan tangan, karena minyak yang terdapat pada tangan akan menempel pada kupet dan mempengaruhi hasil akhirnya.
     b. Fungsi
                     Alat ini berfungsi untuk mengukur jumlah pertumbuhan bakteri.


28. Mikroskop
a. Prinsip kerja
                 Prinsip kerja dari mikroskop ini adalah dengan memantulkan cahaya melalui cermin, lalu diteruskan hingga lensa objektif. Di lensa objektif bayangan yang dihasilkan adalah maya, terbalik dan diperbesar. Kemudian bayangan akan diteruskan dan menghasilkan bayangan tegak, nyata dan diperbesar oleh mata pengamat. Semakin banyak cahaya yang dipantulkan melalui cermin, maka akan semakin terang pula mikroorganisme yang dilihat. Mikroskop ini memiliki pembasaran objektif (10x dan 40x) serta pembesaran okuler (10x).
     b. Fungsi
Mikroskop berfungsi sebagai alat bantu untuk melihat mikroorganisme yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang.
29. Coloni counter
a. Prinsip kerja
Prinsip kerja alat ini yaitu setelah kita ON kan, kita menyimpan cawan petri yang berisi bakteri atau jamur ke dalam kamar hitung, kemudian mengatur alat penghitung pada posisi (000) dan mulai menghitung dengan menggunakan jarum penunjuk sambil melihat jumlah pada layar hitung.
b.      Fungsi
Alat ini berfungsi untuk menghitung jumlah coloni dari bakteri.

30. Shaker
a. Prinsip kerja
                 Prinsip kerja alat ini ialah dengan meletakkan tabung erlenmeyer di atas wadah shaker, kemudian menyalakan shaker untuk mengocok larutan yang ada di dalam tabung erlenmeyer.
b.      Fungsi
           Shaker digunakan untuk mengaduk larutan zat sehingga terbentuk larutan yang homogen.
31. Laminar air flow
     a. Prinsip kerja
               Prinsip kerjanya yaitu dengan cara hidupkan lampu UV selama 2 jam, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja. Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah. Nyalakan lampu neon dan blower.  Masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh (overload) karena memperbesar resiko kontaminan. Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke laminar air flow sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas kerja.  Setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari laminar air flow.


b.      Fungsi
   Fungsi dari alat ini yaitu untuk  pengerjaan secara aseptis karena memiliki pengaturan dan penyaringan aliran udara.



[1] Pengenalan Alat dan Mikrobiologi, http://farmasiq-blogspot.com. (04 November 2009).
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4]Pengenalan Alat dan Mikrobiologi, http://farmasiq.blogspot.com/feeds/com-ments.default (04 November 2009).
                                                                                                                                                                                                                


DAFTAR PUSTAKA

Entjang Indan, dr. Mikrobiologi dan Parasitologi. PT. Citra Aditya Bakti; Bandung. 2003.

Hafsah. Mikrobiologi Umum. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Makassar. 2009.

M. Natsir Djide, Mikrobiologi Farmasi Dasar. Universitas Hasanuddin; Makassar. 2006.

Syahruddin Kadir, Dr. Analisis Mikrobiologi Farmasi. Universitas Hasanuddin; Makassar. 2006.

Anonim, Pengenalan Alat dan Mikrobiologi, http://farmasiq-blogspot.com. (04 November 2009).

Anonim, Pengenalan Alat dan Sterilisasi, http://farmasiq.blogspot.com/feeds/com-ments.default (01 Februari 2011).

Anonim, Pengenalan Alat-Alat Mikrobiologi, http://validator.w3.org/check/referer (04 November 2009).

Anonim, Pengenalan Alat Mikrobiologi, http://www.blogger.com/blog-this.g (01 Februari 2011).








 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.