Jumat, 27 Desember 2013

Filsafat ilmu

A. RUANG LINGKUP FILSAFAT
1. Defenisi Filsafat
Sekarang mari kita lanjutkan perbincangan kita dengan menyimak berbagai definisi filsafat yang disodorkan para ahli. Tetapi sebelumnya barangkali kita telusuri dulu pengertian filsafat secara bahasa (etimologi). Filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Yunani. Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, sedangkan dalam bahasa Yunani, filsafat merupakan gabungan dua kata, yaitu philein yang berarti cinta atau philos yang berarti mencintai, menghormati, menikmati, dan sophia atau sofein yang artinya kehikmatan, kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan, atau kejernihan. Secara etimologi, berfilsafat atau filsafat berarti mencintai, menikmati kebijaksanaan atau kebenaran. ( Sutardjo: 2007,10)
 Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali di gunakan oleh Pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 sebelum masehi. Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal pada zamannya yang sebagian karyanya masih dibaca pada zaman sekarang, mencatat bahwa kata "filsafat" dipakai Pythagoras sebagai reaksi terhadap kaum cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya 'ahli pengetahuan'. Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang  mungkin mencapai ujungnya apalagi menguasainya. Jadi jangan sombong menjuluki diri kita 'ahli' dan 'menguasai' ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Paling tinggi kita ini, kata Pythagoras, yang banyak menysusun dan menemukan rumus-rumus ilmu yang jitu dan diakui hingga zaman modern, adalah pencari dan pecinta pengetahuan dan kebijaksanaan yakni filosofis.
Yang lebih dikenal mempergunakan kata ini untuk suatu pencarian kebijaksanaan adalah filosof terkenal Socrates (470-399 SM). Socrates tidak saja terkenal karena pemikirannya yang briliyan, tetapi lebih karena ia banyak mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya kepada siapa saja yang dijumpainya membuat banyak orang bertanya-tanya sebagian orang menjadi lebih arif, lebih sadar diri, lebih pintar, tetapi ada yang merasa disudutkan dan dicemoohkan. Oleh sebagian penguasa dan tokoh masyarakat pertanyaan-pertanyaan Socrates dianggap berbahaya, subversif, provokatif. Pertanyaannya yang menyadarkan banyak membuat generasi muda menjadi ragu terhadap status quo, murtad dan memberontak. Ia, filosuf sang penyadar ini, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati, bukan ditembak atau digantung tetapi dengan minum racun. Ketika tidak ada yang tega menyodorkan piala berisi racun kepadanya, ia rela menegaknya sendiri demi menunjukkan bahwa ia filosof yang agung, seorang yang cinta kebijaksanaan dan benci kemunafikan dan kejahilan (seharusnya kita bersyukur karena tidak harus berkorban seperti Socrates untuk bisa cinta ilmu-kebijaksanaan dan benci kemunafikan-kejahilan).
Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. berfilsafat adalah berfikir. Langeveld, dalam bukunya "pengantar pada pemikiran filsafat" (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah suatu perbincangan mengenai  segala hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekwensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya.
Sekarang mari kita lihat bagaimana definisi filsafat secara termenologi. Walaupun Hatta dan Langeveld mengemukakan pengertian filsafat itu lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu akan tetapi, untuk menyesuaikan pembahasan ini dengan tujuan perkuliahan kita, akan dicoba juga membahas pengertian filsafat secara singkat. Berdasarkan hasil tela'ah, sejak zaman Yunani Kuno sampai dengan sekarang, beberapa ahli filsafat telah mendefinisikan filsafat. Plato menyatakan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang murni (asli). Murid Plato, Aristetoles mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, seperti ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika etika, ekonomi, politik, dan estetika. Descartes mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan segala ilmu pengetahuan termasuk didalamnya Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Adapun Al-Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki halikat yang sebenarnya. (Ahmad syadali, 16)
Sementara menurut Immanuel Kant menyatakan, bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya mencakup empat persoalan, yaitu apa yang dapat diketahui (metafisika), apa yang seharusnya diketahui ( etika), sampai dimana harapan kita (agama), dan apa yang dinamakan dengan manusia (antropologi) (Sutardjo, 2007:11), dan menurut Hasbullah Bakri merumuskan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam, semesta alam, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hekekat ilmu filsafat dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan itu.
Sepatutnya, kita memberikan catatan mengenai  penggunaan istilah ilmu atau ilmu pengetahuan untuk pengertian umum filsafat. Saat ini, filsafat dan ilmu atau ilmu pengetahuan merupakan dua hal berbeda. Sedikit penjelasan dapat dikemukakan, bahwa sebelum tahun 1500-an, semua wacana disebut filsafat, setidaknya di Yunani. Orang yang sedang berbicara tentang ilmu bumi atau masalah jual beli pun disebut sedang berfilsafat karena pada dasarnya adalah mencari kebenaran. Setelah zaman filsafat modern yang dipelopori Descartes dan John Locke terdapat perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.

2. Objek Filsafat
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematis filsafat. Sistematis filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat, yaitu teori pengetahuan, teori hakekat, dan teori nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek yang dipikirkan oleh filosuf ialah segala yang ada dan yang mungkin ada, jadi luas sekali. Objek yang diselidiki oleh filsafat ini disebut objek materia, yaitu segala yang ada dan mungkin ada tadi. tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Bedanya ialah dalam dua hal. Pertama, sains menyelidiki objek materia yang impiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang impriris, melainkan bagian yang abtraknya. Kedua, ada objek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir, yaitu objek materia yang untuk selama-lamanya tidak empiris. Jadi, objek meteria filsafat tetap saja luas dari objek materia sains.
Selain objek materia, ada lagi objekforma, yaitu sifat penyelidikan. Objek forma filsafat ialah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Penyelidikan sain tidak mendalam karena ia hanya ingin tahu sampai batas objek itu daat diteliti secara empiris. Jadi, objek penelitian sains ialah pada batas dapat diriset, sedangkan objek penelitian filsafat adalah pada daerah tidak dapat diriset, tetapi dapat dipikirkan secara logis. Jadi, sains menyelidiki dengan riset, filsafat meneliti dengan memikirkannya.

3. Cara Mempelajari Filsafat
Isi filsafat ialah buah pikiran filosuf . Bagaimana cara mempelajarinya? Ini adalah kata lain bagi bagaimana cara memahaminya. Pertama sekali perlu kiranya diketahui bahwa isi filsafat amat luas. Luasnya itu disebabkan pertama oleh luasnya objek penelitian (objek material) filsafat, yaitu segala yang ada dan mungkin ada. Sebab lain ialah filsafat adalah cabang pengetahuan yang tertua. Dan sebab ketiga adalah pendapat filosof tidak ada yang tidak layak dipelajari, tidak ada filsafat yang ketinggalan zaman. Lalu bagaimana menghadapinya? dari mana memulainya?
Ada tiga macam metode mempelajari filsafat: metode sistematis, metode historis, dan  metode kritis.
a.   Metode Sistematis
Metode sistematis adalah cara mempelajari filsafat mengenai materi atau masalah-masalah yang dibicakannya. Sistimatis di sini artinya adanya susunan dan urutan (hierarki), juga kaitan suatu masalah dengan materi atau masalah lain yang terdapat dalam filsafat. Lantas, apa yang dimaksud dengan materi atau permasalahan dalam filsafat dan bagaimana susunan dan hubungan satu masalah dengan masalah lain terjadi? Tiga masalah pokok dalam dalam filsafat yang melahirkan jenis-jenis filsafat, disebut juga dengan problematika filsafat. Ketiga masalah tersebut antara lain. Pertama, masalah mengenal dan mengetahui (cognitio)  atau teori pengetahuan. kedua, masalah segala sesuatu (metafisika), yaitu metafisika umum (ontologi), dan metafisika khusus atau belajar tentang teori hakekat. Ketiga, masalah penilaian, nilai, dan aksiologi. Pembagian besar ini dibagi lebih khusus dalam sistematika filsafat. Tatkala membahas setiap cabang atau subcabang itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita terpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh ataupun periode. (Ahmad Tafsir, 2005:20)
Sebenarnya, sistematika filsafat ini sudah ada sejak masa Yunani Kuno yang terkenal adalah sistematika Aristoteles. Sistimatika ini dianggap sebagai sistematika pertama dalam filsafat, meskipun sebelumnya, guru Aristoteles, Plato telah mengemukakan tiga cabang filsafat, yaitu dialektika yang mempersoalkan gagasan atau pengertian umum, fisika yang mempersoalkan dunia materi, dan etika yang mempersoalkan baik serta buruk. Menurut Aristetoles, pembagian atau klasifikasi filsafat adalah logika yang dianggap sebagai pendahulu filsafat. Adapun klasifikasi filsafatnya, yaitu filsafat teoritis membicarakan fisika, matematika, dan metafisika; filsafat fisika praktis membicarakan etika, ekonomi, dan politik; serta filsafat poetika(kesenian) (Sutardjo, 2007:16)

b.   Metode Historis
Metode historis adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu, perkembangan pemikiran filsafat yang telah terjadi, sejak kelahirannya sampai saat ini, sepanjang dapat dicatat dan memenuhi syarat-syarat pencatatan serta penulisan sejarah. (Sutardjo, 2007:16). Pendekatan ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah, misalnya dimulai darai membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuan, teori hakekat, maupun dalam teori nilai. Lantas dilanjutkan dengan membicarakan Anaximandros, misalnya, lalu Socrates, lalu Rousseau, lantas kant, dan seterusnya sampai tokoh-tokoh kontemporer. Tokoh dikenalkan, kemudian ajarannya. Mengenalkan tokoh memang perlu karena ajarannya biasanya berkaitan erat dengan lingkungan, pendidikan, kepentingannya. Dalam menggunakan metode historis dapat pula ditempuh cara lain, yaitu dengan cara membagi babakan sejarah filsafat. Misalnya mula-mula dipelajari filsafat kuno (ancient philosophy). Ini biasanya sejak Thales sampai menjelang Plotinus, dibicarakan tokoh-tokohnya, ajaran masing-masing, ciri umum filsafat periode itu. Kemudian para pelajar menghadapi filsafat Abad Pertengahan (middle philosophy), lalu filsafat abad modern (modern philosophy). Variasi cara mempelajari filsafat dengan metode historis cukup banyak. Yang pokok, mempelajari filsafat dengan menggunakan metode historis berarti mempelajari filsafat secara kronologis. Untuk pelajar pemula metode ini baik digunakan. (Ahmad Tafisr, 2005:20)

c.    Metode kritis.
Metode kritis digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pelajar haruslah sedikit banyak telah memiliki pengetahuan filsafat. pelajaran filsafat pada tingkat sekolah pascasarjana sebaiknya menggunakan metode ini. Di sini pengajaran filsafat dapat mengambil pendekatan sistematika ataupun historis. Langkah pertama ialah memahami isi ajaran, kemudian pelajar mencoba mengajukan kritiknya. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat juga berupa dukungan terhadap ajaran filsafat yang sedang dipelajari. Ia mengkritik mungkin dengan menggunakan pendapatnya sendiri ataupun dengan menggunakan pendapat filosofis lain. (Ahmad Tafisr, 2005:21)
B. FILSAFAT PENDIDIKAN
Terdiri dari 4 yaitu:
·         To hear is to forget
(jika hanya mendengarkan sesuatu, faktor untuk melupakan itu sangat besar)
·         To see is to remember
(dengan melihat kita gampang untuk mengingat)
·         To read is to learn
(dengan membaca kita akan cerdas)
·         To do is to understand
(untuk mengerti kita harus mempraktekkan atau mengerjakannya)

1. Pengertian Filsafat Pendidikan
Menurut A. Chaedar Alwasilah: Filsafat Pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat, dan isi yang ideal dari pendidikan (Chaedar, 2008:101). Al-Syaibany: Filsafat Pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Hal senada dikatakan Hasan Langgulung: Filsafat Pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerapkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya (Jalaluddin, 2007:19,158). Sedang George R. Knight mengatakan: Filsafat Pendidikan tidak berbeda dengan filsafat umum, ia merupakan filsafat umum yang diterapkan pada pendidikan sebagai sebuah filsafat spesifik dari usaha serius manusia (Knight, 2007:21). Sementara Imam Barnadib mengatakan: Filsafat Pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan (Barnadib, 1986:14). Berdasar pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan adalah ilmu yang membahas pendidikan secara filosofi, atau ilmu yang membahas secara filosofi mengenai pendidikan.
2. Peranan dan Fungsi filsafat Pendidikan.
a. Peranan Filsafat Pendidikan
 Tidak dapat dinafikan setiap ilmu yang telah lahir di muka bumi tentulah memiliki arti dan fungsi bagi kehidupan manusia. Begitu pula filsafat pendidikan suatu ilmu yang memiliki peranan dan fungsi dalam kehidupan khususnya kehidupan dunia pendidikan.
 Menurut Jalaluddin & Abdullah Idi peran filsafat pendidikan: 1) Landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijakan dan pelaksanaan pendidikan; 2) Pemberi arah dan pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan. (Jalaluddin, 2007:29-33).
 Filsafat Pendidikan memiliki peranan yang penting karena filsafat pendidikan menjadi landasan filosofis dan pemberi arah untuk usaha-usaha perbaikan, kemajuan dan tetap eksisnya pendidikan. Tanpa landasan dan arahan, penyelenggaraan pendidikan sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncanakan. Landasan yang kuat sangat dperlukan bagi para pembangun bangunan pendidikan selanjutnya agar bangunannya menjadi kokoh dan eksis selamanya.

 b. Fungsi Filsafat Pendidikan
 Filsafat pendidikan di samping memiliki peranan yang strategis, juga memiliki fungsi yang penting dalam dunia pendidikan, dunia yang mampu merubah karakter manusia, dan mendewasakan manusia, serta dunia yang memanusiakan manusia.
 Fungsi filsafat pendidikan sebagai berikut: 1) Merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan, sifat dan hakikat manusia serta pendidikan, dan isi moral (sistem) nilai pendidikan; 2) Merumuskan teori, bentuk, dan sistem pendidikan, mencakup kepemimpinan, pendidikan, politik pendidikan, bahan pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, pola-pola akulturasi serta peranan pendidikan dalam pembangunan bangsa dan negara; 3) Merumuskan hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, teori pendidikan dan kebudayaan (Jalaluddin, 2007:159).
 Filsafat pendidikan memiliki fungsi merumuskan dasar dan tujuan pendidikan, merumuskan teori, bentuk dan sistem pendidikan serta merumuskan hubungannya dengan agama dan kebudayaan. Fungsi filsafat pendidikan sangat strategis karena merumuskan masalah-masalah mendasar yang berkait dengan dunia pendidikan dan hubungannya dengan pembangunan bangsa dan negara. Dasar dan tujuan pendidikan yang jelas akan memudahkan dalam penyelenggaraan pendidikan, dan dapat menjadi parameter akan tercapai tidaknya apa yang dicita-citakan.

C. DIMENSI PENDIDIKAN
Ada 3 dimensi pendidikan yaitu:
1. Long life education
(Pendidikan itu seumur hidup)
2. Weight education
(pendidikan itu melebar/luas)
3. Depth education
(pendidikan itu mendalam)

D. BERPIKIR FILSAFAT (sebuah proses berpikir)
Berpikir secara filsafat, tidak lepas dari ke 3 aspek yaitu: Aspek Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pendidikan
1. Aspek Ontlogi Pendidikan
 Pendidikan dalam hubungannya dengan asal usul, eksistensi dan tujuan hidup manusia; pendidikan suatu proses menumbuhkembangkan, dan membimbing (berkesinambungan) potensi manusia. Sasarannya menumbuhkan kesadaran atas eksistensi manusia yang berasal-usul dan bertujuan, sehingga membuahkan “kecerdasan spritual”. Kecerdasan spiritual dijadikan fondasi eksistensi manusia agar berlangsung dalam dinamika perkembangan secara konstan berdasarkan kesadaran mendalam tentang hakikat asal usul dan tujuan kehidupnnya. Ontologi Pendidikan menurut Tingkat Keberadaan: 1) Esensi abstrak pendidikan; 2) Esensi potensial pendidikan; dan 3) Esensi konkrit pendidikan (Suhartono, 2007: 112-114). Esensi abstrak pendidikan bernilai universal artinya mutlak adanya dan berlaku bagi manusia siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Sasarannya pemanusiaan manusia. Esensi potensial pendidikan, Pendidikan: suatu daya yang mampu membuat manusia berada di dalam kepribadiannya sebagai manusia, bukan makhluk lain. Pendidikan menumbuhkembangkan “kecerdasan inteligensia”. Eseensi konkrit pendidikan, Pendidikan: suatu daya yang mampu membuat setiap manusia individu berkesadaran utuh terhadap hakikat keberadaanya berdasar nilai asal usul dan tujuan kehidupannya. Berdasar kecerdasan spritual dan kecerdasan intelektual, hakikat konkrit pendidikan menekankan pada “kecerdasan emosional” yaitu kemampuan individu dalam mengendalikan perilakunya agar senantiasa sesuai dengan nilai asal usul dan tujuan kehidupan. Potensi manusia ditumbuhkan secara seimbang dan terpadu agar spirit manusia semakin cerdas. Manusia yang eksis dalam kecerdasan spiritualnya cenderung berwawasan luas dan mendalam, yang membuka untuk memasuki dunia transenden.

 2. Aspek Epistemologi Pendidikan
 Kebenaran pendidikan menunjuk pada output atau hasil dari sebuah rangkaian penyelenggaraan pendidikan. Kebenaran pendidikan dapat diukur menurut standar keilmuan, yaitu keterpaduan antara (kebenaran) bentuk dan (kebenaran) materi. Jika bentuk dan materi terpadu utuh, pendidikan benar adanya. Kebenaran bentuk diukur dengan keberhasilan menyelesaikan jenjang pendidikan formal, sedang kebenaran materi diukur sejauh mana di dalam diri seorang individu tumbuh potensi ilmu pengetahuan. Tujuan pendidikan “kecerdasan intelektual” (Suhartono, 2007: 129). Kecerdasan intelektual ini berupa, kreativitas, kecakapan dan ketrampilan, yang sumbernya kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah menjadi landasan terbentuknya watak dan sikap ilmiah. Sikap yang memandang dan menilai sesuai dengan kacamatanya, sehingga tidak ada penafsiran manipulative pada obyek.

 3. Aspek Aksiologi (Etika) Pendidikan
 Aksiologi (etika) pendidikan, sasaran utamanya menumbuhkan nilai kebaikan dalam perilaku manusia sehingga menjadi matang dan cerdas (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional adalah perlaku yang mengandung kebenaran, dan syarat dengan kebijaksanaan. Kecerdasan emosional adalah sebuah perilaku yang dibangun menurut dasar ontologi dan epistemologi pendidikan (Suhartono, 2007: 140). Kecerdasan spiritual menjadi basis dari kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosional. Tanggung jawab pencerdasan emosioanal selain keluarga, institusi pendidikan, juga masayakat. Masyarakat merupakan keseluruhan entitas social sehingga memiliki peran sentral dalam pencerdasan emosional. Meskipun ketiga komponen tersebut bertanggung jawab atas pencerdasan emosional tapi pada hakekatnya pencerdasan emosional berada pada individu masing-masing, yang merupakan makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan.

E. FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu adalah tinjauan kritis tentang pendapat ilmiah dengan menilai metode-metode pemikirannya secara netral dalam kerangka umum cabang pengetahuan intelektual
Ruang lingkup filsafat ilmu melingkupi ontologi ilmu yang mengupas hakikat dari ilmu itu sendiri, epistemologi ilmu yang membahas tatacara dan landasan untuk mencapai pengetahuan ilmiah tersebut dan terakhir aksiologi ilmu yang meliputi nilai-nilai normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan.
Objek dari filsafat ilmu dapat bersifat umum dan bersifat khusus yang terbagi menjadi dua yaitu secara mutlak dan tidak mutlak
sejarah perkembangan filsafat sudah dimulai sejak zaman yunani kuno dengan tokoh-tokoh terkenal seperti aristoteles, plato, thales dan sebagainya, kemudian dilanjutkan pada zaman abad pertengahan yang digawangi oleh para pemuka agama dengan terpengaruh pada pemikiran tokoh yunani kuno. perkembangan filsafat selanjutnya adalah zaman renaissance atau kebangkitan kembali yang berpendapat pada kebebasan manusia dan tidak didasarkan pada campur tangan tuhan. perkembangan terakhir yaitu pada zaman modern yang ditandai dengan beruntunnya penemuan-penemuan ilmiah dan mutakhir yang dirintis pada zaman renaissaince

F. FUNGSI FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
 1. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
 2. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan  filsafat lainnya.
 3. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
 4. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
 5. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
Kegunaan filsafat ilmu
1. Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga kritis terhadap kegiatan ilmiah.
2. Menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.
3. Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat.

visi misi hidupku

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup, prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya. Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang ada, atau dengan kata lainya bagaimana kondisi psikologis/jiwa seseorang dalam menjalani hidupnya.
Dalam suatu kehidupan, pasti ada ambisi untuk kedepanya. Saya Megawati Bohari seorang mahasiswi Pascasarjana yang berkuliah di sebuah Universitas di Makassar, saya kuliah untuk menambah ilmu , wawasan, dan mencari gelar untuk mencapai cita-cita.

VISI
Visi saya, berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai titik maksimal. Menjadi seseorang yang berwibawa dalam tutur kata dan tindakan. Meraih kesuksesan dunia akhirat serta membahagiakan kedua orang tua.
            Dimana dalam visi tersebut saya dasari dengan berperilaku baik, berpikir positif, tampil sederhana, tegas dalam aturan, manusiawi dalam layanan, dan disegani orang.

MISI
Berkepribadian baik dan selalu taat kepada Allah dan patuh terhadap kedua orang tua, selalu menjaga kejujuran, mampu berinovasi, kreatif, dan  berprinsip untuk meraih kesuksesan,
Visi dan misi pribadi saya dilandasi oleh nilai-nilai
·        Kejujuran artinya menggunakan sesuatu yang menjadi milik sendiri atau dengan kata lain, tidak merebuthak orang lain.
·        Kerendahan hati artinya tidak sombong
·        Kebersamaan artinya menghargai semua pendapat atau ide seseorang, tidak mementingkan diri sendiri.

KELEBIHAN
Saya tipe orang yang optimis, tidak gampang menyerah dengan masalah yang dihadapi.

KEKURANGAN
·        Konsentrasi pikiran saya kurang kuat
·        Saya terlalu banyak curiga dan khawatir, dengan itu saya kadang-kadang susah mengontrol emosi
·        Ragu dalam mengambil keputusan, sehingga sering meminta pertimbangan kepada orang terdekat dalam mengambil keputusan
·        Saya termasuk orang yang keras kepala.


Positif Thinking

Berpikir positif dapat dideskripsikan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi. Berpikir positif pun merupakan suatu kebiasaan untuk melihat segala sesuatu yang dihadapi atau diamati dari segi positif dan membiarkan pikirannya berproses secara positif yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku. Selain itu pikiran psitif dapat menjadi potensi dasar yang mendorong manusia untuk berbuat dan bekerja dengan menginvestasikan seluruh kemanusiaannya. Biasa dikatakan, itulah pikiran yang membuat hidup seseorang menjadi lebih baik, yang membantu seseorang dalam mengembangkan akal, perasaan, dan perilakunya menjadi lebih baik, dan juga dapat menyingkap kekuatan tersembunyi pada manusia dan mengubah kehidupannya menjadi lebih berkualitas.
Menurut Comte, perkembangan manusia berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, tahap teologis, kedua, tahap metafisik, ketiga, tahap positif.
1.      Tahap Teologis
Pada tahap teologis ini, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakekat yang batiniah (sebab pertama). Di sini, manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Artinya, di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
2.      Tahap Metafisik
Tahap ini bisa juga disebut sebagai tahap transisi dari pemikiran Comte. Tahapan ini sebenarnya hanya merupakan varian dari cara berpikir teologis, terjemahan metafisis dari monoteisme itu misalnya terdapat dalam pendapat bahwa semua kekuatan kosmis dapat disimpulkan dalam konsep “alam”, sebagai asal mula semua gejala.
3.      Tahap positif
Pada tahap positif, orang tahu bahwa tiada gunanya lagi untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun metafisik. Sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya, yaitu dengan “pengamatan” dan dengan “memakai akalnya”.

Pada tahap ini pengertian “menerangkan” berarti fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum. Dengan demikian, tujuan tertinggi dari tahap positif ini adalah menyusun dan dan mengatur segala gejala di bawah satu fakta yang umum.
Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah.
Berpikir positivistik adalah berpikir saintifik, dan berpikir saintifik adalah berpikir nonteleologis (<teleos=berarah ke suatu tujuan yang final).  Maka, di sini terjadinya segala peristiwa sosial akan dipahamkan sebagai suatu fenomen akibat, yang secara logis mestilah dimengerti secra lugas sebagai konsekuensi adanya suatu sebab.
Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian/persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.Positivisme ini sebagai perkembangan yang ekstrem, yakni pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”, atau yang mereka namakan positif.
Persepsi negatif yang muncul dalam benak, dapat mengakatakan pada diri sendiri, bahwa nobody’s perfect dan it’s okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan. Hati-hatilah agar masa depan tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.

Langkah-langkah berpikir positif:
1.      Perluas wawasan.
2.      Berpikir kritis.
3.      Mengasah kemampuan analisis.
4.      Melakukan check dan recheck setiap informasi untuk memvalidasi kebenarannya.
5.      Bersikap tenang dalam mengambil keputusan
6.      Bersikap jujur pada diri sendiri, dan belajar dari kesalahan.
Manfaat berpikir positif :
1.      Percaya diri
2.      Mampu mengambil keputusan
3.      Meningkatkan fokus
4.      Berwawasan luas
5.      Hidup sukses dan bahagia
6.      Mengatasi stress

7.      Menjadi lebih sehat

Kuliah di PERTANIAN,. knapa tidak...!!!

MENGAPA KULIAH DIFAKULTAS YANG DIPILIH...?

Saat ini pertanian di Indonesia berada pada kondisi memprihatinkan di berbagai sub bidangnya. Kurangnya pengelolaan yang serius disinyalir menjadi penyebab kemunduran pertanian kita. Padahal, di berbagai negara seperti China, India, Jepang, Korea, Brazil, bahkan Thailand sudah sadar pentingnya sektor ini dan mereka sangat serius mengelola pertaniannya. Apabila dibandingkan dengan mereka, sebenarnya kita tidak kalah sumber daya dibandingkan negara – negara tersebut. Hal itu merupakan stimulus dan tantangan bagi kita untuk memperbaikinya dan menjadikan pertanian berjaya seperti sedia kala. Penurunan kualitas dan kuantitas sumberdaya alam salah satu penyebabnya rendahnya produksifitas sektor pertanian. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan adanya pendekatan secara holistik dan terpadu antar berbagai sub sektor dalam sektor pertanian.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini, akan saya berikan beberapa alasan  mengapa saya kuliah di system- sistem pertanian  UNHAS. Program Sistem-Sistem Pertanian Program Pascasarjana Unhas disamping menitik beratkan pengkajian mendalam pada masing-masing minat studi (Agronomi, Pengolahan dan Pengembangan Sumberdaya Lahan, Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan serta Agroindustri), juga menekankan perlunya wawasan yang luas tentang keterkaitan antar masing-masing minat studi tersebut pada Program Studi Sistem-Sistem Pertanian PPs Unhas.

Mengenal Jurusan dan Proses Kuliah di Bidang Pertanian
Mendengar kata pertanian, mungkin bagi kalian sudah sangat sering, tetapi apabila setelah lulus SMA, kemudian kalian dihadapkan dengan pilihan jurusan kuliah dan didalamnya terdapat jurusan yang berkaitan dengan pertanian, saya yakin sebagian besar dari kalian yang saat ini membaca tulisan ini tidak akan memilih jurusan tersebut. Ya, dapat dimaklumi karena masih banyak orang yang menggambarkan pertanian secara sederhana, yaitu orang tani yang bekerja di sawah dan sebagian besar masih berada dalam kondisi prasejahtera. Tanpa bermaksud merendahkan kaum petani, tetapi kita lihat memang mayoritas petani kita berpendidikan rendah. Kaum tua masih menguasai persentase usia petani saat ini dengan pola pikir konvensional dan turun menurun dari nenek moyang. Hal – hal tersebutlah yang membuat banyak petani kurang bisa maju untuk setidaknya meningkatkan perekonomian dirinya sendiri. Di satu sisi, ada sejumlah orang yang sangat sukses bergelut di bidang pertanian dengan meraup keuntungan yang sangat besar dari Agribisnis pertanian. Dapat dipastikan, orang – orang sukses tersebut pastilah mempunyai cara cerdas yang membedakannya dengan petani biasa dalam sistem kerja usaha taninya. Dan cara – cara yang cerdas itulah yang nantinya akan kalian dapat apabila kalian mengambil kuliah di bidang pertanian.
Terus, bagaimana proses kuliah di bidang pertanian? Pertanyaan tersebut mungkin ada di benak kalian sekarang. Mari kita lihat dari pembagian jurusannya. Jurusan – jurusan yang ada di dalam Fakultas Pertanian mungkin akan berbeda antara Universitas satu dengan Universitas yang lain. Namun secara umum, jurusan – jurusan dalam Fakultas Pertanian adalah  :
1.      Budidaya Pertanian
Mengkaji interaksi antara tanaman dan lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. dengan menerapkan berbagai teknologi budidaya tanaman
2.      Sosial Ekonomi Pertanian
Mengkaji ilmu – ilmu sosial ekonomi pertanian yang melihat pertanian dari perspektif tingkah laku manusianya dan kaitannya dengan keadaan masyarakat secara keseluruhan.
3.      Ilmu Tanah
Mengkaji faktor tanah / media tanam dari sifat fisik, kimia, dan biologi yang diintegrasikan dengan daya adaptasi tanaman, guna mendapatkan suatu sistem tanam yang optimal.
4.      Perlindungan Tanaman
Mengkaji pengamanan produksi pertanian melalui manajemen kesehatan tanaman

Prospek Karir Pekerjaan untuk Lulusan Pertanian
Survey Higher Education Statistics Agency tahun 2012 menunjukkan bahwa lulusan pertanian masuk menjadi 10 lulusan yang paling mudah mencari pekerjaan, dengan menempatkannya di posisi ke 5.  Survey tersebut sebenarnya  tidak terlalu mengherankan, karena pertanian merupakan penyokong vital kehidupan. Alumnus pertanian sangat mempunyai prospek pekerjaan yang luas seiring dengan kesadaran akan pentingnya pertanian sebagai penggerak pembangunan bangsa. Beberapa pekerjaaan tersebut antara lain :
1.      Lembaga milik Negara
Balai – balai penelitian Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Pendidikan Nasional, LIPI sampai  KPK merupakan beberapa lembaga yang menyerap lulusan pertanian untuk kinerjanya.
2.      BUMN
Beberapa BUMN yang menyerap lulusan pertanian adalah PT. Perkebunan Nusantara, PT. Pertani, PT Sang Hyang Seri, Perum Bulog, dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia.
3.      Perkebunan
Perkebunan di Indonesia sangatlah banyak, dari perkebunan sayur, buah, tanaman hias landscape, kelapa sawit, gula, sorgum, karet dan lain – lain. Dewasa ini semakin banyak pihak swasta level nasional atau multinasional  yang mengusahakan pembukaan lahan pertanian, sebagai contoh, bahkan perusahaan seperti Sampoerna, Bakrie, dan Astra  berlomba – lomba menginvestasikan dananya di bidang pertanian yang artinya semakin banyak kebutuhan untuk tenaga ahli di bidang pertanian.
4.      Pabrik Pengolahan Pertanian
Hampir sebagian besar barang – barang yang sering kalian lihat di supermarket sekarang ini adalah produk pertanian. Mie, obat herbal, snack, minuman sari rasa, kosmetik, parfum, roti, dan minyak goreng merupakan contoh hasil olahan pertanian. Pabrik – pabrik tersebut membutuhkan tenaga ahli pertanian untuk budidaya bahan bakunya ataupun sebagai quality control.
5.      Bank
Mungkin kalian ada yang heran, kenapa lulusan pertanian bisa masuk ke Bank? Begini jawabannya teman. Bank merupakan lembaga keuangan yang dimana banyak debitur atau krediturnya adalah perusahaan atau perorangan yang usahanya bergerak di bidang pertanian, oleh karena itu banyak bank yang menghendaki kualifikasi lulusan pertanian untuk dijadikan karyawan, baik itu di level posisi atas sampai bawah. Posisi seperti auditor, kepala cabang, dan marketing manager adalah posisi yang sering dipegang anak – anak pertanian, dan salah satu bank yang sangat berminat dengan lulusan pertanian adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI).
6.      Wirausaha
Ilmu pertanian merupakan ilmu yang sangat aplikatif di lapangan. Dari satu mata kuliah sederhana seperti budidaya tanaman sayur atau cara membuat pupuk organik saja kita sudah bisa berbisnis. Belum lagi mata kuliah lanjutan lainnya. Ada banyak pilihan untuk berwirausaha di bidang pertanian. Baik dari proses hulu sampai hilir mempunyai prospek yang baik. Dari pengadaan sarana pertanian kalian bisa berwirausaha pupuk, pestisida, pengadaan benih dan bibit, atau alat – alat pertanian. Dari hasil budidaya, kalian cukup memilih komoditas yang ada dari tanaman buah, sayur, tanaman hias, pangan, palawija, atau tanaman berkayu. Kalian juga bisa berwirausaha mengolah hasil budidaya dan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Jadi, kalian cukup memilih dari sekian banyak peluang tersebut untuk dikonversikan menjadi keuntungan bagi kalian.

Dari pemaparan saya diatas, itulah alasan besar saya mengapa mengambil PASCASARJANA pertanian (system-sistem pertanian).


.




 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.