Minggu, 31 Maret 2013

5 Jenis Gangguan Menstruasi/Haid


Perempuan dapat memiliki berbagai masalah dengan menstruasi/haid mereka. Masalah tersebut dapat berupa tidak mengalami menstruasi sama sekali sampai menstruasi berat dan berkepanjangan.
Pola haid boleh saja tidak teratur, tetapi jika jarak antar menstruasi kurang dari 21 hari atau lebih dari 3 bulan, atau jika haid berlangsung lebih dari 10 hari maka Anda harus mewaspadai adanya masalah ovulasi atau kondisi medis lainnya.

1. Amenore

Amenore adalah tidak ada menstruasi. Istilah ini digunakan untuk perempuan yang belum mulai menstruasi setelah usia 15 tahun (amenore primer) dan yang berhenti menstruasi selama 3 bulan, padahal sebelumnya pernah menstruasi (amenore sekunder).
Amenore primer biasanya disebabkan oleh gangguan hormon atau masalah pertumbuhan. Amenore sekunder dapat disebabkan oleh rendahnya hormon pelepas  gonadotropin (pengatur siklus haid), stres, anoreksia, penurunan berat badan yang ekstrem, gangguan tiroid, olahraga berat, pil KB, dan kista ovarium.

2. Sindrom Pramenstruasi (PMS)

Sindrom pramenstruasi (PMS) adalah sekelompok gejala fisik, emosi, dan perilaku yang umumnya terjadi pada minggu terakhir fase luteal (seminggu sebelum haid). Gejala biasanya tidak dimulai sampai 13 hari sebelum siklus, dan selesai dalam waktu 4 hari setelah perdarahan dimulai.
Beberapa gejala PMS yang sering dirasakan:
  • Payudara menjadi lembut dan bengkak
  • Depresi, mudah tersinggung, murung dan emosi labil (mood swing)
  • Tidak tertarik seks (libido menurun)
  • Jerawat berkala
  • Perut kembung atau kram
  • Sakit kepala atau sakit persendian
  • Sulit tidur
  • Sulit buang air besar (BAB)

3. Dismenore

Dismenore adalah menstruasi menyakitkan. Nyeri menstruasi terjadi di perut bagian bawah tetapi dapat menyebar hingga ke punggung bawah dan paha. Nyeri juga bisa disertai kram perut yang parah. Kram tersebut berasal dari kontraksi dalam rahim, yang merupakan bagian normal proses menstruasi, dan biasanya pertama dirasakan ketika mulai perdarahan dan terus berlangsung hingga 32 – 48 jam.
Dismenore yang dialami remaja umumnya bukan karena penyakit (dismenore primer). Pada wanita lebih tua, dismenore dapat disebabkan oleh penyakit tertentu (dismenore sekunder), seperti fibroid uterus, radang panggul, endometriosis atau kehamilan ektopik.
Dismenore primer dapat diperingan gejalanya dengan obat penghilang nyeri/anti-inflamasi seperti ibuprofen, ketoprofen dan naproxen. Berolah raga, kompres dengan botol air panas, dan mandi air hangat juga dapat mengurangi rasa sakit.
Bila nyeri menstruasi tidak hilang dengan obat pereda nyeri, maka kemungkinan merupakan dismenore sekunder yang disebabkan penyakit tertentu.

4. Menoragia

Menoragia adalah istilah medis untuk perdarahan menstruasi yang berlebihan. Dalam satu siklus menstruasi normal, perempuan rata-rata kehilangan sekitar 30 ml darah selama sekitar 7 hari haid. Bila perdarahan melampaui 7 hari atau terlalu deras (melebihi 80 ml), maka dikategorikan menoragia.
Penyebab utama menoragia adalah ketidakseimbangan jumlah estrogen dan progesteron dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan endometrium terus terbentuk. Ketika tubuh membuang endometrium melalui menstruasi, perdarahan menjadi parah.
Menoragia juga bisa disebabkan oleh gangguan tiroid, penyakit darah, dan peradangan/infeksi pada vagina atau leher rahim.

5. Perdarahan Abnormal

Perdarahan vagina abnormal (di luar menstruasi ) antara lain:
  • Pendarahan di antara periode menstruasi
  • Pendarahan setelah berhubungan seks
  • Perdarahan setelah menopause
Perdarahan abnormal disebabkan  banyak hal. Dokter Anda mungkin memulai dengan memeriksa masalah yang paling umum dalam kelompok usia Anda. Masalah serius seperti fibroid uterus, polip, atau bahkan kanker dapat menjadi sebab perdarahan abnormal.
Baik pada remaja maupun wanita menjelang menopause, perubahan hormon dapat menyebabkan siklus haid tidak teratur.

Senin, 25 Maret 2013

TAMAN MARGASATWA MUARA ANGKE KEINDAHAN ALAM JAKARTA


Taman Margasatwa Muara Angke merupakan obyek wisata edukasi konservasi alam yang berlokasi di depan perumahan elite Pantai Indah Kapuk. Taman Margasatwa Muara Angke dengan luas 25,02 hektar merupakan kawasan hutan terakhir yang ada di area Ibu Kota Jakarta.Taman Margasatwa Muara Angke menyajikan ekosistem hutan bakau di Jakarta Utara yang berfungsi sebagai pertahanan terakhir untuk melawan abrasi air laut.

Dari daftar pustaka yang penulis dapatkan bahwa sejarah menunjukkan pada tahun 1939 Taman Margawatwa Muara Angke dengan luas 15,4 hektar dijadikan cagar alam oleh Gubernur Hindia Belanda. Namun, pada tahun 1998 diganti statusnya menjadi suaka margasatwa oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan pelebaran area menjadi 25,02 hektar.

Pada saat penulis berkunjung di Taman Margasatwa Muara Angkesekitar pukul delapan pagi bersama rombongan. Di pintu masuk yang berupa sebuah pondokan, kami mulai memasuki area Taman Margasatwa Muara Angke melewati jembatan kayu yang dibangun dengan sangat rapi.
Saat berada di pusat informasi, kami disambut dengan seorang petugas dariTaman Margasatwa Muara Angke. Surat ijin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BSKDA) yang telah dipersiapkan oleh salah satu panitia kampus dari salah satu perguruan tinggi swasta dari Yogyakarta pun diberikan kepada petugas tersebut.

Hal menarik yang mencuri perhatian dari penulis akan suatu perjalanan sejarah nama Angke yang terpampang di papan informasi Taman Margasatwa Muara Angke. Berikut kutipan dari apa yang penulis dapatkan.
  • Diperkirakan dinamai menurut panglima perang Kerajaan BantenTubagus Angke, yang memimpin pasukanKerajaan Banten untuk menggempur benteng Portugis diSunda Kelapa (Jakarta) pada awal abad ke-16. Sungai tempat pasukan Tubagus Angke bermarkas , kemudia dikenal sebagai kali Angke dan daerah yang terletak di ujung sungai ini disebut Muara Angke.
  • Berasal dari bahasa Hokkin"ang" yang berarti "merah"dan "ke" yang berarti "sungai/kali". Pada Tahun 1740, Belanda membantai 10.000 orang Tionghoa di Glodok yang membuat warna air Kali Angke merah bercampur darah.
  • Berasal dari Bahasa Snasekerta"anke", yang berarti"kali yang dia"

Memulai perjalanan wisata di Taman Margasatwa Muara Angkepenulis memasuki area rawa hutan bakau dengan pohon bakau yang berukuran tinggi dan besar. Baik untuk memulihkan kepenatan selama bekerja dengan berusaha bersinergi dengan alam. Warna hijau dedaunan dan warna jembatan yang cenderung kecokelatan memberikan kombinasi nuansa alam yang sungguh menarik.
Memulai perjalanan wisata di Taman Margasatwa Muara Angkepenulis memasuki area rawa hutan bakau dengan pohon bakau yang berukuran tinggi dan besar. Baik untuk memulihkan kepenatan selama bekerja dengan berusaha bersinergi dengan alam. Warna hijau dedaunan dan warna jembatan yang cenderung kecokelatan memberikan kombinasi nuansa alam yang sungguh menarik.

Sesuai dengan penjelasan, rawa merupakan "pembersih alami" yang berfungsi sebagai sumber penyaringan air yang tercemar. Daerah rawa memberikan kontribusi besar dilihat dari sisi ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup sehingga keberadaannya harus selalu dilestarikan. paku laut, prumpung, dan gelagah adalah jenis tumbuhan yang mendominasi area rawa di Muara Angke.

Meneruskan perjalanan melalui jembatan dan mulai menapatkan pemandangan baru saat memasuki area tampat tumbuhan nipah, mulai banyak terlihat di kedua sisi jembatan. Nipah merupakan tumbuhan satu rumpun dengan kelapa yang banyak ditemui di daerah bakau atau di daerah pasang surut dengan kadar garam randah. Daun nipah dapat dianyam dan dijadikan dinding rumah, alas rumah, dan benda anyaman lainnya.

Terlihat burung liar kecil beterbangan dengan bebas di obyek wisataTaman Margasatwa Muara Angke. Seekor burung bangau yang sedang bertengger dengan angkuhnya di sebuah pohon. Kicauan burung yang menyertai perjalanan penulis sepanjang waktu di tempat ini bersama para peserta wisata. Sayangnya penulis tidak dapat melihat wujud cantik makhluk ciptaan Tuhan ini. Karena burung-burung ini merasa lebih nyaman bersembunyi dan memamerkan keindahan kicauannya hanya dari balik pohon-pohon hijau yang rimbun

Eceng gondok
Tidak lama kemudian penulis disambut dengan pemandangan tumbuhan lainnya, yaitu enceng gondok yang tumbuh di air dan memenuhi sebagian kecil sungai. Dari sana penulis dapt melihat bangunan rumah mewah Pantai Indah Kapuk yang sungguh memberikan kesan kontras akan modernisasi yang serba mewah dengan kejernihan alam hijau yang sederhana.

Awalnya penulis tidak akan pernah percaya bila diri ini sedang berada diMuara Angke dan berada di tengah kepadatan serta kesumpekan Kota Jakarta, sebuah obyek wisata Taman Margasatwa yang penuh dengan tumbuhan hijau dan habitat liar yang kelihatannya memberikan kesejukan tersendiri serta memberikan keseimbangan alam sempurna untuk Kota Jakarta.

Tidak lama kemudian penulis beserta rombongan disambut monyet-monyet ekor panjang yang berkeliaran di pagar jembatan. Mereka berkeliaran di pagar jembatan sambil bermain, meloncat dari pagar jembatan dan kemabali ke pepohonan. Ada satu ekor monyet betina yang menggendong anak monyet di dadanya, ia berlari dan meloncat didepan kami. Sungguh hal ini merupakan suatu hiburan tersendiri bagi para peserta wisata. Menurut keterangan dari pihak Taman Margasatwa Muara Angke, di tempt ini terdapat 90-120 ekor monyet yang diami kawasan Muara Angke dan biasanya mereka tinggal secara berkelompok.

Kami pun mendapat himbauan agar tidak memberikan makanan kepada monyet, karena akan mengganggu lingkaran ekosistem yang terdapat di Muara Angke. Namun, ada saja pengunjug yang bandel dan tetap bersikeras untuk memberikan kue kecil atau pun roti kepada monyet-monyet itu. Monyet-monyet itu liar, namun mereka tidak menggigit atau menganggu para pengunjung.

Setelah puas melihat kelompok monyet, kami pun meneruskan perjalanan wisata kami, hingga samapi di ujung jembatan. Tidak terasa, kami sudah berjalan kurang lebih satu kilo meter. Setelah puas melakukan photo-photo diujung jembatan  kayu titik paling akhir, kami kembali melalui jalur yang sama, jalur yang telah kami lalui sebelumnya.

Terlihat dari kejauhan oleh penulis sekelompok siswa sekolah menengah pertama sedang melakukan kegiatan untuk membersihkan kawasan ini. Ternyata ditempat ini selalu ada aktivitas kegiatan yang dilakukan oleh beberapa karang taruna dan LSM serta beberpa anak-anak sekolah untuk melakukan kegiatan yang positif untuk membersihkan kawassan ini dari sampah yang berserakkan di rawa. Sungguh aktifitas yang dapat memberikan nilai positif dan berdampak langsung dalam bersinergi dengan alam.

Mereka tampak ceria dan giat menjalankan aktivitas ini walaupun berada di bawah terik matahari. Dengan peralatan yang sangat minim, mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengambil sampah yang menggenang di air dengan tangan mereka sendiri. Mereka membagi diri dalam kelompok untuk melaksanakan program ini secara efektif. Saya sungguh kagum akan apa yang mereka lakukan untuk memberikan kontribusi pada perbaikan lingkungan hidup.

Tidak jauh dari pengamatan penglihatan penulis. Dibeberapa sudut jembatan terdapat kerumunan fotographer dan beberapa model cantik yang saat itu sedang sibuk melakukan sesi pemotretan . TernyataTaman Margasatwa Muara Angke merupakan satu spot yang cukup terkenal bagi para fotografer untuk menciptakan karya-karya indah melalui lensa mereka.

Apa yang terlihat dan dirasakan di tempat obyek wisata ini sangat indah dan memiliki kesan tersendiri bagi penulis dan peserta wisata yang penulis bawa. Menurut data yang penulis terima dari berbagai sumber, sampai saat ini, daya tarik Taman Margasatwa Muara Angke terasa sangat kuat. Bukan saja orang-orang dari Jakarta yang melakukan wisata di tempat itu, namun banyak juga orang-orang yang berasal dari pelosok Indoneia, bahkan dari negara tetangga di Asia tenggara dan Eropa, mereka sengaja hadir untuk sekedar menikmati obyek konservasi alam ini.

Keberadaan Taman Margasatwa Muara Angke setiap detik mengetuk hati orang yang mau peduli dan  merasakan pentingnya sebuah pembelajaran untuk alam. Mari kita merubah untuk melakukan wisata cerdas dalam memberiakan pembelajaran diri dan generasi muda. Agar tidak selalu tertanam dalam pikiran kita dengan melakukan wisata hanya mendapatkan suatu kesenangan belaka tanpa ada manfaat untuk lingkungan dan alam sekitar kita..


Rabu, 13 Februari 2013

Biografi Penulis



           RIWAYAT HIDUP

Megawati Bohari, S.Si, lahir di Labocing Desa Tappale, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone pada tanggal 01 Agustus 1990 dari ayahanda Bohari (almarhum) dan ibunda Hasnaeni Umar (almarhumah). Penulis menempuh pendidikan formal pada tahun 1995-2000 di SD Negeri 186 Tappale Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Kemudian penulis melanjutkan  pendidikan di SLTP Negeri 3 Kahu pada tahun  2001-2003.  Pada tahun 2004-2007 penulis melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 1 Libureng. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidkan di UNIVERSITAS  ISLAM NEGERI  (UIN) Alauddin Makassar melalui jalur UML dan diterima di fakultas Sains dan Teknologi di Jurusan Biologi. Selama menjalani perkuliahan, penulis aktif di sebuah organisasi daerah yaitu organisasi KEPMI BONE, selain itu penulis juga menjadi asisten di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Teknologi. Penulis pernah PKL di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Makassar pada tahun 2010. Terakhir penulis membuat skripsi dengan judul “Identifikasi Jenis-Jenis Poaceae di Area Kampus 2 UIN Alauddin.


Sabtu, 26 Januari 2013

Bunga

 

Bunga (Flos)



Bunga (flos) adalah bagian tanaman dari divisi Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup), yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan (reproduksi). Oleh karena berfungsi sebagai alat perkembang-biakan, maka bunga dilengkapi organ reproduksi yaitu benang sari dan putik.

Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air.


Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf (“berbentuk bintang”, simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.


Sehari-hari istilah bunga juga dipakai untuk menyebut struktur yang secara botani disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan. Dalam konteks ini, satuan bunga yang menyusun bunga majemuk disebut floret.



Bagian-bagian (Struktur) bunga, yaitu;
  • Tangkai Bunga (pedicel); bagian bawah bunga. Tangkai ini berperan sebagai penopang atau tempat melekatnya bunga dan sebagai penyambung antara bunga dan batang atau ranting
  • Kelopak Bunga (Calix); bagian yang melindungi mahkota bunga ketika masih kuncup. Biasanya, bentuk dan warnanya menyerupai daun.
  • Mahkota Bunga (Corolla); memiliki warna bermacam-macam sehingga disebut perhiasan bunga (Periantheum). Warna yang menarik itu berguna untuk memikat kupu-kupu atau serangga lainnya agar hinggap pada bunga, untuk membantu proses penyerbukan.
  • Putik (Pistillum / alat kelamin betina); terletak di bagian tengah-tengah bunga dan biasanya dikelilingi oleh benang sari. Putik terdiri atas kepala putik (stigma), tempat terjadinya proses penyerbukan, tangkai putik (stillus) terletak di bagian yang akan menjadi buah dan Biji, bakal buah (ovarium) dan bakal biji (ovullum),.
  • Benang Sari (Stamen / alat kelamin jantan); terletak pada bagian tengah bunga yang berdekatan dengan mahkota bunga, bersifat ringan dan mudah terbang tertiup angin. Terdiri atas tangkai sari (filamen) dan kepala sari (antera), tempat dihasilkannya serbuk sari (pollen). Dapat menempel pada kaki, kepala, dan tubuh kupu-kupu atau serangga yang hinggap.
  • Dasar bunga; terletak di pangkal bunga, tempat melekatnya perhiasan bunga dan alat pembiakan.
Gambar Morfologi Bunga

Morfologi bunga sempurna
  1. Bunga sempurna,
  2. Kepala putik (stigma),
  3. Tangkai putik (stilus),
  4. Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari),
  5. Sumbu bunga (axis),
  6. artikulasi,
  7. Tangkai bunga (pedicel),
  8. Kelenjar nektar,
  9. Benang sari (stamen),
  10. Bakal buah (ovum),
  11. Bakal biji (ovulum),

  12. Serbuk sari (pollen),
  13. Kepala sari (anther),
  14. Perhiasan bunga (periantheum),
  15. Mahkota bunga (corolla),
  16. Kelopak bunga (calyx)

Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
  • Kelopak bunga atau calyx;
  • Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan;
  • Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari;
  • Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: “rumah wanita”) berupa putik.
Bunga yang memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. disebut bunga sempurna (bunga banci atau hermafrodit). Jika bunga memiliki semua bagian kecuali putik, maka disebut bunga jantan. Jika memiliki semua bagian kecuali benang sari, maka disebut bunga betina.

Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah.

Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur tumbuhan yang “umum”, spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dua subkelas dari tanaman berbunga dibedakan dari jumlah organ bunganya: tumbuhan dikotil umumnya mempunyai 4 atau 5 organ (atau kelipatan 4 atau 5) sedangkan tumbuhan monokotil memiliki tiga organ atau kelipatannya.

Fungsi Bunga

Bunga merupakan wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora), untuk menghasilkan biji. Bunga memiliki fungsi utama sebagai alat perkembangbiakan generatif. Perkembangbiakan generatif merupakan perkembangbiakan yang didahului pembuahan. Pada tumbuhan berbunga, pembuahan yang terjadi didahului dengan penyerbukan. Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya kepala serbuk sari ke kepala putik.

Bagian bunga yang paling menarik adalah mahkota. Mahkota yang indah dan berbau menyengat, secara ekologis berfungsi menarik perhatian serangga, seperti kupu-kupu, kumbang, dan lebah. Akibatnya, tanpa disadari proses penyerbukan terjadi.

Sedangkan bagi manusia, bunga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan, perlengkapan upacara adat, dan bahan rempah-rempah.

Pengelompokan Bunga

Bunga-bunga di alam, yang beraneka ragam bentuknya ini, dapat dikelompokkan berdasarkan :

1. Tipe Bunga

Berdasarkan tipenya, bunga dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak bunga.
Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga (receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistil). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle), daun pelindung (bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga.

Bunga majemuk dapat dibedakan menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk tidak terbatas. Contoh bunga majemuk terbatas adalah monochasium yang terdiri atas monochasium tunggal, sekrup, dan bercabang seling; dichasium yang terdiri atas dichasium tunggal dan dichasium majemuk; pleiochasium; bunga kipas dan bunga sabit.

Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang. Contoh yang pertama adalah bunga bulir, tongkol, untai, tandan, cawan, payung, bongkol, dan bunga periuk. Contoh yang kedua adalah bunga malai, thyrse, malai rata, bulir majemuk, tongkol majemuk dan payung majemuk

Tipe lain bunga majemuk adalah bunga karangan semu, cyathium, berkas, tukal, dan lembing.

2. Berdasarkan kelengkapan bagian bunga

Berdasarkan kelengkapan bagian bunga, bunga dibedakan menjadi bunga lengkap, bunga tidak lengkap, bunga sempurna (biseksual/hermaprodit) dan bunga tidak sempurna (uniseksual). Bunga uniseksual terdiri atas bunga jantan dan bunga betina. Berdasarkan pada kelamin bunga yang terdapat dalam suatu tumbuhan maka tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan berumah satu (monoecious), tumbuhan berumah dua (diecious) dan polygamous.

3. Berdasarkan jumlah bunga

Berdasarkan jumlah bunga, tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan berbunga tunggal (planta uniflora) dan tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora).

4. Berdasarkan letak

Berdasarkan letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga terminal bila letaknya di ujung cabang atau ujung batang; dan bunga aksiler apabila bunga terletak di ketiak daun.

Bagian bunga seperti daun kelopak dan daun mahkota berada pada susunan tertentu ketika masih kuncup. Hal ini disebut estivasi, contohnya estivasi valvate, valvate induplicate, valvate reduplicate, imbricate, ascending imbricate, descending imbricate, convolute, plicate, open dan quincuncial.

Bagian bunga lainnya, seperti dasar bunga dapat mengalami peninggian. Beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggian dasar bunga, misalnya anthofor, androfor, ginofor, androginofor dan discus. Bentuk dasar bunga yang biasa dijumpai adalah bentuk rata, kerucut, cawan, dan mangkuk.

Untuk memberikan gambaran tentang bunga dapat digunakan diagram bunga dan rumus bunga. Diagram bunga merupakan gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang. Rumus bunga merupakan gambaran mengenai berbagai sifat bunga dan bagian-bagiannya yang dinyatakan dengan huruf, angka, serta lambang-lambang tertentu.

BUNGA MAJEMUK BERBATAS DAN BUNGA MAJEMUK TAK BERBATAS

BUNGA MAJEMUK BERBATAS DAN BUNGA MAJEMUK TAK BERBATAS
 
1. Bunga Majemuk Berbatas (infloscentia cymosa atau inflorecentia centrifuga, inflorecentia definite) adalah bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, jadi ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas. Ibu tangkai ini dapat pula bercabang-cabang, dan cabang-cabang tadi seperti ibu tangkainya juga selalu mendukung suatu bunga pada ujungnya. Pada bunga majemuk berbatas bunga yang mekar dulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokok atau ibu tangfkainya, jadi tengah ke pinggir ( jika dilihat dari atas), oleh sebab itu dinamakan : inflorecentia centrifuga
Berdasarkan jumlah cabang pada ibu tangkai, Bunga Majemuk Berbatas (infloscentia cymosa atau inflorecentia centrifuga, inflorecentia definite) dibedakan dalam tiga macam:
  1. 1. Yang bersifat “ monochasial” . jika ibu tangkai hanya mempunyai satu cabang, ada kalanya lebih (dua cabang ), tetapi tidak pernah berhadapan , dan ada yang satu lebih besar dari yang lainnya. Cabang yang besar selanjutnya seperti ibu tangkai setiap kali hanya mengeluarkan satu cabang saja. Bunga majemuk semacam ini ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotiledoneae). Contoh: kapas (Cossipium sp.)
  2. 2. Yang bersifat “dichasial” jika dari ibu tangkai keluar dua cabang yang berhadapan, terdapat pada tumbuhan dengan bunga berbibir (Labiatae)
  3. 3. Yang bersifat “pleiochasial”, jika dari ibu tangkai keluar lebih dari dua cabang pada suatu tempat yang sama tingginya pada ibu tangkai tadi. Contoh: bunga oleander ( Nerium oleander L.)
Dalam golongan ini dapt lagi dibedakan:
  1. Anak payung menggarpu (dichasium). Pada ujjung ibu tangkai terdapat satu bunga. Di bawahnya terdapat dua cabang yang sama panjangnya, masing-masing mendukung satu bunga pada ujngnya. Bunga yang mekar dahulu ialah bunga yang terdapat pada ujung ibu tangkainya, seperti misalnya bunga melati (Jasminium sumbac Ait.),
Ada pula kalanya cabang bunga anak payung menggarpu yang majemuk, yang seluruhnya terdiri atas tujuh bunga, misalnya pada Clematis.
  1. Bunga tangga atau bunga becabang seling (cincinnus), yaitu suatu bunga majemuk yang ibu tangkainya becabang lagi, tetapi setiap kali bercabang hanya berbentuyk satu cabang saja, yang arahnya berganti-ganti ke kiri dan ke kanan. Bunga yang demikian ini antara alin terdapat pada buntut tikus (Helitropium indicus L.).
Pada beberapa jenis tumbuhan yang tergolong suku Euphorbiaceae, misalnya kayu merah (Euphrobia pulcherrima Wilid.), patikan (Euphorbia hirta L.), dll. Terdapat bunga majemuk, dengan susunan yang khas, yaitu; satu bunga betina dikelilingi oleh lima bunga bercabang seling, masing-masing terdiri atas empat bunga jantan. Bunga majemuk dengan susunan yang demikian itu disebut Cyanthium.
  1. Bunga sekerup (bostryx), ibu tangkai bercabang-cabang, tetapi setiap kali bercabang juga hanya terbentuk satu cabang, yang semuanya terbentuk ke kiri atau ke kanan dan cabang yang satu berturut-turut membentuk sudut 90o, sehingga jika kita mengikuti arah percabangan kita akan mengadakan gerakan seperti sekerup atau spiral, misalnya; bunga kenari (Canarium commune L.),
  2. Bunga sabit (drepanium), seperti bunga sekerup tetapi semua percabangan terletak pada satu bidang, hingga bunga seluruhnya menampakkan bentuk seperti sabit, terdapat pada tumbuhan suku Juncaceae.
  3. Bunga kipas (rhipidium), seperti bunga becabang seling, semua percabangan terletak pada satu bidang dan cabang tidak sama panjang, sehingga semua bunga pada bunga majemuk itu terdapat pada tempat yang sama tingginya, terdapat antara lain pada tumbuhan suku Iridocea.
2. Bunga Majemuk Tak Berbatas (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoides atau inflorecentia centripetal) adalah bun ga majemuk yang ibu tangkainya dapat tumbuh terus, dengan cabang-cabang yang dapat bercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan “acropetal” (semakin muda semakin dekat ujung ibu tangkai), dan bunga-bunga pada bunga majemuk ini mekar berturut-turut dari bawah ke atas. Jika ujung ibu tangkai tak mendukung suatu bunga, tampaknya seakan-akan bunga majemuk ini tak berbatas, lagi pula jika dilihat dari atas, nampak bunga mulai mekar dari pinggir dan yang terakhir mekarnya ialah bunga yang menutup ibu tangkainya. Karena yang mekar mulai dari pinggir menuju ke pusat itulah maka bunga majemuk yang bersifat demikian ini danamakan: inflorecentia centripetala. Bunga majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoides atau inflorecentia centripetal) contohnya: mangga (Mangifera indica L.), bunga kenikir

(a)
Dalam golongan ini dapat lagi dibedakan:
  1. I. Ibu tangkai tidak bercabang-cabang, sehingga bunga (bertangkai atau tidak) langsung terdapat pada ibu tangkainya. Dalam golongan ini dapat dibedakan menjadi:
    1. a. Tandan (racemus atau botrys), jika bunga bertangkai nyata, duduk pada ibu tangkainya. Kita dapat pula mengatakan ibu tangkai bercabang, dan cabang-cabangnya masih mendukung satu bunga pada ujungnya. Contoh:
    2. b. Bulir (spica), seperti tandan tetepi bunga tidak bertangkai. Contoh: lengkuas (Zingiber officinale)
  1. c. Untai atau bunga lada (amentum), seperti bulir tetapi ibu tangkai hanya mendukung bunga-bunga yang berkelamin tunggal, dan runtuh seluruhnya (bunga majemuk yang mendukung bunga jantan, yang betina menjadi buah). Contoh: pada sirih (Piper betle L.)
  2. d. Tongkol (spadix), seperti bulir, tetapi ibu tangkai besar, tebal, dan sering kali bergading. Contoh: Jagung (Zea mays L.), tetapi hanya pada bunga betina,
Pada suatu bunga tongkoi seringkali terdapat seludang bunga yang indah dan menarik warnanya, yang selain berguna untuk menarik serangga, juga merupakan perangkap bagi serangga yang mengunjungi bunga ini. Pada sebuah tongkol, bunga betinanya terdapat dibagian atas, sedang bunga jantan di bagian bawah, dan diantara kedua jenis bunga itu seringkali terdapat bunga-bunga yang mandul, seperti pada iles-iles (Amorphopallus variabilis BI.) dan tumbuhan yang tergolong suku Araceace pada umumnya.
  1. e. Bunga payung (umbella), yaitu suatu bunga majemuk tak terbatas, yang dari ujung ibu tamgkainy mengeluarkan cabang-cabang yang sama panjangnya. Masing-masing cabang mempunyai suatu daun pelindung pada pangkalnya, dank arena pangkal daun sama tinggi letaknya, maka tampak seakan-akan pada pangkal cabang-cabang tadi seperti terdapat daun-daun pembalut. Contoh:
Pada suatu bunga paying cabang-cabang ibu tangkai masing-masing dapat mengulangi cara percabangan ibu tangkainya, hingga dengan demikian terjadi bunga paying yang bertingkat, yang lazimnya lalu disebut Bunga payung majemuk, seperti terdapat pada wortel (Daucus carota L.)
  1. f. Bunga bongkol (capitulum),suatu bunga majemuk yang menyerupai bunga cawan, tetapi tanpa daun-daun pembalut, dan ujung ibu tangkai biasanya membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola. Bunga-bunga yang duduk di bagian membengkak tadi seringkali mempunyai sisik (palea) pada pangkal, jadi sisik itu terletak pada bongkolnya (ujung ibu tangkai yang membengkak tadi). Bentuk tumbuhan suku Mimosaceae,misalnya petai (Parkio speciosa Hassk.)
  2. g. Bunga periuk (hypanthodium). Bunga ini dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu:
1) Ujung ibu tangkai menebal, berdaging, mempunyai bentuk seperti gada, sedang bunga-bunganya terdapat meliputi seluruh bagian yang menebal tadi, sehingga tercapai bentuk bulat dan silinder. Daun-daun pembalut tidak ada. Bunga majemuk yang demikian susunannya contohnya seperti: nangka (Artocarpus integra Merr.),
2) Ujung tangkai menebal berdaging, membentuk badan yang menyerupai periuk, sehingga bunga-bunga yang semestinya terletak padanya lalu terdapat di dalam periuk tadi, dan sama sekali tak tampak dari luar, contohnya:
  1. h. Bunga cawan (corymbus atau anthodium), yaitu suatu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya lalu melebar dan merata, sehingga mencapai bentuk seperti cawan (ada kalanya tidak begitu lebar dan rata, sehingga bentuk cawan tidak begitu nyata), dan pada bagian itulah tersusun bunga-bunganya. Pada pangkal bunga majemuk yang demikian ini biasanya terdapatdaun-daun pembalut (involucrum) . selain dari itu pada bunga cawan lazimnya kita dapati dua macam bunga, yaitu;
1) Bunga pita: Bunga yang mandul yang terdapat sepanjang tepi cawan, oleh sebab itu dinamakan pula bunga pinggir (flos marginalis), yang seringkali mempunyai mahkota yang berbentuk pita, oleh sebab itu dinamakan pula bunga pita (flos ligulatus).
2) Bunga tabung, yaitu bunga-bunga yang tedapat di atas cawannya sendiri (flos disci), seringkali mempunyai mahkota yang berbentuk pita, oleh sebab itu dinamakan bunga tabung. Bunga inilah yang mempunyai kedua macam alat kelamin (benang sari dan putik) dan dapat menghasilkan buah.
Bunga cawan dengan bagian-bagiannya yang lengkap seperti diuraikan di atas terdapat misalnya pada bunga matahari (Helianthus annus L.), bunga dahlia,
  1. II. Ibu tangkai bercabang-cabang, dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga bunga-bunga tidak terdapat pada ibu tangkainya. Dalam golongan ini dapat disebut:
    1. a. Malai (panicula): Ibu tamgkainya mengdakan percabanga secara monopodial, demikian pula cabang-cabangnya, sehingga suatu malai dapat disamakan denga suatu tandan majemuk. Secara heseluruhan seringkali memperlihatkan bentuk sebagai kerucut atau limas, misalnya; bunga mangga (Mangifera indica L.), rambutan, langsat
    2. b. Malai rata (corymbus romosus): Ibu tangkai mengdakan percabangan, demikian pula seterusnya cabangnya, tetapi cabang- cabang tadi mempunyai sifat demikian rupa sehingga seakan-akan semua bunga pada bunga majemuk ini terdapat pada suatu bidang datar atau agak melengkung, contohnya; soka (Ixoro grandiflora),
    3. c. Bunga payung majemuk (umbella composite), yaitu suatu bunga payung yang tersusum, dapat pula dikatakan sebagai bunga paying, yang bagian-bagiannya berupa suatu payung kecil (umbellula). Pada pangkal percabangan yang pertama terdapat daun-daun pembalut (involucrum), demikian pula pada pangkal percabangan yang berikutnya, hanya daun-daunnya lebih kecil (involucellum),. Bunga bertingkat atu majemuk terdapat misalnya pada wortel (Daucus carota),
    4. d. Bunga tongkol majemuk, yaitu bunga tongkol, yang ibu tangkainya becabang-cabang dan masing-masing cabang merupakan bagian denga susunan sepaerti tongkol pula, terdapat misalnya pada kelapa (Cocos nucifera) dan palma (Palmae) umumnya. Suatu tongkol majemuk sebelum mekar biasanya diselubungi oleh seludang yang besar, tebal, dan kuat.
    5. e. Bulir majemuk, jika ibu tangkai bunga cabang-cabang dan masing-masing cabang mendukung bunga-bunga dengan susunan seperti bulir, misalnya bunga jagung (Zea mays L.) yang jantan, dan bunga berbagai jenis rumput (Gramineae).
 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.