Senin, 26 Desember 2011

LAPORAN MIKROBIOLOGI (Sterilisasi)



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Untungnya tersedia berbagai metode lain yang efektif[1].
Cara-cara sterilisasi dan desinfeksi yaitu, pembersihan, sinar matahari, sinar ultraviolet, sinar-x, dan sinar-gamma, pendinginan, dan pemanasan. Macam-macam cara sterilisasi dengan pemanasan yaitu, pemanasan dalam nyala api, pemanasan dengan udara panas (dry heat oven), merendam dalam air mendidih (menggodok), pemansan dengan uap air yang mengalir, dengan uap air yang ditekan, dan cara sterilisasi benda-benda yang tidak tahan suhu tinggi, misalnya pasteurisasi, tyndalisasi, dengan pengeringan, dengan penyaringan (filtrasi), dan dengan menggunakan zat kimia (desinfektan)[2].
B.  Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah untuk mengetahui proses sterilisasi dan mengetahui jenis-jenisnya.


       





                [1] Pengenalan-alat-dan-sterilisasi.html, http://farmasiq.blogspot.com/feeds/com ments.default (04 November 2009).
2 Indan, Mikrobiologi dan Parasitologi, (PT. Citra Aditya Bakti; Bandung. 2003). h. 40.
                                                                                                                                                                          


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Pengetahuan tentang prinsip dasar sterilisasi dan disinfeksi sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan dibidang medis yang bertanggung jawab. Cara sterilisasi dan disinfeksi yang baru banyak diperkenalkan, namun masih tetap digunakan cara-cara dan beberapa bahan seperti digunakan berabad yang lalu[1].
                Dibawah ini beberapa istilah yang banyak dipakai dalam menjelaskan efek daribeberapa bahan kimia dan fisik terhadap mikroorganisme:
1.        Sterilisasi adalah proses untuk mematikan semua bentuk kehidupan mikroorganisme, termasuk spora.
2.        Desinfeksi adalah proses mematikan sebagian dari mikroorganisme patogen.
3.        Bahan Bakterisid adalah bahan yang merusak bakteri.
4.        Bahan Germisid atau Disinfektansia adalah bahan yang dapat mematikan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.
5.        Bahan Bakteristatik adalah bahan yang mencegah terjadinya multiplikasi pertumbuhan bakteri.
6.        Antiseptik adalah bahan yang dipakai untuk mencegah sepsis atau purifikasi dengan membunuh mikroorganisme atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Biasanya bahan ini digunakan untuk dipakai pada jaringan hidup.
7.        Dekontaminasi adalah proses menghilangkan sebagian mikroba dari benda atau kulit untuk menghilangkan kontaminasi[2].
            Pematian mikroorganisme mendasari metode kerja mikrobiologi dan pengawetan bahan makanan. Pembebasan suatu bahan dari mikroorganisme hidup atau stadium istirahatnya disebut sterilisasi. Kalau sesuatu larutan tidak steril atau yang sudah ditanami kuman, tanpa dikehendaki dicemari oleh mikroorganisme, peristiwa ini disebut kontaminasi atau pencemaran[3].
                        Pentingnya penggunaan alat-alat laboratorium yang bersih dapat lebih ditekankan lagi. Semua alat kaca haruslah dalam keadaan bersih. Cara membersihkan tabung reaksi yaitu dengan menggunakan air aquadest setelah itu dikeringkan dengan menggunakan lap halus tetapi cara melapnya hanya bagian luarnya saja[4].
            Steril akan didapatkan melalui sterilisasi, sedang cara sterilisasi yang utama adalah:
1.    Sterilisasi secara fisik, misalnya dengan pemanasan, penggunaan sinar bergelombang pendek seperti sinar X, sinar gamma, sinar ultra violet dan sebagainya.
2.    Sterilisasi secara kimiawi, misalnya dengan penggunaan disenfeksi larutan alkohol, larutan formalin, larutan AMC (campuran asam khlorida dengan garam Hg) dan sebagainya.
3.    Sterilisasi secara mekanik, misalnya dengan menggunakan saringan atau filter[5].
Sterilisasi bisa dilakukan secara kimiawi dan fisik. Berdasarkan mekanisme kerjanya zat anti-mikroba, maka sterilisasi kimiawi bisa diklasifikasikan atas 3 golongan, yaitu:
1.        Golongan zat yang menyebabkan kerusakan membran sel.
2.        Golongan zat yang menyebabkan denaturasi protein.
3.        Golongan zat yang mampu mengubah grup protein dan asam amino yang fungsional[6].
Sterilisasi fisik bisa diklasifikasikan sebagai:
1.        Sterilisasi dengan panas.
2.        Sterilisasi dengan pembekuan.
3.        Sterilisasi dengan radiasi.
4.        Sterilisasi dengan ultrasonik dan vibrasi sonik.
5.        Sterilisasi dengan cara filtrasi[7].
Sterilisasi Secara Kimia, dapat dilakukan dengan cara Sterilisasi Gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat, sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh[8].
Gas yang biasa digunakan adalah etilen oksida dalam bentuk murni atau campuran dengan gas inert lainnya. Gas ini sangat mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Merupakan agen alkilasi yang menyebabkan dekstruksi mikroorganisme termasuk sel-sel spora dan vegetatif. Sterilisasi dilakukan dalam ruang atau chamber sterilisasi[9].
Sterilisasi menghasilkan bahan toksik seperti etilen klorohidrin yang menghasilkan ion klorida dalam bahan-bahan. Digunakan untuk sterilisasi ala-alat medis dan baju-baju medis, bahan-bahan seperti pipet sekali pakai dan cawan petri yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Residu etilen oksida adalah bahan yang toksik yang harus dihilangkan dari bahan-bahan yang disterilkan setelah proses sterilisasi, yang dapat dilakukan dengan mengubah suhu lebih tinggi dari suhu kamar. Juga perlu dilakukan perlindungan terhadap personil dari efek berbahaya gas ini[10].
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban, konsentrasi gas, suhu dan distribusi gas dalam chamber pengsterilan. Penghancuran bakteri tergantung pada adanya kelembaban, gas dan suhu dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas, pada pengemas pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan pengemas[11].
Mekanisme aksi etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap mikroorganisme dengan mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi proses reproduksi. Alkilasi ini barangkali terjadi dengan menghilangkan hidrogen aktif pada gugus sulfhidril, amina, karboksil atau hidroksil dengan suatu radikal hidroksi etil metabolit yang tidak diubah dengan tidak tersedia bagi mikroorganisme sehingga mikroorganisme ini mati tanpa reproduksi[12].
Sterilisasi Secara Fisika, dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemanasan Kering
a. Udara Panas Oven
            Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak, paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas dan banyak alat-alat bedah[13].
            Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam autoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap autoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan[14].
            Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121oC (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untuk alasan ini, autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali[15].
            Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121°C selama 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150°C sampai 170°C selama 1-4 jam[16].
            Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas[17].


b. Minyak dan penangas lain
            Bahan kimia dapat disterilisasi dengan mencelupkannya dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memelihara cat penutup[18].
c. Pemijaran langsung
            Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini[19].
2. Panas lembab
a.  Uap bertekanan
            Stelisisasi dengan menggunakan tekanan uap jenuh dalam sebuah autoklaf. Ini merupakan metode sterilisasi yang biasa digunakan dalam industri farmasi, karena dapat diprediksi dan menghasilkan efek dekstruksi bakteri, dan parameter-parameter sterilisasi seperti waktu dan suhu dapat dengan mudah dikontrol dan monitoring dilakukan sekali dalam satu siklus yang divalidasi[20].
b. Uap panas pada 100oC
            Uap panas pada suhu 100oC dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur[21].
c. Pemanasan dengan bakterisida
            Pemanasan ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap panas pada 100oC. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf[22].
d. Air mendidih
            Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahan-bahan logam[23].

3. Cara Bukan Panas
a. Sinar ultraviolet
            Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm[24].
b. Aksi letal
            Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang[25].
c. Radiasi pengion
            Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan mutlak karena tidak menyebabkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari, mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam[26].





[1] Yusriani Mangarengi Aris, Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi, (Makassar; Universitas Indonesia Timur. 2008). h. 50.
[2] Ibid.
[3] Hans Schlegel, Mikrobiologi Umum Edisi 6 (Gadjah Mada. University Press. 1994). h. 58.
[4] Riandi, Teknik Laboratorium (Jakarta. 2004). h. 40.
[5] Suriawira, Pengantar Mikrobiologi Umum (Angkasa; Bandung. 1983). h. 96.
[6] Yusriani Mangarengi Aris, op.cit. h. 51.
[7] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] sterilisasi/s-kimia.htm, http://www.mypagerank.net/seomonitor-37433.html (04 November 2009).
[12] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Ibid. .
[16] Ibid.
[17] Ibid.

[18] Ibid.
[19] Ibid.

[20] Ibid.
[21] Ibid.
[22] Ibid.
[23] Ibid.

[24] sterilisasi-secara-fisika.html, http://www.finderonly.com (04 November 2009).
[25] Ibid.

[26] Ibid.
                                                                                                                                                             

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari / tanggal         : Kamis / 05 november 2009
Pukul                      : 15.30 – 17.00 Wita
Tempat                   : Laboratorium Biologi Gedung B lantai III
                                 Fakultas Sains dan Teknologi
                                 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                                 Samata-gowa.

B. Alat dan bahan
1.      Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah oven, otoklaf, bunsen, cawan Petri, labu Erlenmeyer, kompor gas, batang pengaduk, corong, gelas ukur dan neraca analitik.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan untuk percobaan kali ini adalah kertas, air, kapas, aluminium foil, dan aquadest.

C. Cara Kerja
            Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Menutup labu erlenmeyer dengan menggunakan kapas.
2.    Membungkus cawan petri dan labu erlenmeyer dengan menggunakan kertas.
3.    Memasukkan cawan petri dan labu erlenmeyer ke dalam otoklaf selama 2 jam dan untuk disterilkan pada suhu 1210C
                                                                                                                                                                   


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
No
Jenis
sterilisasi
Alat yang digunakan
Alat yang disterilkan
Suhu
Waktu
1


2
Sterilisasi kering (fisik)


Sterilisasi basah (fisik)
Oven



Otoklaf 
- Labu erlenmeyer
- Cawan petri

- Medium
- Air
160o C – 180o C

160o C - 180o C

160o C - 180o C
160o C - 180o C


7 menit



15-30 menit


B. Pembahasan
            Adapun pembahasan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam otoklaf atau sterilisator uap yang mudah diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit. Karena titik didih air menjadi 121 oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atmosfer pada ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi tersebut seringkali juga dinyatakan sebagai : 1 atm 15 menit. Pada tempat-tempat yang lebih tingginya diperlukan tekanan lebih besar untuk mencapai suhu 121 oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya tekanan, lebih baik menyatakan bahwa keadaan steril dicapai dengan cara mempertahankan suhu 121oC selama 15 menit[1].
            Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum, air suling, peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahan-bahan dari karet[2].
Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah :
a. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang sterilisator.
b. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu kosong harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya.
c.  Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap.
d. Suhu sebagaimana yang terukur oleh thermometer harus mencapai 121 oC dan dipertahankan setinggi itu 15 menit[3].
2. Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak merusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin, minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven[4].
Pada praktikum ini metode sterilsasi  yang dilakukan adalah sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasi kering adalah sterilisasi dengan udara panas dan alat yang digunakan adalah oven (hot air sterilizer). Cara ini umum dilakukan untuk mensterilkan peralatan gelas. Dibandingkan pemanasan basah, pemanasan kering kurang efisien dan membutuhkan suhu yang lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi. Hal ini disebabkan karena tanpa kelembaban maka tidak ada panas laten. Pemanasan kering dapat menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi komponen-komponen di dalam sel. Waktu yang diperlukan untuk sterilisasi kering pada suhu 1600C-1800C dalam waktu 7 menit. Keuntungan dari pemanasan kering adalah tidak adanya uap air yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan. Kemudian metode kedua yang dilakukan adalah sterilisasi basah adalah sterilisasi dengan uap air bertekanan. Alat yang digunakan adalah otoklaf, umumnya material yang disterilkan berupa berupa medium, air dan sebagainya. Sedangkan waktu dan suhu yang di perlukan untuk sterilisasi basah pada suhu 1600-1800C dalam waktu 15-30 menit. Cara pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme terutama karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk enzim-enzim didalam sel[5].




2Ibid.
                3Ibid.

[4] Ibid.
[5]“sterilisasi”http/Blue_spirit.com(07 november 2009).
                                                                                                                                                           

DAFTAR PUSTAKA

Riandi. Teknik Laboratorium. Jakarta: Erlangga. 2004.
Schlegel G. Hans. Mikrobiologi Umum Edisi 6. Yogyakarta: Gadjah Mada, University Press. 1994.

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html,http://www.blogcatalog.com/directory/education_and_training/secondary (04 November 2009). 

Anonim,Sterilisasi/secara/fisika.html, http://www.finderonly.com (04 November 2009).

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.blogcatalog.com/directory/education_and_training/secondary (04 November 2009). 

Anonim,Sterilisasi/secara/kimia.htm,http://www.mypagerank.net/seomonitor37433.html (04 November 2009).

Suriawira. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa; Bandung. 1983.
Yusriani, dr. Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi. UIT; Makassar. 2008.




0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.