Senin, 26 Desember 2011

Laporan Genetika (pemeliharaan lalat buah)




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera, (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental (walaupun banyak jenis lalat-lalat buah lainnya) dan merupakan organisme model yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan. Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berbiak (hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya), mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati[1].
Lalat buah (Drosophila melanogaster) baru akan kawin setelah berumur 8 jam. Dengan demikian, hewan betina sudah dapat bertelur keesokan harinya. Seekor Drosophila melanogaster  betina sanggup menghasilkan sekitar 50-75 butir telur sehari atau sekitar 400-500 telur dalam 10 hari. Telur tersebut berwarna putih susu, berbentuk bulat panjang berukuran sekitar 0,5 mm[2].


B.     Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui siklus hidup lalat buah (Drosophila melanogaster).









[1]Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_berbentuk_serangga (02 Desember 2009).
[2]Wildan Yatim, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito. h. 31.
                                                                                                                                                        

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera, (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental (walaupun banyak jenis lalat-lalat buah lainnya) dan merupakan organisme model yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan. Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berbiak (hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya), mudah pemeliharaannya, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati[1].
Ciri umum lainnya dari Dhrosophila melanogaster, antara lain :
1.    memiliki mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwarna merah
2.    memiliki warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang
3.    berukuran kecil antara 3-5 mm (jantan dan betina memiliki ukuran yang berbeda)
4.    Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
5.    Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
Drosophila melanogaster merupakan salah satu hewan yang sering digunakan sebagai model percobaan genetika sejak tahun 1910an. Dhrosophila melanogaster berasal dari filum Arthropoda, kelas Insekta, dan Ordo Diptera. Spesies ini di Indonesia dikenal sebagai lalat buah yaitu jenis lalat yang dapat ditemui di sekitar buah-buahan yang mulai membusuk. Selain itu, Drosophila melanogaster termasuk dalam sub-ordo Cyclophorpha, pengelompokkan lalat yang pada pupanya terdapat kulit instar 3, dan termasuk dalam seri Acaliptra (imago menetas dan keluar dari bagian interior pupanya). Jenis Drosophila melanogaster yang terdapat di Indonesia kira-kira ada 600 jenis dan di Pulau Jawa terdapat 120 jenis yang berasal dari class Dhrosopilidae. Drosophila melanogaster yang sering ditemukan di Indonesia dan Asia adalah Drosophila melanogaster ananasae, kikawai, malerkotliana, repleta, hypocausta, dan imigran[2].
Lalat Buah (Drosophila melanogaster) mungkin bagi kebanyakan orang merupakan hewan yang mengganggu dan menjijikan apalagi hewan ini sering kali menjadi musuh bagi para penjual buah-buahan maupun penjual minuman “jus”. Kehadirannya akan membuat para pembeli enggan membeli buah atau jus bila tempat menyimpan buah-buahan ataupun sisa buah yang busuk atau kulit buah yang dibuang di tempat sampah banyak dikerumuni oleh lalat ini. Namun siapa sangka, lalat buah di tangan orang biologi terutama bagi orang yang berkecimpung dalam bidang genetika justru lalat buah menjadi “hewan primadona”. Lalat ini memegang peranan yang penting dalam beberapa pengujian genetika, seperti dalam pengujian Hipotesis Mendel[3].
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila sp. ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila sp, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. Setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen[4].
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini.
 
Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa[5].
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut[6].
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior[7].
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago[8].
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa[9].
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa[10].



[1]Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_berbentuk_serangga (02 Desember 2009).
[2]Wildan Yatim, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito. h. 32.
[4]Borror.J.D,Triplehorn, Pengenalan Pengajaran Serangga. 1992. Universitas Gadjah Mada Press:Yogyakarta. h. 56.

[5]Siklus hidup, http://id.wordpress.com/ (02 Desember 2009). 
[6]Siklus hidup, http//zarzen.wordpress.com/2008/09/27/hello-word/ (02 Desember 2009).
[7]Ibid.  
[8]Ibid.  
[9]Ibid.  
[10]Ibid.
                                                                                                                                                       


BAB III
METODE KERJA

A.    Waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah :
Hari / tanggal            : jum’at  20 november 2009
Pukul                         : 15.00 -16.30 WITA
Tempat                      : Laboratorium Biologi Lantai III Gedung B
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata-Gowa.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah botol kultur yang berisi medium, cawan petri, botol eterasi, kuas kecil, dan bantalan karet.
2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah lalat buah (Drosophila melanogaser) jantan dan betina, medium kertas.

C.    Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah:
1.    Menyediakan botol kultur yang sudah berisi medium.
2.    Meletakkan botol kultur tersebut di tempat yang banyak terdapat Drosophila melanogaster, misalnya di tempat sampah atau dekat buah-buahan yang ranum.
3.    Apabila jumlah lalat yang masuk hanya sedikit, gunakan kantung plastik, yang agak besar dan tempatkan dengan mulut dibawah pada bak sampah atau buah-buahan ranum yang dihinggapi Drosophila melanogaster, dan ketuklah bak sampah tersebut hingga lalat bertebaran masuk kedalam kantung plastik, baru pindahkan kedalam botol medium. Usahakan agar terdapat sekitar 2 pasang Drosophila melanogaster.
4.    Memberi catatan pada botol tersebut mengenai waktu dan tempat pengumpulan.
5.    Mengamati perubahan yang terjadi pada medium, dan catatlah kapan saudara mulai melihat adanya telur, larva, dari instar hingga terbentuknya imago dengan pengamatan secara periodik sekitar 4-6 jam sekali.
6.    Mencatat apabila dalam biakan terdapat lebih dari satu spesies Drosophila melanogaster.
7.    Membandigkan  hasilnya dengan siklus hidup Drosphila melanogaster.
                                                                                                                                                     

DAFTAR PUSTAKA

Drosophila melanogaster, http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:rintisan_ berbentuk_ serangga (02 Desember 2009).


Siklus hidup, http://id.wordpress.com/ (02 Desember 2009). 
Siklus hidup, http//zarzen.wordpress.com/2008/09/27/hello-word/ (02 Desember 2009).

Triana Silvia, Pengaruh Pemberian Berbagai  Konsenterasi  Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva  Drosophila. 2003, Bandung: Jurusan  Biologi. Universitas Padjadjaran.

Triplehorn Borror.J.D, 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Universitas Gadjah Mada Press: Yogyakarta.

Yatim Wildan, 1996. Genetika. Bandung : Penerbit Tarsito.




0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.