Senin, 26 Desember 2011

Laporan Ekologi Tumbuhan (Adaptasi)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
pengaruh adaptasi mengakibatkan sifat-sifat karaktersitik struktural dan fungsional terlihat seolah-olah direkayasa secara khusus untuk meberikan peluang agar berhasil dalam habitat tertentu. Sifat-sifat karakteristik merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan. Adaptasi terhadap lingkungan dapat berlangsung pada berbagai tingkatan organisasi, misalnya adaptasi dalam tingkah laku dalam bentuk perilaku sedemikian rupa yang menunjang keberhasilan kemampuan untuk mengeksploitasi habitat khusus atau tertentu.
Adaptasi anatomik dimana struktur anatomi organisme terlihat sangat sesuai dengan modus kehidupannya, adaptasi fisiologik yaitu suatu adaptasi terhadap fungsi-fungsi vital dilakukan sebagai refleksi kondisi lingkungan yang dihadapi oleh organisme yang bersangkutan dan adaptasi biokimia atau adaptasi tingkat molekuler. Adaptasi biokimia tidak mudah terlihat karena melibatkan perubahan molekuler, kecepatan dan pola rangkaian reaksi-reaksi.
Berdasarkan hal tersebut di atas sehingga praktikum ini dilaksanakan sebagai salah satu alternatif untuk dapat mengetahui jenis-jenis adaptasi dari tumbuhan, serta dapat membandingkannya dengan teori yang telah ada.


B.     Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Mengetahui adaptasi tanaman secara morfologi dan anatomi tumbuhan pada habitatnya.
2.      Membandingkan berbagai karakter morfologi dan anatomi tumbuhan berdasarkan adaptasinya terhadap air dalam habitatnya.


                                                                                                                                                                   


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Hidroponik berasal dari hydro (air) dan ponos (kerja), yang berarti pengerjaan air. Beberapa keuntungan hidroponik antara lain produksi tanaman lebih tinggi, tanaman lebih cepat tumbuh, dan pemakaian pupuk lebih hemat. Media tanam merupakan salah satu syarat berlangsungnya kegiatan penanaman yang mempengaruhi hasil tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Bahan media tanam berdasar unsur penyusunnya terdiri bahan anorganik dan bahan organik. Sistem hidroponik berdasarkan media tanam yang digunakan, terdiri atas 3 metode, yaitu metode:kultur air, kultur pasir, dan kultur bahan porous. Kemudian sistem hidroponik ada yang membagi menjadi sistem hidroponik substrat, pemakaian sistem air dengan modifikasinya yaitu sistem ebb and flow, column culture, sistem NFT vertikal, dan famili drip irrigation system. Pada hidroponik secara komersial memerlukan green house atau rumah plastik. Desain rumah plastik, atap dan dinding rumah terbuat dari plastik UV. Konstruksi bangunannya terbuat dari kayu atau bambu. Keempat tepi rumah plastik ditutup dengan net atau screen. Dan pemasangan sprayer di atap untuk menurunkan suhu jika terlalu tinggi, dapat disebabkan oleh serangga tanaman[1].
Pembibitan tanaman sistem hidroponik dapat dilakukan secara generatif yaitu dengan menyemai biji dan secara vegetatif dengan menyetek bagian tanaman seperti daun, batang maupun umbi. Pemberian nutrisi yang lengkap sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Nutrisi yang dibutuhkan menjadi 2 golongan, yaitu makro nutrisi dan mikro nutrisi. Kualitas larutan nutrisi sangat menentukan keberhasilan hidroponik sedangkan kualitas tersebut tergantung pada konsentrasinya. Kesesuaian larutan nutrisi tanaman dapat diketahui melalui pengukuran aliran di dalam air, yang disebut dengan Electro Conductivity (EC)/conductivity Factor (cF). Selain itu dapat menggunakan total dissolved solids (TDS), yang satuannya dalam bentuk ppm (part per million). Penyiraman dan pemupukan (fertigasi) pada budidaya sistem hidroponik biasanya dilakukan secara bersamaan. Teknik fertigasi dapat dilakukan dengan manual atau sistem irigasi tetes. Selain itu di dalam fertigasi[2].
Pengaruh adaptasi mengakibatkan sifat-sifat karaktersitik struktural dan fungsional terlihat seolah-olah direkayasa secara khusus untuk meberikan peluang agar berhasil dalam habitat tertentu. Sifat-sifat karakteristik merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan. Adaptasi terhadap lingkungan dapat berlangsung pada berbagai tingkatan organisasi, misalnya adaptasi dalam tingkah laku dalam bentuk perilaku sedemikian rupa yang menunjang keberhasilan kemampuan untuk mengeksploitasi habitat khusus atau tertentu[3].
Adaptasi anatomik dimana struktur anatomi organisme terlihat sangat sesuai dengan modus kehidupannya, adaptasi fisiologik yaitu suatu adaptasi terhadap fungsi-fungsi vital dilakukan sebagai refleksi kondisi lingkungan yang dihadapi oleh organisme yang bersangkutan dan adaptasi biokimia atau adaptasi tingkat molekuler. Adaptasi biokimia tidak mudah terlihat karena melibatkan perubahan molekuler, kecepatan dan pola rangkaian reaksi-reaksi[4].
Media tanam merupakan untuk tumbuhya tanaman, untuk itu maka media tanaman harus sesuai dengan kebutuhan tanaman. Sesuai dengan kebutuhannya, secara umum media tanam tanaman hias dapat dibedakan menjadi beberapa kreteria yakni: tanaman yang suka kering (xerofit), tanaman yang suka agak lembab (mesofit) dan tanaman yang suka lembab (hidrofit). Anthurium termasuk tanaman yang suka media agak lembab. Untuk itu media tanamannya harus diambil dari bahan-bahan yang mamapu menahan air dengan baik tetapi tidak terlalu jenuh air[5].





[1]Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha, Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. 2001). H. 209.

[2]Ibid.
[3]Anonim. 2009. Adaptasi. http://www.wikipedia.com.
[4]Ibid
[5]Syafei, Eden Surasana,  Pengantar Ekologi Tumbuhan (Bandung :  ITB, 1990). H. 79.
                                                                                                                                                       


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Hidroponik berasal dari hydro (air) dan ponos (kerja), yang berarti pengerjaan air. Beberapa keuntungan hidroponik antara lain produksi tanaman lebih tinggi, tanaman lebih cepat tumbuh, dan pemakaian pupuk lebih hemat. Media tanam merupakan salah satu syarat berlangsungnya kegiatan penanaman yang mempengaruhi hasil tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Bahan media tanam berdasar unsur penyusunnya terdiri bahan anorganik dan bahan organik. Sistem hidroponik berdasarkan media tanam yang digunakan, terdiri atas 3 metode, yaitu metode:kultur air, kultur pasir, dan kultur bahan porous. Kemudian sistem hidroponik ada yang membagi menjadi sistem hidroponik substrat, pemakaian sistem air dengan modifikasinya yaitu sistem ebb and flow, column culture, sistem NFT vertikal, dan famili drip irrigation system. Pada hidroponik secara komersial memerlukan green house atau rumah plastik. Desain rumah plastik, atap dan dinding rumah terbuat dari plastik UV. Konstruksi bangunannya terbuat dari kayu atau bambu. Keempat tepi rumah plastik ditutup dengan net atau screen. Dan pemasangan sprayer di atap untuk menurunkan suhu jika terlalu tinggi, dapat disebabkan oleh serangga tanaman[1].
Pembibitan tanaman sistem hidroponik dapat dilakukan secara generatif yaitu dengan menyemai biji dan secara vegetatif dengan menyetek bagian tanaman seperti daun, batang maupun umbi. Pemberian nutrisi yang lengkap sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Nutrisi yang dibutuhkan menjadi 2 golongan, yaitu makro nutrisi dan mikro nutrisi. Kualitas larutan nutrisi sangat menentukan keberhasilan hidroponik sedangkan kualitas tersebut tergantung pada konsentrasinya. Kesesuaian larutan nutrisi tanaman dapat diketahui melalui pengukuran aliran di dalam air, yang disebut dengan Electro Conductivity (EC)/conductivity Factor (cF). Selain itu dapat menggunakan total dissolved solids (TDS), yang satuannya dalam bentuk ppm (part per million). Penyiraman dan pemupukan (fertigasi) pada budidaya sistem hidroponik biasanya dilakukan secara bersamaan. Teknik fertigasi dapat dilakukan dengan manual atau sistem irigasi tetes. Selain itu di dalam fertigasi[2].
Pengaruh adaptasi mengakibatkan sifat-sifat karaktersitik struktural dan fungsional terlihat seolah-olah direkayasa secara khusus untuk meberikan peluang agar berhasil dalam habitat tertentu. Sifat-sifat karakteristik merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan. Adaptasi terhadap lingkungan dapat berlangsung pada berbagai tingkatan organisasi, misalnya adaptasi dalam tingkah laku dalam bentuk perilaku sedemikian rupa yang menunjang keberhasilan kemampuan untuk mengeksploitasi habitat khusus atau tertentu[3].
Adaptasi anatomik dimana struktur anatomi organisme terlihat sangat sesuai dengan modus kehidupannya, adaptasi fisiologik yaitu suatu adaptasi terhadap fungsi-fungsi vital dilakukan sebagai refleksi kondisi lingkungan yang dihadapi oleh organisme yang bersangkutan dan adaptasi biokimia atau adaptasi tingkat molekuler. Adaptasi biokimia tidak mudah terlihat karena melibatkan perubahan molekuler, kecepatan dan pola rangkaian reaksi-reaksi[4].
Media tanam merupakan untuk tumbuhya tanaman, untuk itu maka media tanaman harus sesuai dengan kebutuhan tanaman. Sesuai dengan kebutuhannya, secara umum media tanam tanaman hias dapat dibedakan menjadi beberapa kreteria yakni: tanaman yang suka kering (xerofit), tanaman yang suka agak lembab (mesofit) dan tanaman yang suka lembab (hidrofit). Anthurium termasuk tanaman yang suka media agak lembab. Untuk itu media tanamannya harus diambil dari bahan-bahan yang mamapu menahan air dengan baik tetapi tidak terlalu jenuh air[5].





[1]Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha, Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. 2001). H. 209.

[2]Ibid.
[3]Anonim. 2009. Adaptasi. http://www.wikipedia.com.
[4]Ibid
[5]Syafei, Eden Surasana,  Pengantar Ekologi Tumbuhan (Bandung :  ITB, 1990). H. 79.
                                                                                                                                                      

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari/ Tanggal                    :  Rabu, 10 Februari 2010
Waktu                               : 11.00 – 13.00 WITA
Tempat                              : Lapangan Kampus II
                                            Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar   Samata, Gowa.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
         Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah kantong plastik dan mikroskop.
2.      Bahan
         Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah spesies tumbuhan hidrofit, mesofit, dan xerofit.




C.    Cara Kerja
           Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah :
1.    Mengamati habitus beberapa wakil species tumbuhan yang termasuk hidrofit, xerofit dan hidrofit..
2.    Mengamati struktur morfologinya
3.    Mengamati struktur anatomi dengan menggunakan mikroskop.

                                                                                                                                                          
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Adaptasi. http://www.wikipedia.com.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Tim Dosen. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Makassar : Universitas Islam Negeri alauddin. 2009.






0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Mega's Blogg and Powered by Blogger.